Breaking!
light_mode
Trending
Beranda » Artikel Ilmiah » Scroll Seperlunya, Hidup Sepenuhnya: Menjaga Kesehatan Mental di Era Media Sosial

Scroll Seperlunya, Hidup Sepenuhnya: Menjaga Kesehatan Mental di Era Media Sosial

  • account_circle TentangSehat.com
  • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
  • visibility 189
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pernahkah kamu merasa lelah, cemas, atau overthinking setelah terlalu lama membuka media sosial? Awalnya hanya ingin melihat satu video atau membaca satu berita, tetapi tanpa sadar jari terus menggulir layar selama berjam-jam.

Fenomena ini dikenal dengan istilah doomscrolling, yaitu kebiasaan terus-menerus melihat berita negatif atau konten yang memicu kecemasan di media sosial. Tidak sedikit orang yang akhirnya mengalami digital burnout, kondisi kelelahan mental akibat paparan dunia digital secara berlebihan.

Penelitian menunjukkan bahwa doomscrolling berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, stres, bahkan menurunnya kesejahteraan psikologis (Abdul Kadir dan Muh. Aoriyanto Baso, 2026).

Di Indonesia sendiri, kebiasaan scrolling tanpa henti semakin marak terjadi, terutama pada remaja dan dewasa muda yang menghabiskan waktu berjam-jam di TikTok, Instagram, atau X.

Yuk, coba lanjut cari tahu lagi—karena bisa jadi apa yang selama ini kamu anggap ‘sekadar main HP’ ternyata sedang memengaruhi kesehatan mentalmu. Kesehatan mental yang baik yaitu ketika kondisi seseorang mampu mengelola emosi, berpikir jernih, menghadapi tekanan hidup, dan tetap berfungsi dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.

Saat kesehatan mental terjaga, seseorang akan lebih produktif, mampu membangun hubungan sosial yang sehat, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik (Pamela Hendra Heng, dkk, 2023).

Sebaliknya, jika kesehatan mental terganggu akibat penggunaan media sosial yang berlebihan, seseorang dapat mengalami kecemasan, sulit tidur, emosi tidak stabil, kehilangan motivasi, hingga merasa kesepian walaupun terus terhubung secara online.

Informasi negatif yang terus-menerus membuat otak berada dalam kondisi siaga berkepanjangan, sehingga individu lebih sulit merasakan ketenangan dan rasa aman secara psikologis (Reza Shahab, et al, 2024).

Inilah alasan mengapa aktivitas penerimaan informasi media sosial sangat berkaitan dengan kesehatan mental: semakin seseorang tenggelam dalam arus informasi negatif, semakin sulit otak mendapatkan rasa aman dan tenang.

Agar tidak terjebak dalam digital burnout dan doomscrolling, masyarakat perlu mulai belajar mengenali tanda-tanda yang muncul pada dirinya sendiri.

Misalnya, merasa gelisah ketika jauh dari ponsel, sulit berhenti scrolling, sering membandingkan diri dengan orang lain di media sosial, mudah marah, sulit fokus belajar atau bekerja, serta merasa lelah meskipun hanya bermain HP seharian.

Jika tanda-tanda tersebut mulai muncul, itu bisa menjadi sinyal bahwa tubuh dan pikiran membutuhkan istirahat digital. Salah satucara mengatasi hal tersebut, yang dapat dilakukan adalah digital detox, yaitu upaya mengurangi penggunaan perangkat digital dan media sosial untuk sementara waktu agar pikiran menjadi lebih tenang.

Baca Juga: 10 Cara Mengelola Stres yang Ampuh dan Mudah

Digital detox memiliki dampak positif dalam mengurangi penggunaan media sosial dan gejala depresi (Theda Radtke, et, al, 2022).

Selain itu, digital detox atau puasa media sosial membantu generasi Milenial dan Gen Z mengurangi stres, kecemasan, kelelahan emosional, serta meningkatkan kualitas tidur, fokus, dan hubungan sosial di kehidupan nyata (Lies Ambasari, dkk ,2025).

Digital detox dapat dilakukan dengan langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti membatasi waktu bermain media sosial maksimal 1–2 jam per hari, tidak membuka HP saat bangun tidur atau sebelum tidur, mematikan notifikasi yang tidak penting, mengisi waktu luang dengan olahraga, membaca buku, berbicara langsung dengan keluarga, atau melakukan hobi yang disukai.

Pembatasan penggunaan media sosial selama dua minggu mampu menurunkan kecanduan smartphone dan media sosial, serta meningkatkan kualitas tidur, kesejahteraan psikologis, hubungan sosial, dan kepuasan hidup pada dewasa muda.

Hal tersebut dapat membantu individu lebih sadar terhadap kebiasaan penggunaan media sosial dan mendorong perubahan kecil yang lebih sehat dalam kehidupan sehari-hari (Paige Coyne dan Sarah J. Woodruff, 2023).

Dengan cara sederhana ini, pikiran akan memiliki kesempatan untuk ‘bernapas’ dari derasnya informasi digital yang terus masuk setiap hari.

Kini saatnya masyarakat lebih sadar bahwa menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Jangan sampai hidup kita habis hanya untuk terus menatap layar tanpa benar-benar menikmati kehidupan nyata.

Digital detox bukan berarti membenci teknologi, melainkan belajar menggunakan media sosial dengan lebih bijak dan sehat.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang mengurangi intensitas penggunaan media sosial cenderung memiliki tingkat stres lebih rendah, kualitas tidur lebih baik, dan kesejahteraan psikologis yang meningkat.

Digital detoxification efektif meningkatkan subjective well-being dan psychological well-being pada pengguna smartphone, sehingga dapat membantu memperbaiki kesejahteraan mental individu (Sameer Ansari, et al, 2024).

Hasilnya banyak orang merasa hidupnya lebih bermakna setelah mulai membatasi konsumsi konten negatif dan lebih fokus pada hubungan nyata di sekitarnya.

Dengan mengurangi scrolling berlebihan, kita memberi ruang bagi pikiran untuk lebih tenang, hati lebih damai, dan hidup terasa lebih nyata. Mulailah dari langkah kecil hari ini, karena kesehatan mental yang baik dibangun dari kebiasaan sehari-hari yang sederhana namun konsisten.

Baca Juga: Ketika Iman Tidak Menghapus Penderitaan: Memahami Religiusitas dan Kesehatan Mental

Pada akhirnya, media sosial hanyalah alat—kitalah yang menentukan apakah alat tersebut membantu kehidupan atau justru menguras kesehatan mental kita. Di era digital seperti sekarang, memiliki kesadaran tentang pentingnya menjaga kesehatan mental adalah hal yang sangat perlu dilakukan.

Mengurangi waktu scrolling, memberi jeda untuk diri sendiri, dan kembali menikmati kehidupan nyata merupakan langkah sederhana yang berdampak besar bagi kesehatan mental.

Jadi, mulai hari ini, mari belajar untuk scroll seperlunya dan hidup sepenuhnya, karena menjaga kesehatan mental tidak selalu dimulai dari hal besar, tetapi dari keputusan kecil sehari-hari untuk lebih peduli pada diri sendiri.


Penulis: Gesya Arsih Windhani, S.Psi.
Mahasiswa Magister Sains Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka

Shahabang, R., Hyeyeon Hwang., Emma., Thomas., Mara S. Aruguete ., Lynn E. McCutcheon ., Gábor Orosz ., Abbas Ali Hossen.,Khanzadeh., Benyamin Mokhtari Chirani ., Ágnes Zsila. Doomscrolling evokes existential anxiety and fosters pessimism about human nature? Evidence from Iran and the United States. Elseiver : Computers in Human Behavior Reports 15 (2024) 100438.

Radtke, T., Theresa Apel., Konstantin Schenkel., Jan Keller., Eike von Lindern. Digital detox: An effective solution in the smartphone era? A systematic literature review. Mobile Media & Communication. (2022). Vol. 10 (2) 190–215. ps://doi.org/10.1177/20501579211028647.

Ambarsari, L., Irwandi ., Endang Fatmawati., Pipit Aprilia Susanti., Ahmad Rosikhul Fahmi., Digital Detox: Dampak Positif Puasa Media Sosial Terhadap Kesehatan Mental Generasi Milenial Dan Gen Z. 2025. Jurnal Ilmiah Nasional Vol.  No. 1.

Coyne, P., Sarah J Woodruff. Taking a Break: The Effects of Partaking in a Two-Week Social Media Digital Detox on Problematic Smartphone and Social Media Use, and Other Health-Related Outcomes among Young Adults. (2023). doi: 10.3390/bs13121004.

Ansari, S., Naved Iqbal, Ahmad Azeem, Kainaat Danyal. (2024). Improving Well-Being Through Digital Detoxification Among Social Media Users: A Systematic Review and Meta-Analysis. Cyberpsychol Behav Soc Network ;27(11):753-770. doi: 10.1089/cyber.2023.0742.

Kadir, Abdul., Muh. Apriyanto Baso. (2026). Manifestasi Kecemasan dan Depresi dalam Perilaku Digital: Analisis Psikologis terhadap Siklus Doomscrolling pada Mahasiswa.  Vol. 5 No. 1 : Jurnal Asosiatif.  Hal. 43-50.

Pamela Hendra Heng., Rahmah Hastuti., Shania Kintani., Jenifer. (2023). Relationship Between Quality Of Life And Mental Health Mediated By Social Support In Millennials. International Journal Of Application On Social Science and Humanities. Vol 1.No. 3. https://doi.org/10.24912/ijassh.v1i3.28257

za Shabahang a, Hyeyeon Hwang., Emma., Thomas., Mara S. Aruguete ., Lynn E. McCutcheon ., Gábor Orosz ., Abbas Ali Hossen.,Khanzadeh ., Benyamin Mokhtari Chirani ., Ágnes Zsila.

  • Penulis: TentangSehat.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Manfaat Kunyit da Jahe

    7 Manfaat Kunyit dan Jahe serta Temulawak yang Mengejutkan!

    • calendar_month Sabtu, 3 Mei 2025
    • account_circle Redaksi TentangSehat.com
    • visibility 696
    • 0Komentar

    Manfaat kunyit dan jahe serta temulawak sudah menjadi rahasia warisan nenek moyang yang kini terbukti secara ilmiah. Kamu yang sedang mencari solusi alami untuk menjaga kesehatan tubuh wajib tahu bagaimana ramuan herbal ini bisa memberikan dampak luar biasa ketika dikonsumsi secara teratur. Senyawa Aktif untuk Perlindungan Maksimal Kunyit mengandung kurkumin, jahe memiliki gingerol, dan temulawak […]

  • Mahasiswa Kebidanan UM Surabaya mengedukasi edukasi PHBS siswa di SD Bahreisy melalui penyuluhan kesehatan

    Tanamkan PHBS Sejak Dini, Mahasiswa Kebidanan UM Surabaya Edukasi Siswa SD Bahreisy

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 77
    • 0Komentar

    SURABAYA – Menanamkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) perlu dilakuka nsejak usiadini. Upaya tersebut dilakukan oleh mahasiswi Program Studi S1 Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) melalui kegiatan penyuluhan kesehatan di SD Bahreisy. Kegiatan yang mengangkat tema Kesehatan Diri: Cuci Tangan dan Gosok Gigi itu diikuti siswa dan siswi sekolah dasar […]

  • Generasi Bebas Stunting

    Barru dan Pertaruhan Generasi Bebas Stunting

    • calendar_month Minggu, 28 Sep 2025
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 518
    • 0Komentar

    Stunting, Taruhan Masa Depan Stunting bukan sekadar masalah gizi, tetapi taruhan bagi masa depan generasi emas di masa mendatang. Stunting masih menjadi persoalan serius di Indonesia, termasuk di Provinsi Sulawesi Selatan. Berdasarkan data SSGI Kemenkes RI (2024), prevalensi stunting di Provinsi Sulawesi Selatan mencapai 23,1 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 19,8 persen. Hal […]

  • Emotional Exhaustion

    Ketika Jiwa Lelah: Memahami Apa itu Emotional Exhaustion

    • calendar_month Selasa, 25 Nov 2025
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 827
    • 0Komentar

    Pendahuluan Di tengah meningkatnya tuntutan hidup, pekerjaan yang semakin padat, serta tekanan untuk terus meningkatkan produktivitas di dunia kerja, individu dewasa modern sering kali terjebak dalam peran ganda sebagai pekerja, orang tua, pasangan, dan anggota sosial. Selain itu, hiruk-pikuk dunia digital yang membuat setiap orang terhubung tanpa henti semakin menambah beban. Semua faktor ini berkontribusi […]

  • media edukasi kesehatan

    Edukasi Manajemen Nyeri Komplementer Distraksi Audiovisual pada Pasien Rheumatoid Arthritis di Desa Lidah Tanah Serdang Bedagai

    • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 330
    • 0Komentar

    Kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan di Desa Lidah Tanah Serdang Bedagai yang diketahui Bapak Mulidan, S.Kep, Ns, M.Kep selaku Dosen Prodi Sarjana Keperawatan dan Profesi Ners. Kegiatan pengabdian masyarakat dengan rangkaian acara memberikan penyuluhan berjudul “Penerapan terapi komplementer dengan menggunakan distraksi audiovisual untuk menurunkan intesitas nyeri yang dirasakan oleh pasien rheumatoid arthtritis” pada Kamis (22/01) pukul […]

  • Digigit Anjing Ini Pertolongan Pertama yang Tepat dan Kapan Harus ke Dokter

    Digigit Anjing? Ini Pertolongan Pertama yang Tepat dan Kapan Harus ke Dokter

    • calendar_month Senin, 29 Jun 2026
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 161
    • 0Komentar

    Digigit anjing merupakan kondisi yang tidak boleh dianggap sepele. Meski luka terlihat kecil, gigitan anjing dapat menyebabkan perdarahan, kerusakan jaringan, infeksi bakteri, hingga meningkatkan risiko penularan rabies apabila berasal dari hewan yang terinfeksi. Oleh karena itu, setiap luka akibat gigitan anjing memerlukan penanganan yang cepat dan tepat untuk mencegah komplikasi yang lebih serius. Langkah pertolongan […]

expand_less