Breaking!
light_mode
Trending
Beranda » Artikel Ilmiah » Scroll Seperlunya, Hidup Sepenuhnya: Menjaga Kesehatan Mental di Era Media Sosial

Scroll Seperlunya, Hidup Sepenuhnya: Menjaga Kesehatan Mental di Era Media Sosial

  • account_circle TentangSehat.com
  • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
  • visibility 130
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pernahkah kamu merasa lelah, cemas, atau overthinking setelah terlalu lama membuka media sosial? Awalnya hanya ingin melihat satu video atau membaca satu berita, tetapi tanpa sadar jari terus menggulir layar selama berjam-jam.

Fenomena ini dikenal dengan istilah doomscrolling, yaitu kebiasaan terus-menerus melihat berita negatif atau konten yang memicu kecemasan di media sosial. Tidak sedikit orang yang akhirnya mengalami digital burnout, kondisi kelelahan mental akibat paparan dunia digital secara berlebihan.

Penelitian menunjukkan bahwa doomscrolling berkaitan dengan meningkatnya kecemasan, stres, bahkan menurunnya kesejahteraan psikologis (Abdul Kadir dan Muh. Aoriyanto Baso, 2026).

Di Indonesia sendiri, kebiasaan scrolling tanpa henti semakin marak terjadi, terutama pada remaja dan dewasa muda yang menghabiskan waktu berjam-jam di TikTok, Instagram, atau X.

Yuk, coba lanjut cari tahu lagi—karena bisa jadi apa yang selama ini kamu anggap ‘sekadar main HP’ ternyata sedang memengaruhi kesehatan mentalmu. Kesehatan mental yang baik yaitu ketika kondisi seseorang mampu mengelola emosi, berpikir jernih, menghadapi tekanan hidup, dan tetap berfungsi dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.

Saat kesehatan mental terjaga, seseorang akan lebih produktif, mampu membangun hubungan sosial yang sehat, dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik (Pamela Hendra Heng, dkk, 2023).

Sebaliknya, jika kesehatan mental terganggu akibat penggunaan media sosial yang berlebihan, seseorang dapat mengalami kecemasan, sulit tidur, emosi tidak stabil, kehilangan motivasi, hingga merasa kesepian walaupun terus terhubung secara online.

Informasi negatif yang terus-menerus membuat otak berada dalam kondisi siaga berkepanjangan, sehingga individu lebih sulit merasakan ketenangan dan rasa aman secara psikologis (Reza Shahab, et al, 2024).

Inilah alasan mengapa aktivitas penerimaan informasi media sosial sangat berkaitan dengan kesehatan mental: semakin seseorang tenggelam dalam arus informasi negatif, semakin sulit otak mendapatkan rasa aman dan tenang.

Agar tidak terjebak dalam digital burnout dan doomscrolling, masyarakat perlu mulai belajar mengenali tanda-tanda yang muncul pada dirinya sendiri.

Misalnya, merasa gelisah ketika jauh dari ponsel, sulit berhenti scrolling, sering membandingkan diri dengan orang lain di media sosial, mudah marah, sulit fokus belajar atau bekerja, serta merasa lelah meskipun hanya bermain HP seharian.

Jika tanda-tanda tersebut mulai muncul, itu bisa menjadi sinyal bahwa tubuh dan pikiran membutuhkan istirahat digital. Salah satucara mengatasi hal tersebut, yang dapat dilakukan adalah digital detox, yaitu upaya mengurangi penggunaan perangkat digital dan media sosial untuk sementara waktu agar pikiran menjadi lebih tenang.

Baca Juga: 10 Cara Mengelola Stres yang Ampuh dan Mudah

Digital detox memiliki dampak positif dalam mengurangi penggunaan media sosial dan gejala depresi (Theda Radtke, et, al, 2022).

Selain itu, digital detox atau puasa media sosial membantu generasi Milenial dan Gen Z mengurangi stres, kecemasan, kelelahan emosional, serta meningkatkan kualitas tidur, fokus, dan hubungan sosial di kehidupan nyata (Lies Ambasari, dkk ,2025).

Digital detox dapat dilakukan dengan langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti membatasi waktu bermain media sosial maksimal 1–2 jam per hari, tidak membuka HP saat bangun tidur atau sebelum tidur, mematikan notifikasi yang tidak penting, mengisi waktu luang dengan olahraga, membaca buku, berbicara langsung dengan keluarga, atau melakukan hobi yang disukai.

Pembatasan penggunaan media sosial selama dua minggu mampu menurunkan kecanduan smartphone dan media sosial, serta meningkatkan kualitas tidur, kesejahteraan psikologis, hubungan sosial, dan kepuasan hidup pada dewasa muda.

Hal tersebut dapat membantu individu lebih sadar terhadap kebiasaan penggunaan media sosial dan mendorong perubahan kecil yang lebih sehat dalam kehidupan sehari-hari (Paige Coyne dan Sarah J. Woodruff, 2023).

Dengan cara sederhana ini, pikiran akan memiliki kesempatan untuk ‘bernapas’ dari derasnya informasi digital yang terus masuk setiap hari.

Kini saatnya masyarakat lebih sadar bahwa menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Jangan sampai hidup kita habis hanya untuk terus menatap layar tanpa benar-benar menikmati kehidupan nyata.

Digital detox bukan berarti membenci teknologi, melainkan belajar menggunakan media sosial dengan lebih bijak dan sehat.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang mengurangi intensitas penggunaan media sosial cenderung memiliki tingkat stres lebih rendah, kualitas tidur lebih baik, dan kesejahteraan psikologis yang meningkat.

Digital detoxification efektif meningkatkan subjective well-being dan psychological well-being pada pengguna smartphone, sehingga dapat membantu memperbaiki kesejahteraan mental individu (Sameer Ansari, et al, 2024).

Hasilnya banyak orang merasa hidupnya lebih bermakna setelah mulai membatasi konsumsi konten negatif dan lebih fokus pada hubungan nyata di sekitarnya.

Dengan mengurangi scrolling berlebihan, kita memberi ruang bagi pikiran untuk lebih tenang, hati lebih damai, dan hidup terasa lebih nyata. Mulailah dari langkah kecil hari ini, karena kesehatan mental yang baik dibangun dari kebiasaan sehari-hari yang sederhana namun konsisten.

Baca Juga: Ketika Iman Tidak Menghapus Penderitaan: Memahami Religiusitas dan Kesehatan Mental

Pada akhirnya, media sosial hanyalah alat—kitalah yang menentukan apakah alat tersebut membantu kehidupan atau justru menguras kesehatan mental kita. Di era digital seperti sekarang, memiliki kesadaran tentang pentingnya menjaga kesehatan mental adalah hal yang sangat perlu dilakukan.

Mengurangi waktu scrolling, memberi jeda untuk diri sendiri, dan kembali menikmati kehidupan nyata merupakan langkah sederhana yang berdampak besar bagi kesehatan mental.

Jadi, mulai hari ini, mari belajar untuk scroll seperlunya dan hidup sepenuhnya, karena menjaga kesehatan mental tidak selalu dimulai dari hal besar, tetapi dari keputusan kecil sehari-hari untuk lebih peduli pada diri sendiri.


Penulis: Gesya Arsih Windhani, S.Psi.
Mahasiswa Magister Sains Psikologi Universitas Katolik Soegijapranata


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka

Shahabang, R., Hyeyeon Hwang., Emma., Thomas., Mara S. Aruguete ., Lynn E. McCutcheon ., Gábor Orosz ., Abbas Ali Hossen.,Khanzadeh., Benyamin Mokhtari Chirani ., Ágnes Zsila. Doomscrolling evokes existential anxiety and fosters pessimism about human nature? Evidence from Iran and the United States. Elseiver : Computers in Human Behavior Reports 15 (2024) 100438.

Radtke, T., Theresa Apel., Konstantin Schenkel., Jan Keller., Eike von Lindern. Digital detox: An effective solution in the smartphone era? A systematic literature review. Mobile Media & Communication. (2022). Vol. 10 (2) 190–215. ps://doi.org/10.1177/20501579211028647.

Ambarsari, L., Irwandi ., Endang Fatmawati., Pipit Aprilia Susanti., Ahmad Rosikhul Fahmi., Digital Detox: Dampak Positif Puasa Media Sosial Terhadap Kesehatan Mental Generasi Milenial Dan Gen Z. 2025. Jurnal Ilmiah Nasional Vol.  No. 1.

Coyne, P., Sarah J Woodruff. Taking a Break: The Effects of Partaking in a Two-Week Social Media Digital Detox on Problematic Smartphone and Social Media Use, and Other Health-Related Outcomes among Young Adults. (2023). doi: 10.3390/bs13121004.

Ansari, S., Naved IqbalAhmad AzeemKainaat Danyal. (2024). Improving Well-Being Through Digital Detoxification Among Social Media Users: A Systematic Review and Meta-Analysis. Cyberpsychol Behav Soc Network ;27(11):753-770. doi: 10.1089/cyber.2023.0742.

Kadir, Abdul., Muh. Apriyanto Baso. (2026). Manifestasi Kecemasan dan Depresi dalam Perilaku Digital: Analisis Psikologis terhadap Siklus Doomscrolling pada Mahasiswa.  Vol. 5 No. 1 : Jurnal Asosiatif.  Hal. 43-50.

Pamela Hendra Heng., Rahmah Hastuti., Shania Kintani., Jenifer. (2023). Relationship Between Quality Of Life And Mental Health Mediated By Social Support In Millennials. International Journal Of Application On Social Science and Humanities. Vol 1.No. 3. https://doi.org/10.24912/ijassh.v1i3.28257

za Shabahang a, Hyeyeon Hwang., Emma., Thomas., Mara S. Aruguete ., Lynn E. McCutcheon ., Gábor Orosz ., Abbas Ali Hossen.,Khanzadeh ., Benyamin Mokhtari Chirani ., Ágnes Zsila.

  • Penulis: TentangSehat.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sikat Gigi Bersama

    SIGIBER Tanamkan Senyum Sehat Sejak Dini di Nagari Pauh Kamang Mudiak

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 320
    • 0Komentar

    Agam, MMI – Kesadaran menjaga kesehatan gigi perlu dibangun sejak anak masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Berangkat dari semangat itu, mahasiswa KKN Pauh Kamang Mudiak Universitas Andalas menggelar program edukasi SIGIBER (Sikat Gigi Bersama) di TK Aisyiyah Bustanul Athfal, Nagari Pauh Kamang Mudiak, Kecamatan Kamang Magek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada Kamis (08/01/2026). Kegiatan […]

  • Permasalahan Sampah di Indonesia

    Menanggulangi Permasalahan Sampah di Indonesia

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 110
    • 0Komentar

    Indonesia merupakan negara terluas di dunia dengan peringkat ke 15 berdasarkan perhitungan dari jumlah wilayah darat dan laut. Luas negara Indonesia mencapai 1,9 juta km² untuk wilayah daratannya. Sebagaimana luasnya wilayah suatu negara, maka jumlah penduduk Indonesia pun sangat tinggi. Penduduk Indonesia di tahun 2026 diperkirakan menembus 287-288 juta jiwa. Meningkatnya jumlah populasi di Indonesia […]

  • Hipertensi dan Diabetes

    Program Inovasi “PEPET SI DIA” (Pemantauan Penderita Hipertensi dan Diabetes dengan Kartu Merah Muda) di Puskesmas Patikraja

    • calendar_month Minggu, 22 Mar 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 236
    • 0Komentar

    Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan prevalensi hipertensi (HT) di Indonesia pada tahun 2023 mencapai 30,8% dan prevalensi diabetes melitus (DM) sebesar 1,7%. Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi hipertensi meningkat dari 25,8% menjadi 34,1% pada usia 18 tahun ke atas, sedangkan prevalensi DM meningkat dari 6,9% menjadi 10,9% pada usia ≥ 15 tahun. Dari data program […]

  • Cara Membangun Personal Branding sebagai Dokter di Era Media Sosial

    Cara Membangun Personal Branding sebagai Dokter di Era Media Sosial

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 62
    • 0Komentar

    Dahulu, seorang dokter dikenal terutama dari rekomendasi pasien, reputasi rumah sakit, jaringan profesional, dan komunikasi dari mulut ke mulut. Sekarang, perjalanan masyarakat mencari informasi tentang dokter telah berubah. Seseorang mungkin mengetahui nama dokter dari video edukasi kesehatan, artikel di internet, podcast, seminar, unggahan Instagram, atau diskusi profesional di LinkedIn. Setelah itu, mereka mencari nama dokter […]

  • cara mengelola stres

    10 Cara Mengelola Stres yang Ampuh dan Mudah

    • calendar_month Selasa, 5 Des 2023
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 524
    • 0Komentar

    Stres adalah reaksi alami tubuh terhadap tekanan atau tantangan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun bisa menjadi dorongan untuk menghadapi situasi yang menantang, stres yang berkepanjangan dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan fisik dan mental kita. Nah mari kita cari tahu cara mengelola stres pada artikel berikut. Jadi penting untuk mengelola stres dengan cara yang […]

  • Generasi Bebas Stunting

    Barru dan Pertaruhan Generasi Bebas Stunting

    • calendar_month Minggu, 28 Sep 2025
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 485
    • 0Komentar

    Stunting, Taruhan Masa Depan Stunting bukan sekadar masalah gizi, tetapi taruhan bagi masa depan generasi emas di masa mendatang. Stunting masih menjadi persoalan serius di Indonesia, termasuk di Provinsi Sulawesi Selatan. Berdasarkan data SSGI Kemenkes RI (2024), prevalensi stunting di Provinsi Sulawesi Selatan mencapai 23,1 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 19,8 persen. Hal […]

expand_less