Breaking News
light_mode
Trending
Beranda » Opini » Campak Lebih Menular daripada COVID-19

Campak Lebih Menular daripada COVID-19

  • account_circle TentangSehat.com
  • calendar_month Ming, 23 Nov 2025
  • visibility 302
  • comment 0 komentar

Saat ini publik dikejutkan dengan wabah campak yang terjadi di Kabupaten Sumenep, Madura. Wabah ini telah merengut nyawa 17 anak dan menginfeksi hampir 2.000 lainnya selama delapan bulan terakhir, terhitung dari bulan Agustus 2025. Akibat lonjakan kasus yang signifikan ini, otoritas setempat mengklasifikasikannya menjadi KLB (Kejadian Luar Biasa).

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan bahwa campak bisa menular jauh lebih pesat bahkan empat hingga lima kali lipat dibandingkan dengan COVID-19.

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik IDAI Prof. Dr. dr. Edi Hartoyo, Sp.A, Subs.IPT(K) mengatakan bahwa risiko penularan campak sebesar 12-18, sedangkan untuk COVID-19 sebesar 8-10.

Hal tersebut bisa diartikan bahwa jika satu orang terkena campak, ia berisiko menularkannya kepada 12 hingga 18 orang. Sementara itu, jika satu orang terkena COVID-19, ia beresiko menularkannya kepada delapan hingga 10 orang.

Campak itu sendiri adalah penyakit virus akut yang disebabkan oleh RNA virus genus Morbillivirus, famili Paramyxoviridae. Penyakit ini mudah menular melalui sistem pernapasan akibat droplet yang terhirup dari penderita. Masa inkubasi penyakit campak antara 7-18 hari.1

Campak memiliki tiga tahapan klinis. Stadium pertama adalah prodromal yang berlangsung sekitar 2-4 hari, ditandai demam tinggi hingga 39,5°C, malaise, batuk, coryza, serta mata merah.

Pada fase ini juga dapat muncul Koplik Spots yaitu bintik merah kecil dengan pusat putih keabu-abuan tetapi hanya tampak sebentar (sekitar 12 jam).

Selanjutnya masuk ke stadium eksantem, ditandai ruam makulopapular khas dengan pola menyebar dari belakang telinga ke wajah, leher, dada, lengan, bokong, hingga estremitas bawah.

Ruam ini bertahan 6-7 hari, dengan demam yang biasanya mencapai puncaknya (sekitar 40°C) pada hari ke-2 hingga ke-3 setelah ruam muncul. Jika demam tetap tinggi setelah hari ke-3 atau ke-4, biasanya menandakan adanya komplikasi.

Tahap terakhir adalah stadium penyembuhan (konvalesens), di mana dalam 3-4 hari ruam mulai menghilang. Ruam kemudian berubah kecoklatan dan akan menghilang sepenuhnya dalam 7-10 hari.2

Tidak hanya di Kabupaten Sumenep saja, peningkatan kasus campak juga terjadi di Jakarta. Pada tahun 2023 terjadi peningkatan kasus campak 10 kali lipat di Jakarta. Insiden rate suspek campak di Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2023 adalah 32.1 per 100.000 penduduk.3

Baca Juga: Menjaga Kesehatan: Investasi Jangka Panjang untuk Hidup Berkualitas

Fakta ini membuat kita bertanya-tanya bagaimana mungkin penyakit lama yang bisa dicegah vaksin masih jadi ancaman besar di era modern?

Terdapat faktor-faktor yang memengaruhi kasus campak di Indonesia. Faktor pertama, yaitu rendahnya cakupan imunisasi. Menurut data Kemenkes, cakupan imunisasi sempat mencapai 92%, namun pada tahun 2018 menjadi 87,8% pada 2023.

Penurunan ini cukup untuk melemahkan herd immunity (kekebalan komunitas) yang akan sangat memengaruhi penyebaran wabah campak tersebut. Campak sangat mudah menular, sehingga membutuhkan cakupan imunisasi setidaknya 95% untuk mempertahankan kekebalan komunitas.4

Faktor kedua, yaitu pengetahuan ibu. Pengetahuan ibu mengenai imunisasi anak berpengaruh secara signifikan terhadap munculnya penyakit yang seharusnya dapat dicegah melalui vaksinasi, termasuk penyakit campak.

Seorang ibu yang memiliki pengetahuan yang memadai akan benar-benar memastikan anak-anaknya mendapatkan perlindungan melalui pemberian imunisasi campak sesuai dengan jadwal yang ditetapkan pemerintah melalui Kementerian Kesehatan. 5

Baca Juga: Kualitas Air dan Perilaku Masyarakat terhadap Derajat Kesehatan Masyarakat

Faktor ketiga, yaitu kontak penderita dalam keluarga. Hal ini wajar, mengingat virus campak memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi. Seseorang yang tinggal serumah dengan penderita campak hampir pasti akan terinfeksi jika belum memiliki kekebalan, baik dari vaksinasi maupun dari riwayat infeksi sebelumnya.

Penularan terjadi melalui percikan ludah (droplet) saat batuk atau bersin dan virus dapat bertahan di udara hingga dua jam, sehingga kontak tidak harus selalu langsung.

Dengan demikian, solusi untuk menurunkan peningkatan dan penyebaran kasus campak harus diselesaikan secara komprehensif dan berkelanjutan. Solusinya bisa seperti peningkatan cakupan imunisasi di seluruh daerah secara merata untuk anak-anak.

Imunisasi ini disesuaikan dengan jadwal imunisasi rekomendasi IDAI tahun 2014, yaitu vaksin campak diberikan pada usia 9 bulan dan selanjutnya vaksin penguat pada usia 2 tahun.

Peningkatan cakupan ini tidak hanya melindungi anak secara individu, tetapi juga membangun herd immunity yang penting untuk mencegah wabah di masyarakat.

Selain itu, di era serba digital saat ini, masyarakat sangat rentan terhadap berita hoaks mengenai vaksin, yang sering menimbulkan misinformasi. Oleh karena itu, diperlukan edukasi yang tepat, baik melalui media sosial maupun seminar luring agar dapat menjawab keraguan masyarakat dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya vaksinasi.

Edukasi ini sebaiknya mencakup penjelasan manfaat vaksin, risiko penyakit campak, serta keamanan dan efektivitas vaksin yang telah terbukti secara ilmiah.

Penulis: Salwa Ridwan
Mahasiswa Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR)

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

  1. Oktaviasari KE. Relationship of Measles Immunization with Measles in East Java. J Berk Epidemiol. 2018;6(2):166. doi:10.20473/jbe.v6i22018.166-173
  2. Halim RG. Tinjauan Pustaka Campak Pada Anak. 2021;43(3):186-189.
  3. Kendarti SF, Adnan N, Henderawati R. Analisis Situasi: Peningkatan Kasus Campak di Provinsi DKI Jakarta. J Teknol Kesehat Borneo. 2024;5(2):111-118. doi:10.30602/jtkb.v5i2.363
  4. Pandey A, Galvani AP. Exacerbation of measles mortality by vaccine hesitancy worldwide. Lancet Glob Heal. 2023;11(4):e478-e479. doi:10.1016/S2214-109X(23)00063-3
  5. RIANTINA A, NAJMAH N, SITORUS RJ. Analisis Faktor Risiko Yang Mempengaruhi Kejadian Campak Di Indonesia: Literatur Review. J Nurs Public Heal. 2024;12(1):122-132. doi:10.37676/jnph.v12i1.6349

 

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

  • Penulis: TentangSehat.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Cara Mengobati Diabetes dengan Obat Herbal

    7 Cara Mengobati Diabetes secara Alami dengan Obat Herbal yang Efektif

    • calendar_month Sel, 10 Des 2024
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 375
    • 0Komentar

    Diabetes melitus adalah penyakit yang semakin banyak dialami oleh masyarakat di seluruh dunia. Penyakit ini terjadi ketika tubuh tidak dapat memproduksi insulin dengan cukup atau tidak dapat menggunakan insulin dengan efektif. Insulin adalah hormon yang sangat penting untuk mengatur kadar gula darah. Salah satu cara untuk mengelola diabetes adalah dengan menggunakan obat herbal. Selanjutnya, mari […]

  • Hipertensi dan Diabetes

    Program Inovasi “PEPET SI DIA” (Pemantauan Penderita Hipertensi dan Diabetes dengan Kartu Merah Muda) di Puskesmas Patikraja

    • calendar_month Ming, 22 Mar 2026
    • account_circle Salwa Alifah Yusrina
    • visibility 62
    • 0Komentar

    Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan prevalensi hipertensi (HT) di Indonesia pada tahun 2023 mencapai 30,8% dan prevalensi diabetes melitus (DM) sebesar 1,7%. Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi hipertensi meningkat dari 25,8% menjadi 34,1% pada usia 18 tahun ke atas, sedangkan prevalensi DM meningkat dari 6,9% menjadi 10,9% pada usia ≥ 15 tahun. Dari data program […]

  • cara mencegah cacing

    Cacing dan Gotong Royong

    • calendar_month Ming, 14 Des 2025
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 296
    • 0Komentar

    Ulasan Umum Secara umum, prevalensi infeksi kecacingan di Indonesia mencapai 60-70%, terutama terjadi pada anak usia sekolah dasar (5-14 tahun) yang mencapai 21%. Prevalensi ini dipengaruhi oleh kondisi iklim tropis, kelembapan tinggi, serta sanitasi dan kebersihan yang buruk. Wilayah dengan prevalensi tinggi termasuk Nusa Tenggara Barat (83,6%), Sumatera Barat (82,3%), dan Sumatera Utara (60,4%). Secara […]

  • Pencegahan Penyakit Degeneratif

    Upaya Pencegahan Penyakit Degeneratif pada Lansia melalui Edukasi Kesehatan Terpadu di Desa Lidah Tanah Serdang Begadai

    • calendar_month Jum, 20 Feb 2026
    • account_circle Salwa Alifah Yusrina
    • visibility 110
    • 0Komentar

    Ringkasan Peningkatan jumlah penduduk lanjut usia merupakan fenomena demografis yang terus berkembang seiring meningkatnya angka harapan hidup masyarakat. Perubahan struktur usia penduduk ini membawa konsekuensi terhadap meningkatnya prevalensi penyakit degeneratif yang berkaitan dengan proses penuaan, seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, osteoartritis, gangguan keseimbangan, serta penurunan fungsi gerak dan mobilitas. Penyakit degeneratif bersifat kronis, progresif, […]

  • mengenal skizofrenia

    Dari Stigma ke Pemahaman: Mengenal Skizofrenia dengan Cara yang Lebih Tepat

    • calendar_month Rab, 3 Des 2025
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 284
    • 0Komentar

    Banyak orang mengenal skizofrenia lewat gambaran yang salah. Istilah ini sering dianggap menakutkan, dikaitkan dengan “kegilaan”, atau bahkan mitos yang tidak berdasar. Akibatnya, penyandang skizofrenia sering disalahpahami dan distigmatisasi sebelum orang benar benar tahu apa yang sebenarnya terjadi. Padahal dengan pengobatan yang tepat dan dukungan lingkungan, banyak penyandang skizofrenia dapat hidup stabil dan berfungsi kembali. […]

  • Pengobatan Penyakit Jantung Alami Tanpa Obat

    8 Pengobatan Penyakit Jantung Alami Tanpa Obat yang Ampuh

    • calendar_month Sen, 29 Jan 2024
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 375
    • 0Komentar

    Penyakit jantung tetap menjadi salah satu penyebab utama kematian di seluruh dunia. Meskipun kemajuan dalam pengobatan medis telah memberikan banyak pilihan untuk pengelolaan penyakit jantung, banyak orang mulai mencari cara alternatif yang lebih alami dan minim efek samping dengan pengobatan penyakit jantung alami tanpa obat. Salah satu pendekatan yang semakin populer adalah pengobatan penyakit jantung […]

expand_less