Breaking!
light_mode
Trending
Beranda » Opini » Campak Lebih Menular daripada COVID-19

Campak Lebih Menular daripada COVID-19

  • account_circle TentangSehat.com
  • calendar_month Minggu, 23 Nov 2025
  • visibility 451
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Saat ini publik dikejutkan dengan wabah campak yang terjadi di Kabupaten Sumenep, Madura. Wabah ini telah merengut nyawa 17 anak dan menginfeksi hampir 2.000 lainnya selama delapan bulan terakhir, terhitung dari bulan Agustus 2025. Akibat lonjakan kasus yang signifikan ini, otoritas setempat mengklasifikasikannya menjadi KLB (Kejadian Luar Biasa).

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan bahwa campak bisa menular jauh lebih pesat bahkan empat hingga lima kali lipat dibandingkan dengan COVID-19.

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik IDAI Prof. Dr. dr. Edi Hartoyo, Sp.A, Subs.IPT(K) mengatakan bahwa risiko penularan campak sebesar 12-18, sedangkan untuk COVID-19 sebesar 8-10.

Hal tersebut bisa diartikan bahwa jika satu orang terkena campak, ia berisiko menularkannya kepada 12 hingga 18 orang. Sementara itu, jika satu orang terkena COVID-19, ia beresiko menularkannya kepada delapan hingga 10 orang.

Campak itu sendiri adalah penyakit virus akut yang disebabkan oleh RNA virus genus Morbillivirus, famili Paramyxoviridae. Penyakit ini mudah menular melalui sistem pernapasan akibat droplet yang terhirup dari penderita. Masa inkubasi penyakit campak antara 7-18 hari.1

Campak memiliki tiga tahapan klinis. Stadium pertama adalah prodromal yang berlangsung sekitar 2-4 hari, ditandai demam tinggi hingga 39,5°C, malaise, batuk, coryza, serta mata merah.

Pada fase ini juga dapat muncul Koplik Spots yaitu bintik merah kecil dengan pusat putih keabu-abuan tetapi hanya tampak sebentar (sekitar 12 jam).

Selanjutnya masuk ke stadium eksantem, ditandai ruam makulopapular khas dengan pola menyebar dari belakang telinga ke wajah, leher, dada, lengan, bokong, hingga estremitas bawah.

Ruam ini bertahan 6-7 hari, dengan demam yang biasanya mencapai puncaknya (sekitar 40°C) pada hari ke-2 hingga ke-3 setelah ruam muncul. Jika demam tetap tinggi setelah hari ke-3 atau ke-4, biasanya menandakan adanya komplikasi.

Tahap terakhir adalah stadium penyembuhan (konvalesens), di mana dalam 3-4 hari ruam mulai menghilang. Ruam kemudian berubah kecoklatan dan akan menghilang sepenuhnya dalam 7-10 hari.2

Tidak hanya di Kabupaten Sumenep saja, peningkatan kasus campak juga terjadi di Jakarta. Pada tahun 2023 terjadi peningkatan kasus campak 10 kali lipat di Jakarta. Insiden rate suspek campak di Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2023 adalah 32.1 per 100.000 penduduk.3

Baca Juga: Menjaga Kesehatan: Investasi Jangka Panjang untuk Hidup Berkualitas

Fakta ini membuat kita bertanya-tanya bagaimana mungkin penyakit lama yang bisa dicegah vaksin masih jadi ancaman besar di era modern?

Terdapat faktor-faktor yang memengaruhi kasus campak di Indonesia. Faktor pertama, yaitu rendahnya cakupan imunisasi. Menurut data Kemenkes, cakupan imunisasi sempat mencapai 92%, namun pada tahun 2018 menjadi 87,8% pada 2023.

Penurunan ini cukup untuk melemahkan herd immunity (kekebalan komunitas) yang akan sangat memengaruhi penyebaran wabah campak tersebut. Campak sangat mudah menular, sehingga membutuhkan cakupan imunisasi setidaknya 95% untuk mempertahankan kekebalan komunitas.4

Faktor kedua, yaitu pengetahuan ibu. Pengetahuan ibu mengenai imunisasi anak berpengaruh secara signifikan terhadap munculnya penyakit yang seharusnya dapat dicegah melalui vaksinasi, termasuk penyakit campak.

Seorang ibu yang memiliki pengetahuan yang memadai akan benar-benar memastikan anak-anaknya mendapatkan perlindungan melalui pemberian imunisasi campak sesuai dengan jadwal yang ditetapkan pemerintah melalui Kementerian Kesehatan. 5

Baca Juga: Kualitas Air dan Perilaku Masyarakat terhadap Derajat Kesehatan Masyarakat

Faktor ketiga, yaitu kontak penderita dalam keluarga. Hal ini wajar, mengingat virus campak memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi. Seseorang yang tinggal serumah dengan penderita campak hampir pasti akan terinfeksi jika belum memiliki kekebalan, baik dari vaksinasi maupun dari riwayat infeksi sebelumnya.

Penularan terjadi melalui percikan ludah (droplet) saat batuk atau bersin dan virus dapat bertahan di udara hingga dua jam, sehingga kontak tidak harus selalu langsung.

Dengan demikian, solusi untuk menurunkan peningkatan dan penyebaran kasus campak harus diselesaikan secara komprehensif dan berkelanjutan. Solusinya bisa seperti peningkatan cakupan imunisasi di seluruh daerah secara merata untuk anak-anak.

Imunisasi ini disesuaikan dengan jadwal imunisasi rekomendasi IDAI tahun 2014, yaitu vaksin campak diberikan pada usia 9 bulan dan selanjutnya vaksin penguat pada usia 2 tahun.

Peningkatan cakupan ini tidak hanya melindungi anak secara individu, tetapi juga membangun herd immunity yang penting untuk mencegah wabah di masyarakat.

Selain itu, di era serba digital saat ini, masyarakat sangat rentan terhadap berita hoaks mengenai vaksin, yang sering menimbulkan misinformasi. Oleh karena itu, diperlukan edukasi yang tepat, baik melalui media sosial maupun seminar luring agar dapat menjawab keraguan masyarakat dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya vaksinasi.

Edukasi ini sebaiknya mencakup penjelasan manfaat vaksin, risiko penyakit campak, serta keamanan dan efektivitas vaksin yang telah terbukti secara ilmiah.

Penulis: Salwa Ridwan
Mahasiswa Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR)

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

  1. Oktaviasari KE. Relationship of Measles Immunization with Measles in East Java. J Berk Epidemiol. 2018;6(2):166. doi:10.20473/jbe.v6i22018.166-173
  2. Halim RG. Tinjauan Pustaka Campak Pada Anak. 2021;43(3):186-189.
  3. Kendarti SF, Adnan N, Henderawati R. Analisis Situasi: Peningkatan Kasus Campak di Provinsi DKI Jakarta. J Teknol Kesehat Borneo. 2024;5(2):111-118. doi:10.30602/jtkb.v5i2.363
  4. Pandey A, Galvani AP. Exacerbation of measles mortality by vaccine hesitancy worldwide. Lancet Glob Heal. 2023;11(4):e478-e479. doi:10.1016/S2214-109X(23)00063-3
  5. RIANTINA A, NAJMAH N, SITORUS RJ. Analisis Faktor Risiko Yang Mempengaruhi Kejadian Campak Di Indonesia: Literatur Review. J Nurs Public Heal. 2024;12(1):122-132. doi:10.37676/jnph.v12i1.6349

 

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

  • Penulis: TentangSehat.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • ciri-ciri bakteri clostridium botulinum

    Mengenal Bakteri Clostridium botulinum: Ancaman di Balik Kaleng Rusak dan Cara Ampuh Menginaktivasinya

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 87
    • 0Komentar

    Pernahkah Anda saat berkunjung ke swalayan melihat makanan kaleng yang penyok atau bahkan berkarat? Waspadalah karena kondisi tersebut bisa menjadi tanda bahwa produk telah mengalami penurunan mutu loh. Di balik kemasan yang rusak itu, tersembunyi ancaman besar dari salah satu bakteri paling mematikan di dunia, yaitu Clostridium botulinum. Bakteri ini bukan hanya sekadar kuman biasa […]

  • cara menjaga kesehatan mental

    Scroll Seperlunya, Hidup Sepenuhnya: Menjaga Kesehatan Mental di Era Media Sosial

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 117
    • 0Komentar

    Pernahkah kamu merasa lelah, cemas, atau overthinking setelah terlalu lama membuka media sosial? Awalnya hanya ingin melihat satu video atau membaca satu berita, tetapi tanpa sadar jari terus menggulir layar selama berjam-jam. Fenomena ini dikenal dengan istilah doomscrolling, yaitu kebiasaan terus-menerus melihat berita negatif atau konten yang memicu kecemasan di media sosial. Tidak sedikit orang […]

  • Lembaga Pendidikan Guru TPQ

    Analisis BMC (Business Model Canvas) Pendidikan Guru Taman Pendidikan Al-Qur’an (PGTPQ YAHQI): Transformasi Metode Pembelajaran Kreatif, Inofatif dan Komprehensif

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 114
    • 0Komentar

    Pendahuluan Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) merupakan salah satu lembaga pendidikan non-formal yang memiliki peran strategis dalam membentuk generasi muslim yang mampu membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Quran sejak dini. Namun, kualitas pembelajaran di TPQ sangat bergantung pada kompetensi para gurunya. Lembaga Pendidikan Guru TPQ hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut. Lembaga ini dirancang khusus untuk meningkatkan […]

  • Cara Mengobati Bronkitis dengan Obat Herbal

    7 Cara Mengobati Bronkitis dengan Obat Herbal yang Terbukti Efektif

    • calendar_month Senin, 20 Jan 2025
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 516
    • 0Komentar

    Bronkitis merupakan kondisi peradangan pada saluran bronkial yang dapat menyebabkan batuk, sesak napas, dan ketidaknyamanan. Nah, mari kita bahas cara mengobati bronkitis dengan obat herbal. Walaupun pengobatan medis konvensional tersedia, semakin banyak orang mencari cara mengobati bronkitis dengan obat herbal sebagai alternatif yang lebih alami dan minim efek samping. Pada artikel ini, kamu akan menemukan […]

  • Kerapuhan Mental

    Generasi Scroll: Antara Koneksi Digital dan Kerapuhan Mental

    • calendar_month Senin, 27 Jul 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 20
    • 0Komentar

    Saat ini, hampir semua aktivitas manusia tidak bisa lepas dari ponsel dan media sosial. Coba bayangkan bangun tidur membuka Instagram, sebelum tidur scroll TikTok, bahkan ketika berkumpul dengan teman pun masih sibuk dengan layar ponsel. Bahkan media sosial pun dijadikan sebagai tempat adu flexing, setiap unggahan harus terkesan bergaya hanya untuk mendapatkan attention orang lain. […]

  • Gizi Seimbang

    Kenalkan Gizi Seimbang Sejak Dini, Mahasiswa UTM Ajak Anak TK Belajar Makanan Sehat Lewat Permainan

    • calendar_month Minggu, 21 Jun 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 52
    • 0Komentar

    Bangkalan, MMI – Di tengah maraknya konsumsi makanan cepat saji dan jajanan instan pada anak-anak, edukasi mengenai pola makan sehat menjadi hal yang semakin penting. Berangkat dari kondisi tersebut, sekelompok mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat berupa penyuluhan kesehatan bertema “Mengenal Makanan Bergizi dan Bahaya Junk Food” di […]

expand_less