Breaking!
light_mode
Trending
Beranda » Opini » Campak Lebih Menular daripada COVID-19

Campak Lebih Menular daripada COVID-19

  • account_circle TentangSehat.com
  • calendar_month Minggu, 23 Nov 2025
  • visibility 493
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Saat ini publik dikejutkan dengan wabah campak yang terjadi di Kabupaten Sumenep, Madura. Wabah ini telah merengut nyawa 17 anak dan menginfeksi hampir 2.000 lainnya selama delapan bulan terakhir, terhitung dari bulan Agustus 2025. Akibat lonjakan kasus yang signifikan ini, otoritas setempat mengklasifikasikannya menjadi KLB (Kejadian Luar Biasa).

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan bahwa campak bisa menular jauh lebih pesat bahkan empat hingga lima kali lipat dibandingkan dengan COVID-19.

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik IDAI Prof. Dr. dr. Edi Hartoyo, Sp.A, Subs.IPT(K) mengatakan bahwa risiko penularan campak sebesar 12-18, sedangkan untuk COVID-19 sebesar 8-10.

Hal tersebut bisa diartikan bahwa jika satu orang terkena campak, ia berisiko menularkannya kepada 12 hingga 18 orang. Sementara itu, jika satu orang terkena COVID-19, ia beresiko menularkannya kepada delapan hingga 10 orang.

Campak itu sendiri adalah penyakit virus akut yang disebabkan oleh RNA virus genus Morbillivirus, famili Paramyxoviridae. Penyakit ini mudah menular melalui sistem pernapasan akibat droplet yang terhirup dari penderita. Masa inkubasi penyakit campak antara 7-18 hari.1

Campak memiliki tiga tahapan klinis. Stadium pertama adalah prodromal yang berlangsung sekitar 2-4 hari, ditandai demam tinggi hingga 39,5°C, malaise, batuk, coryza, serta mata merah.

Pada fase ini juga dapat muncul Koplik Spots yaitu bintik merah kecil dengan pusat putih keabu-abuan tetapi hanya tampak sebentar (sekitar 12 jam).

Selanjutnya masuk ke stadium eksantem, ditandai ruam makulopapular khas dengan pola menyebar dari belakang telinga ke wajah, leher, dada, lengan, bokong, hingga estremitas bawah.

Ruam ini bertahan 6-7 hari, dengan demam yang biasanya mencapai puncaknya (sekitar 40°C) pada hari ke-2 hingga ke-3 setelah ruam muncul. Jika demam tetap tinggi setelah hari ke-3 atau ke-4, biasanya menandakan adanya komplikasi.

Tahap terakhir adalah stadium penyembuhan (konvalesens), di mana dalam 3-4 hari ruam mulai menghilang. Ruam kemudian berubah kecoklatan dan akan menghilang sepenuhnya dalam 7-10 hari.2

Tidak hanya di Kabupaten Sumenep saja, peningkatan kasus campak juga terjadi di Jakarta. Pada tahun 2023 terjadi peningkatan kasus campak 10 kali lipat di Jakarta. Insiden rate suspek campak di Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2023 adalah 32.1 per 100.000 penduduk.3

Baca Juga: Menjaga Kesehatan: Investasi Jangka Panjang untuk Hidup Berkualitas

Fakta ini membuat kita bertanya-tanya bagaimana mungkin penyakit lama yang bisa dicegah vaksin masih jadi ancaman besar di era modern?

Terdapat faktor-faktor yang memengaruhi kasus campak di Indonesia. Faktor pertama, yaitu rendahnya cakupan imunisasi. Menurut data Kemenkes, cakupan imunisasi sempat mencapai 92%, namun pada tahun 2018 menjadi 87,8% pada 2023.

Penurunan ini cukup untuk melemahkan herd immunity (kekebalan komunitas) yang akan sangat memengaruhi penyebaran wabah campak tersebut. Campak sangat mudah menular, sehingga membutuhkan cakupan imunisasi setidaknya 95% untuk mempertahankan kekebalan komunitas.4

Faktor kedua, yaitu pengetahuan ibu. Pengetahuan ibu mengenai imunisasi anak berpengaruh secara signifikan terhadap munculnya penyakit yang seharusnya dapat dicegah melalui vaksinasi, termasuk penyakit campak.

Seorang ibu yang memiliki pengetahuan yang memadai akan benar-benar memastikan anak-anaknya mendapatkan perlindungan melalui pemberian imunisasi campak sesuai dengan jadwal yang ditetapkan pemerintah melalui Kementerian Kesehatan. 5

Baca Juga: Kualitas Air dan Perilaku Masyarakat terhadap Derajat Kesehatan Masyarakat

Faktor ketiga, yaitu kontak penderita dalam keluarga. Hal ini wajar, mengingat virus campak memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi. Seseorang yang tinggal serumah dengan penderita campak hampir pasti akan terinfeksi jika belum memiliki kekebalan, baik dari vaksinasi maupun dari riwayat infeksi sebelumnya.

Penularan terjadi melalui percikan ludah (droplet) saat batuk atau bersin dan virus dapat bertahan di udara hingga dua jam, sehingga kontak tidak harus selalu langsung.

Dengan demikian, solusi untuk menurunkan peningkatan dan penyebaran kasus campak harus diselesaikan secara komprehensif dan berkelanjutan. Solusinya bisa seperti peningkatan cakupan imunisasi di seluruh daerah secara merata untuk anak-anak.

Imunisasi ini disesuaikan dengan jadwal imunisasi rekomendasi IDAI tahun 2014, yaitu vaksin campak diberikan pada usia 9 bulan dan selanjutnya vaksin penguat pada usia 2 tahun.

Peningkatan cakupan ini tidak hanya melindungi anak secara individu, tetapi juga membangun herd immunity yang penting untuk mencegah wabah di masyarakat.

Selain itu, di era serba digital saat ini, masyarakat sangat rentan terhadap berita hoaks mengenai vaksin, yang sering menimbulkan misinformasi. Oleh karena itu, diperlukan edukasi yang tepat, baik melalui media sosial maupun seminar luring agar dapat menjawab keraguan masyarakat dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya vaksinasi.

Edukasi ini sebaiknya mencakup penjelasan manfaat vaksin, risiko penyakit campak, serta keamanan dan efektivitas vaksin yang telah terbukti secara ilmiah.

Penulis: Salwa Ridwan
Mahasiswa Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR)

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

  1. Oktaviasari KE. Relationship of Measles Immunization with Measles in East Java. J Berk Epidemiol. 2018;6(2):166. doi:10.20473/jbe.v6i22018.166-173
  2. Halim RG. Tinjauan Pustaka Campak Pada Anak. 2021;43(3):186-189.
  3. Kendarti SF, Adnan N, Henderawati R. Analisis Situasi: Peningkatan Kasus Campak di Provinsi DKI Jakarta. J Teknol Kesehat Borneo. 2024;5(2):111-118. doi:10.30602/jtkb.v5i2.363
  4. Pandey A, Galvani AP. Exacerbation of measles mortality by vaccine hesitancy worldwide. Lancet Glob Heal. 2023;11(4):e478-e479. doi:10.1016/S2214-109X(23)00063-3
  5. RIANTINA A, NAJMAH N, SITORUS RJ. Analisis Faktor Risiko Yang Mempengaruhi Kejadian Campak Di Indonesia: Literatur Review. J Nurs Public Heal. 2024;12(1):122-132. doi:10.37676/jnph.v12i1.6349

 

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

  • Penulis: TentangSehat.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Penyebab Berat Badan Balita susah Naik

    Mengapa Berat Badan Balita Tidak Naik? Kenali Penyebab dan Solusinya

    • calendar_month Senin, 21 Jul 2025
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 684
    • 0Komentar

    Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dilaksanakan oleh, dari dan bersama masyarakat, untuk memberdayakan dan memberikan kemudahan kepada masyarakat guna memperoleh pelayanan kesehatan bagi ibu hamil, bayi, balita, remaja usia subur dan lansia. Penimbangan balita merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan dalam pemantauan pertumbuhan. Pemantauan pertumbuhan setiap […]

  • Cara Alami Menurunkan Kolesterol Tinggi baru

    Cara Alami Menurunkan Kolesterol Tinggi yang Terbukti Efektif untuk

    • calendar_month Jumat, 29 Sep 2023
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 547
    • 0Komentar

    Kolesterol tinggi merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering kali diabaikan, padahal dampaknya sangat besar bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah. Mengingat pentingnya menjaga kadar kolesterol dalam tubuh, Anda perlu mengetahui cara alami menurunkan kolesterol tinggi yang efektif dan aman. Pada artikel ini, kami akan membahas 7 tips terbukti ampuh untuk menurunkan kolesterol tinggi dengan […]

  • cara mengatasi flu

    7 Cara Mengatasi Flu dengan Obat Herbal yang Ampuh dan Terbukti Efektif

    • calendar_month Rabu, 29 Jan 2025
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 854
    • 0Komentar

    Flu adalah salah satu penyakit yang paling umum menyerang setiap tahunnya. Gejalanya seperti demam, pilek, sakit kepala, dan tubuh lemas bisa mengganggu aktivitas sehari-hari. Banyak orang mencari solusi alami untuk mengatasi flu dengan obat herbal. Yuk! Mari kita bahas cara mengatasi flu dengan obat herbal yang aman dan efektif berdasarkan data dan penelitian terbaru. Mengapa […]

  • Para pemateri dan Ketua AJI Pontianak berfoto bersama usai penyerahan sertifikat dalam diskusi Dampak Konsumsi Rokok

    AJI Jakarta dan AJI Pontianak Bahas Dampak Rokok terhadap Kesehatan dan Ekonomi Lewat Film “Di Balik Ilusi Tembakau”

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 71
    • 0Komentar

    Pontianak – Upaya meningkatkan pemahaman publik mengenai dampak konsumsi rokok dilakukan melalui pemutaran film dokumenter Di Balik Ilusi Tembakau yang diselenggarakan AJI Jakarta bersama AJI Pontianak di Pontianak, Kamis (4/6/2026). Kegiatan tersebut dirangkai dengan diskusi yang menghadirkan berbagai narasumber dari kalangan pemerintah, akademisi, pegiat pengendalian tembakau, hingga insan pers. Ketua AJI Pontianak, Rivaldi Ade Musliadi, […]

  • Kolaborasi Tenaga Kesehatan

    IPE: Kunci Kolaborasi Tenaga Kesehatan untuk Layanan yang Lebih Baik

    • calendar_month Sabtu, 20 Jun 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Interprofessional Education bukan sekadar tren akademik—ini adalah fondasi sistem kesehatan masa depan yang lebih aman dan efektif. Bayangkan seorang pasien pasca-operasi yang mengeluhkan nyeri hebat kepada perawat, tetapi dokter yang menanganinya tidak diberitahu secara langsung karena sistem komunikasi antarprofesi yang lemah. Atau seorang apoteker yang menemukan potensi interaksi obat berbahaya, namun ragu menyampaikannya kepada dokter […]

  • Peran Mikrobiota Usus

    Ketika Mikroba Mengendalikan Tubuh Kita: Peran Mikrobiota Usus dalam Sistem Imun dan Metabolisme

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 113
    • 0Komentar

    Kita sering memandang tubuh manusia sebagai sistem biologis yang sepenuhnya dikendalikan oleh sel-sel manusia. Namun di dalam usus besar hidup sekitar 10¹⁴ mikroorganisme dari ratusan hingga ribuan spesies berbeda. Jumlah ini setara, bahkan dapat melebihi, jumlah sel manusia dalam tubuh. Jika dihitung massanya, komunitas mikroba tersebut dapat mencapai 1–2 kilogram. Pertanyaannya: apakah makhluk-makhluk kecil ini […]

expand_less