Breaking News
light_mode
Trending
Beranda » Opini » Campak Lebih Menular daripada COVID-19

Campak Lebih Menular daripada COVID-19

  • account_circle TentangSehat.com
  • calendar_month Ming, 23 Nov 2025
  • visibility 419
  • comment 0 komentar

Saat ini publik dikejutkan dengan wabah campak yang terjadi di Kabupaten Sumenep, Madura. Wabah ini telah merengut nyawa 17 anak dan menginfeksi hampir 2.000 lainnya selama delapan bulan terakhir, terhitung dari bulan Agustus 2025. Akibat lonjakan kasus yang signifikan ini, otoritas setempat mengklasifikasikannya menjadi KLB (Kejadian Luar Biasa).

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan bahwa campak bisa menular jauh lebih pesat bahkan empat hingga lima kali lipat dibandingkan dengan COVID-19.

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik IDAI Prof. Dr. dr. Edi Hartoyo, Sp.A, Subs.IPT(K) mengatakan bahwa risiko penularan campak sebesar 12-18, sedangkan untuk COVID-19 sebesar 8-10.

Hal tersebut bisa diartikan bahwa jika satu orang terkena campak, ia berisiko menularkannya kepada 12 hingga 18 orang. Sementara itu, jika satu orang terkena COVID-19, ia beresiko menularkannya kepada delapan hingga 10 orang.

Campak itu sendiri adalah penyakit virus akut yang disebabkan oleh RNA virus genus Morbillivirus, famili Paramyxoviridae. Penyakit ini mudah menular melalui sistem pernapasan akibat droplet yang terhirup dari penderita. Masa inkubasi penyakit campak antara 7-18 hari.1

Campak memiliki tiga tahapan klinis. Stadium pertama adalah prodromal yang berlangsung sekitar 2-4 hari, ditandai demam tinggi hingga 39,5°C, malaise, batuk, coryza, serta mata merah.

Pada fase ini juga dapat muncul Koplik Spots yaitu bintik merah kecil dengan pusat putih keabu-abuan tetapi hanya tampak sebentar (sekitar 12 jam).

Selanjutnya masuk ke stadium eksantem, ditandai ruam makulopapular khas dengan pola menyebar dari belakang telinga ke wajah, leher, dada, lengan, bokong, hingga estremitas bawah.

Ruam ini bertahan 6-7 hari, dengan demam yang biasanya mencapai puncaknya (sekitar 40°C) pada hari ke-2 hingga ke-3 setelah ruam muncul. Jika demam tetap tinggi setelah hari ke-3 atau ke-4, biasanya menandakan adanya komplikasi.

Tahap terakhir adalah stadium penyembuhan (konvalesens), di mana dalam 3-4 hari ruam mulai menghilang. Ruam kemudian berubah kecoklatan dan akan menghilang sepenuhnya dalam 7-10 hari.2

Tidak hanya di Kabupaten Sumenep saja, peningkatan kasus campak juga terjadi di Jakarta. Pada tahun 2023 terjadi peningkatan kasus campak 10 kali lipat di Jakarta. Insiden rate suspek campak di Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2023 adalah 32.1 per 100.000 penduduk.3

Baca Juga: Menjaga Kesehatan: Investasi Jangka Panjang untuk Hidup Berkualitas

Fakta ini membuat kita bertanya-tanya bagaimana mungkin penyakit lama yang bisa dicegah vaksin masih jadi ancaman besar di era modern?

Terdapat faktor-faktor yang memengaruhi kasus campak di Indonesia. Faktor pertama, yaitu rendahnya cakupan imunisasi. Menurut data Kemenkes, cakupan imunisasi sempat mencapai 92%, namun pada tahun 2018 menjadi 87,8% pada 2023.

Penurunan ini cukup untuk melemahkan herd immunity (kekebalan komunitas) yang akan sangat memengaruhi penyebaran wabah campak tersebut. Campak sangat mudah menular, sehingga membutuhkan cakupan imunisasi setidaknya 95% untuk mempertahankan kekebalan komunitas.4

Faktor kedua, yaitu pengetahuan ibu. Pengetahuan ibu mengenai imunisasi anak berpengaruh secara signifikan terhadap munculnya penyakit yang seharusnya dapat dicegah melalui vaksinasi, termasuk penyakit campak.

Seorang ibu yang memiliki pengetahuan yang memadai akan benar-benar memastikan anak-anaknya mendapatkan perlindungan melalui pemberian imunisasi campak sesuai dengan jadwal yang ditetapkan pemerintah melalui Kementerian Kesehatan. 5

Baca Juga: Kualitas Air dan Perilaku Masyarakat terhadap Derajat Kesehatan Masyarakat

Faktor ketiga, yaitu kontak penderita dalam keluarga. Hal ini wajar, mengingat virus campak memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi. Seseorang yang tinggal serumah dengan penderita campak hampir pasti akan terinfeksi jika belum memiliki kekebalan, baik dari vaksinasi maupun dari riwayat infeksi sebelumnya.

Penularan terjadi melalui percikan ludah (droplet) saat batuk atau bersin dan virus dapat bertahan di udara hingga dua jam, sehingga kontak tidak harus selalu langsung.

Dengan demikian, solusi untuk menurunkan peningkatan dan penyebaran kasus campak harus diselesaikan secara komprehensif dan berkelanjutan. Solusinya bisa seperti peningkatan cakupan imunisasi di seluruh daerah secara merata untuk anak-anak.

Imunisasi ini disesuaikan dengan jadwal imunisasi rekomendasi IDAI tahun 2014, yaitu vaksin campak diberikan pada usia 9 bulan dan selanjutnya vaksin penguat pada usia 2 tahun.

Peningkatan cakupan ini tidak hanya melindungi anak secara individu, tetapi juga membangun herd immunity yang penting untuk mencegah wabah di masyarakat.

Selain itu, di era serba digital saat ini, masyarakat sangat rentan terhadap berita hoaks mengenai vaksin, yang sering menimbulkan misinformasi. Oleh karena itu, diperlukan edukasi yang tepat, baik melalui media sosial maupun seminar luring agar dapat menjawab keraguan masyarakat dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya vaksinasi.

Edukasi ini sebaiknya mencakup penjelasan manfaat vaksin, risiko penyakit campak, serta keamanan dan efektivitas vaksin yang telah terbukti secara ilmiah.

Penulis: Salwa Ridwan
Mahasiswa Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR)

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

  1. Oktaviasari KE. Relationship of Measles Immunization with Measles in East Java. J Berk Epidemiol. 2018;6(2):166. doi:10.20473/jbe.v6i22018.166-173
  2. Halim RG. Tinjauan Pustaka Campak Pada Anak. 2021;43(3):186-189.
  3. Kendarti SF, Adnan N, Henderawati R. Analisis Situasi: Peningkatan Kasus Campak di Provinsi DKI Jakarta. J Teknol Kesehat Borneo. 2024;5(2):111-118. doi:10.30602/jtkb.v5i2.363
  4. Pandey A, Galvani AP. Exacerbation of measles mortality by vaccine hesitancy worldwide. Lancet Glob Heal. 2023;11(4):e478-e479. doi:10.1016/S2214-109X(23)00063-3
  5. RIANTINA A, NAJMAH N, SITORUS RJ. Analisis Faktor Risiko Yang Mempengaruhi Kejadian Campak Di Indonesia: Literatur Review. J Nurs Public Heal. 2024;12(1):122-132. doi:10.37676/jnph.v12i1.6349

 

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

  • Penulis: TentangSehat.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Cara Efektif Pengobatan untuk Infeksi Saluran Kemih dengan Obat Medis dan Tradisional

    7 Cara Efektif Pengobatan untuk Infeksi Saluran Kemih dengan Obat Medis dan Tradisional

    • calendar_month Sab, 1 Feb 2025
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 533
    • 0Komentar

    Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan salah satu masalah kesehatan yang umum dialami oleh banyak orang, terutama wanita. Kamu mungkin pernah merasakan gejala seperti nyeri saat buang air kecil, sering buang air kecil, atau rasa tidak nyaman di daerah perut bagian bawah. Untungnya, ada berbagai pengobatan untuk infeksi saluran kemih dengan obat medis dan tradisional yang […]

  • Pemeriksaan Kesehatan

    Healthy Village Movement: Edukasi dan Pemeriksaan Kesehatan Masyarakat Desa

    • calendar_month Jum, 29 Mei 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 38
    • 0Komentar

    Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta dari Program Studi Akuntansi menggelar sosialisasi bertema “Kegiatan Edukasi dan Pemeriksaan Kesehatan Masyarakat Desa”. Dalam rangka mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3 mengenai Good Health and Well-Being, mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Negeri Yogyakarta melaksanakan kegiatan sosialisasi kepada masyarakat melalui program pemeriksaan dan edukasi kesehatan di lingkungan desa. Kegiatan ini […]

  • Pembasmi rayap paling ampuh

    Rekomendasi Obat Anti Rayap: Pembasmi Rayap Paling Ampuh

    • calendar_month Kam, 7 Agu 2025
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 508
    • 0Komentar

    Rayap bisa menjadi musuh besar bagi rumah, terutama jika Kamu tidak cepat mengambil tindakan. Dalam dunia properti, rayap adalah salah satu hama paling merusak. Karena itu, penting untuk mengetahui pembasmi rayap paling ampuh yang dapat benar-benar mengatasi infestasi rayap dari akarnya. Artikel ini akan membahas berbagai rekomendasi obat anti rayap terbaik, jenis rayap, dampak serangannya, […]

  • Sikat Gigi Bersama

    SIGIBER Tanamkan Senyum Sehat Sejak Dini di Nagari Pauh Kamang Mudiak

    • calendar_month Rab, 4 Feb 2026
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 293
    • 0Komentar

    Agam, MMI – Kesadaran menjaga kesehatan gigi perlu dibangun sejak anak masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak. Berangkat dari semangat itu, mahasiswa KKN Pauh Kamang Mudiak Universitas Andalas menggelar program edukasi SIGIBER (Sikat Gigi Bersama) di TK Aisyiyah Bustanul Athfal, Nagari Pauh Kamang Mudiak, Kecamatan Kamang Magek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada Kamis (08/01/2026). Kegiatan […]

  • Peran Mahasiswa Kedokteran

    Vaksinasi Media Sosial: Peran Mahasiswa Kedokteran Melawan Infodemik Kesehatan di Era Digital

    • calendar_month Sen, 3 Nov 2025
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 441
    • 0Komentar

    Di Tengah Ledakan Informasi Kesehatan Di era digital yang serba cepat, media sosial telah menjadi sumber utama masyarakat dalam mencari informasi kesehatan. Sayangnya, tidak semua informasi yang beredar dapat dipertanggungjawabkan. Mulai dari berita tentang “obat ajaib”, teori konspirasi tentang vaksin, hingga tips diet ekstrem tanpa dasar ilmiah—semuanya menyebar dengan cepat tanpa penyaring yang memadai. Fenomena […]

  • Pengobatan Penyakit Jantung Alami Tanpa Obat

    8 Pengobatan Penyakit Jantung Alami Tanpa Obat yang Ampuh

    • calendar_month Sen, 29 Jan 2024
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 488
    • 0Komentar

    Penyakit jantung tetap menjadi salah satu penyebab utama kematian di seluruh dunia. Meskipun kemajuan dalam pengobatan medis telah memberikan banyak pilihan untuk pengelolaan penyakit jantung, banyak orang mulai mencari cara alternatif yang lebih alami dan minim efek samping dengan pengobatan penyakit jantung alami tanpa obat. Salah satu pendekatan yang semakin populer adalah pengobatan penyakit jantung […]

expand_less