Breaking!
light_mode
Trending
Beranda » Artikel » Anoreksia di Era Media Sosial: Ketika Standar Kecantikan Tubuh Ideal Menjadi Ancaman bagi Kesehatan Mental dan Fisik

Anoreksia di Era Media Sosial: Ketika Standar Kecantikan Tubuh Ideal Menjadi Ancaman bagi Kesehatan Mental dan Fisik

  • account_circle TentangSehat.com
  • calendar_month Senin, 8 Jun 2026
  • visibility 54
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Era digital saat ini, media sosial menjadi bagian tidak terpisahkan dari remaja dan dewasa awal. Hadirnya platform seperti Instagram, TikTok, X, dan YouTube dipenuhi dengan gaya hidup sehat, tips kecantikan, body goals, dan diet.

Berkat adanya konten berikut tidak sedikit pengguna yang akhirnya membandingkan diri mereka dengan standar tubuh yang sering berada di platform-platform media sosial tersebut. Akibatnya muncul ketidakpuasan body image yang memicu tekanan sosial untuk memiliki tubuh yang langsing, tinggi, kurus, yang dianggap sebagai bentuk tubuh “sempurna”.

Salah satu dampak dari fenomena tersebut munculnya risiko gangguan makan sebagai akibat dari usaha mendapatkan bentuk tubuh “sempurna”, terutama Anoreksia Nervosa. Anoreksia tidak hanya sebagai dorongan diet atau sekedar menjaga berat badan, melainkan gangguan mental yang memicu kerusakan psikis maupun fisik yang ekstrem. Dalam psikologi kesehatan, anoreksia dipandang sebagai hasil dari interaksi faktor biologis, psikologis, dan sosial yang mempengaruhi perilaku individu.

Apa itu Anoreksia Nervosa?

Anorexia nervosa merupakan gangguan makan yang membuat seseorang terobsesi akan berat badan yang sangat kecil sehingga mereka rela kelaparan atau bahkan berolahraga berlebihan.  Anorexia Nervosa ditandai dengan berat badan yang terlalu rendah dan rasa takut jika berat badannya naik. Hal ini membuat penderita membatasi asupan makan, karena merasa berat badannya berlebihan, meskipun pada kenyataannya, tubuhnya sudah ramping atau justru terlalu kurus. Gangguan ini tidak hanya berdampak pada gangguan psikologis, namun juga gangguan fisik seperti:

  1. Penurunan berat badan ekstrem;
  2. Siklus menstruasi berantakan atau tidak sama sekali;
  3. Tubuh lemas;
  4. Rambut rontok;
  5. Gangguan jantung;
  6. Resiko kematian;

Anoreksia juga memengaruhi kehidupan sosial dan emosional seseorang. Penderita sering mengalami stres, depresi, kecemasan, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga kesulitan berkonsentrasi dalam belajar atau bekerja. Ironisnya, keinginan untuk terlihat “sempurna” justru dapat membuat kualitas hidup seseorang menurun drastis.

Baca Juga: Upaya Pencegahan Penyakit Degeneratif pada Lansia melalui Edukasi Kesehatan Terpadu di Desa Lidah Tanah Serdang Begadai

Tren Masa Kini yang Memicu Anoreksia

Saat ini trend body goals dan budaya kewajiban tampil sempurna sedang banyak dibicarakan di sosial media. Banyak influencer atau public figure yang memamerkan tubuh langsing, mulus, tinggi sebagai simbol kesuksesan dan kebahagiaan seseorang, terutama dikalangan perempuan. Tak jarang muncul konten seperti “what I eat in a day”, diet ekstrem, challenge diet ala idol, filter yang mengubah bentuk tubuh, dan lain sebagainya. Fenomena ini mengakibatkan banyak pengguna sosial media terutama perempuan remaja dan dewasa muda mulai membandingkan diri mereka dengan standar kecantikan di media sosial dan mulai merasa harus mengubah bentuk tubuh agar diterima di lingkungan sosial.

Salah satu teori psikologi kesehatan menyebutkan bahwa fenomena ini disebut sebagai Body Dissatisfaction, yang menjadi salah satu faktor psikologis yang berhubungan erat dengan munculnya gangguan makan, termasuk anoreksia nervosa. Cooper dkk. (1987) mendefinisikan body dissatisfaction sebagai penilaian negatif individu terhadap bentuk tubuhnya sendiri yang melibatkan kecenderungan membandingkan citra tubuh dengan orang lain, pandangan yang berlebihan terhadap bentuk tubuh, hingga adanya perubahan persepsi terhadap tubuh yang dimiliki. Sementara itu, National Eating Disorders Association menjelaskan bahwa body dissatisfaction ditandai dengan munculnya rasa tidak puas terhadap tubuh, keyakinan bahwa orang lain lebih menarik, serta perasaan malu, cemas, dan tidak nyaman terhadap bentuk tubuh sendiri.

Cooper dkk. (1987) juga menjelaskan bahwa body dissatisfaction terdiri dari beberapa aspek, yaitu persepsi diri terhadap bentuk tubuh, kecenderungan membandingkan tubuh dengan orang lain, fokus berlebihan terhadap perubahan bentuk tubuh, serta perubahan persepsi tubuh secara drastis. Individu yang mengalami body dissatisfaction umumnya memiliki ketakutan berlebihan terhadap kenaikan berat badan dan merasa tubuhnya kurang ideal, sehingga mendorong mereka melakukan berbagai cara agar terlihat lebih kurus. Kondisi ini semakin diperkuat oleh fenomena media sosial di era modern yang sering menampilkan standar kecantikan tidak realistis dan identik dengan tubuh langsing.

Permasalahan body dissatisfaction dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan fisik maupun psikologis individu. Griffiths (2016) menyebutkan bahwa ketidakpuasan terhadap tubuh berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan makan dan penurunan kualitas hidup. Selain itu, Thouars (dalam Dewi dkk., 2020) mengungkapkan bahwa Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah penderita gangguan makan yang cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa body dissatisfaction bukan lagi sekadar masalah penampilan, tetapi telah menjadi persoalan kesehatan psikologis yang perlu mendapat perhatian serius, terutama pada remaja dan dewasa muda yang rentan terpapar standar tubuh ideal dari media sosial. Fenomena ini juga dapat dijelaskan melalui Social Comparison Theory yang dikemukakan oleh Festinger (1954), yang menyatakan bahwa individu memiliki kecenderungan alami untuk membandingkan diri mereka dengan orang lain dalam menilai kemampuan dan penampilan diri. Di era media sosial, perbandingan ini menjadi semakin intens karena individu terus-menerus terpapar gambaran tubuh ideal yang diedit dan dikurasi, sehingga meningkatkan ketidakpuasan terhadap tubuh sendiri (Rachmat dkk., 2024).

Baca Juga: Pemeriksaan Gratis Penyakit Zoonosis (Toxoplasmosis dan Leptospirosis) pada Kucing di Kecamatan Wonokromo Surabaya

Perspektif Psikologi Kesehatan terhadap Anoreksia

Psikologi kesehatan memandang anoreksia sebagai perilaku maladaptif yang dipengaruhi oleh faktor biopsikososial. Dari sisi biologis, pengaruh genetik dan ketidakseimbangan neurotransmitter dapat meningkatkan risiko terjadinya anoreksia, di mana individu tertentu memiliki kerentanan biologis yang lebih tinggi terhadap gangguan makan. Dari sisi psikologis, anoreksia berkaitan erat dengan rendahnya self-esteem, ketidakpuasan body image, harga diri yang rendah, serta kecenderungan menganggap kontrol atas makanan sebagai satu-satunya cara untuk merasa “berharga” atau diterima. Sementara dari sisi sosial dan lingkungan, keluarga, teman sebaya, dan media sosial memiliki pengaruh besar; komentar mengenai bentuk tubuh, tuntutan penampilan, hingga budaya diet dapat memperkuat perilaku anoreksia.

Upaya Pencegahan dan Penanganan

Dalam psikologi kesehatan beberapa upaya pencegahan anoreksia dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan seperti edukasi mengenai body positivity yaitu gerakan dan pola pikir sosial yang mempromosikan penerimaan semua bentuk, ukuran, dan kondisi fisik tubuh apa adanya, meningkatkan self love, serta membangun pola hidup sehat tanpa obsesi terhadap berat badan. Beberapa tips and tricks yang dapat dipraktikkan untuk membangun body positivity antara lain: (1) membatasi paparan konten media sosial yang memicu perbandingan tubuh dan memilih untuk mengikuti akun yang mempromosikan keberagaman tubuh; (2) melatih afirmasi positif terhadap diri sendiri secara rutin, seperti menghargai fungsi tubuh daripada hanya penampilan; (3) fokus pada aktivitas fisik yang menyenangkan dan menyehatkan, bukan semata demi penurunan berat badan; serta (4) mengembangkan hubungan yang sehat dengan makanan tanpa pelabelan “baik” atau “buruk” pada jenis makanan tertentu.

Dukungan sosial dari keluarga, teman, dan lingkungan sekitar juga memegang peran yang sangat penting. Taylor (2018) menjelaskan bahwa dukungan sosial merupakan salah satu faktor protektif utama dalam psikologi kesehatan, mencakup dukungan emosional, informasional, dan instrumental yang dapat membantu individu menghadapi tekanan. Dalam konteks anoreksia, individu yang memiliki jaringan dukungan sosial yang kuat cenderung lebih mampu menolak tekanan standar kecantikan yang tidak realistis, merasa diterima apa adanya, dan lebih cepat mencari bantuan profesional ketika diperlukan. Oleh karena itu, menciptakan lingkungan yang suportif, tidak mudah menghakimi penampilan orang lain, dan terbuka untuk berdialog tentang kesehatan mental merupakan langkah penting dalam pencegahan anoreksia.

Penanganan anoreksia biasanya melibatkan beberapa profesi sekaligus seperti dokter, psikolog, psikiater, dan ahli gizi. Salah satu intervensi dalam psikologi untuk membantu mengatasi masalah ini adalah Cognitive Behaviour Therapy (CBT) yang bertujuan untuk mengubah pola pikir negatif terhadap bentuk tubuh dan makanan menjadi lebih positif.

Fenomena anoreksia di era modern menunjukkan bahwa perkembangan teknologi dan media sosial tidak selalu membawa dampak positif bagi kesehatan mental. Standar kecantikan yang tidak realistis dapat membuat individu kehilangan penerimaan terhadap dirinya sendiri hingga melakukan perilaku yang membahayakan kesehatan. Melalui perspektif psikologi kesehatan, anoreksia dipahami sebagai hasil interaksi kompleks antara faktor biologis, psikologis, dan sosial. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mulai membangun kesadaran bahwa sehat tidak selalu berarti kurus, dan bahwa nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh bentuk tubuhnya.


Penulis: Endrina Juwita Zahra
Mahasiswa Psikologi Universitas Jambi


Dosen Pengampu: Hanna Widya Gultom, S.Psi., M.Psi., Psikolog


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Referensi

As, N. A., Mubarak, A. Y., Windarti, Y., Nadya, N. A., & Bariyah, K. K. (2023). Pengenalan gangguan makan pada remaja perempuan beserta faktor risikonya. Pros Semin Nas Pengabdi Kpd Masy, 3(1), 315-23.

Chairani, L. (2018). Body shame dan gangguan makan kajian meta-analisis. Buletin Psikologi, 26(1), 12-27. 10.22146/buletinpsikologi.27084

Darusman, M. R., Takdir, A. M., Jannah, R., Islam, U., & Banda, N. A. (2025). Efektivitas Terapi Kognitif-Perilaku Konvensional dan Berbasis Internet (iCBT) untuk Gangguan Makan: Tinjauan Perbandingan Berbasis Bukti. Fathana : Jurnal Psikologi Ar-Raniry, 3(1), 56–64.

Hendrawati, H., Amira, I., Maulana, I., & Senjaya, S. (2022). Gangguan makan dan perilaku bunuh diri pada remaja: Sebuah tinjauan literatur. http://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/holistik

Dewi, N. R., dkk. (2020). Gangguan makan pada remaja: Prevalensi dan faktor risiko di Indonesia. Jurnal Psikologi Indonesia, 9(2), 145–158.

Taylor, S. E. (2018). Health psychology (10th ed.). McGraw-Hill Education.

Rachmat, A. P., Riza, W. L., & Aisha, D. (2024). Body Dissatisfaction Ditinjau dari Social Comparison pada Perempuan Dewasa Awal di Kabupaten Karawang. GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling, 14(3), 613-624.

  • Penulis: TentangSehat.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Para pemateri dan Ketua AJI Pontianak berfoto bersama usai penyerahan sertifikat dalam diskusi Dampak Konsumsi Rokok

    AJI Jakarta dan AJI Pontianak Bahas Dampak Rokok terhadap Kesehatan dan Ekonomi Lewat Film “Di Balik Ilusi Tembakau”

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 41
    • 0Komentar

    Pontianak – Upaya meningkatkan pemahaman publik mengenai dampak konsumsi rokok dilakukan melalui pemutaran film dokumenter Di Balik Ilusi Tembakau yang diselenggarakan AJI Jakarta bersama AJI Pontianak di Pontianak, Kamis (4/6/2026). Kegiatan tersebut dirangkai dengan diskusi yang menghadirkan berbagai narasumber dari kalangan pemerintah, akademisi, pegiat pengendalian tembakau, hingga insan pers. Ketua AJI Pontianak, Rivaldi Ade Musliadi, […]

  • Dampak Kurang Minum Air Putih

    Dampak Buruk Kurangnya Minum Air Putih bagi Tubuh

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 80
    • 0Komentar

    Pendahuluan Air putih merupakan kebutuhan utama bagi tubuh manusia karena berperan penting dalam menjaga keseimbangan cairan, membantu proses metabolisme, serta menjaga fungsi organ tubuh agar tetap optimal. Namun, pada kenyataannya masih banyak masyarakat yang sering melupakan kebiasaan sederhana ini. Di tengah meningkatnya tren gaya hidup sehat dan pola makan seimbang, konsumsi air putih justru sering […]

  • Konsumsi Susu 2 Liter per Hari Baik untuk Tinggi Anak

    Fakta atau Menyesatkan: Konsumsi Susu 2 Liter per Hari Baik untuk Tinggi Anak

    • calendar_month Rabu, 2 Jul 2025
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 529
    • 0Komentar

    Kepala BGN Dr. Ir. Dadan Hindaya, menyatakan bahwa konsumsi susu 2 liter setiap hari efektif untuk meningkatkan tinggi badan anak, dibuktikan dengan tinggi kedua anaknya lebih dari 180 cm. Pernyataan ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan umum dan tenaga kesehatan. Apakah benar konsumsi susu 2 liter per hari baik untuk pertumbuhan atau justru membahayakan […]

  • Permasalahan Sampah di Indonesia

    Menanggulangi Permasalahan Sampah di Indonesia

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 88
    • 0Komentar

    Indonesia merupakan negara terluas di dunia dengan peringkat ke 15 berdasarkan perhitungan dari jumlah wilayah darat dan laut. Luas negara Indonesia mencapai 1,9 juta km² untuk wilayah daratannya. Sebagaimana luasnya wilayah suatu negara, maka jumlah penduduk Indonesia pun sangat tinggi. Penduduk Indonesia di tahun 2026 diperkirakan menembus 287-288 juta jiwa. Meningkatnya jumlah populasi di Indonesia […]

  • cara mengatasi flu

    7 Cara Mengatasi Flu dengan Obat Herbal yang Ampuh dan Terbukti Efektif

    • calendar_month Rabu, 29 Jan 2025
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 783
    • 0Komentar

    Flu adalah salah satu penyakit yang paling umum menyerang setiap tahunnya. Gejalanya seperti demam, pilek, sakit kepala, dan tubuh lemas bisa mengganggu aktivitas sehari-hari. Banyak orang mencari solusi alami untuk mengatasi flu dengan obat herbal. Yuk! Mari kita bahas cara mengatasi flu dengan obat herbal yang aman dan efektif berdasarkan data dan penelitian terbaru. Mengapa […]

  • Peran Mahasiswa Kedokteran

    Vaksinasi Media Sosial: Peran Mahasiswa Kedokteran Melawan Infodemik Kesehatan di Era Digital

    • calendar_month Senin, 3 Nov 2025
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 456
    • 0Komentar

    Di Tengah Ledakan Informasi Kesehatan Di era digital yang serba cepat, media sosial telah menjadi sumber utama masyarakat dalam mencari informasi kesehatan. Sayangnya, tidak semua informasi yang beredar dapat dipertanggungjawabkan. Mulai dari berita tentang “obat ajaib”, teori konspirasi tentang vaksin, hingga tips diet ekstrem tanpa dasar ilmiah—semuanya menyebar dengan cepat tanpa penyaring yang memadai. Fenomena […]

expand_less