Breaking!
light_mode
Trending
Beranda » Artikel » Anoreksia di Era Media Sosial: Ketika Standar Kecantikan Tubuh Ideal Menjadi Ancaman bagi Kesehatan Mental dan Fisik

Anoreksia di Era Media Sosial: Ketika Standar Kecantikan Tubuh Ideal Menjadi Ancaman bagi Kesehatan Mental dan Fisik

  • account_circle TentangSehat.com
  • calendar_month Senin, 8 Jun 2026
  • visibility 116
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Era digital saat ini, media sosial menjadi bagian tidak terpisahkan dari remaja dan dewasa awal. Hadirnya platform seperti Instagram, TikTok, X, dan YouTube dipenuhi dengan gaya hidup sehat, tips kecantikan, body goals, dan diet.

Berkat adanya konten berikut tidak sedikit pengguna yang akhirnya membandingkan diri mereka dengan standar tubuh yang sering berada di platform-platform media sosial tersebut. Akibatnya muncul ketidakpuasan body image yang memicu tekanan sosial untuk memiliki tubuh yang langsing, tinggi, kurus, yang dianggap sebagai bentuk tubuh “sempurna”.

Salah satu dampak dari fenomena tersebut munculnya risiko gangguan makan sebagai akibat dari usaha mendapatkan bentuk tubuh “sempurna”, terutama Anoreksia Nervosa. Anoreksia tidak hanya sebagai dorongan diet atau sekedar menjaga berat badan, melainkan gangguan mental yang memicu kerusakan psikis maupun fisik yang ekstrem. Dalam psikologi kesehatan, anoreksia dipandang sebagai hasil dari interaksi faktor biologis, psikologis, dan sosial yang mempengaruhi perilaku individu.

Apa itu Anoreksia Nervosa?

Anorexia nervosa merupakan gangguan makan yang membuat seseorang terobsesi akan berat badan yang sangat kecil sehingga mereka rela kelaparan atau bahkan berolahraga berlebihan.  Anorexia Nervosa ditandai dengan berat badan yang terlalu rendah dan rasa takut jika berat badannya naik. Hal ini membuat penderita membatasi asupan makan, karena merasa berat badannya berlebihan, meskipun pada kenyataannya, tubuhnya sudah ramping atau justru terlalu kurus. Gangguan ini tidak hanya berdampak pada gangguan psikologis, namun juga gangguan fisik seperti:

  1. Penurunan berat badan ekstrem;
  2. Siklus menstruasi berantakan atau tidak sama sekali;
  3. Tubuh lemas;
  4. Rambut rontok;
  5. Gangguan jantung;
  6. Resiko kematian;

Anoreksia juga memengaruhi kehidupan sosial dan emosional seseorang. Penderita sering mengalami stres, depresi, kecemasan, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga kesulitan berkonsentrasi dalam belajar atau bekerja. Ironisnya, keinginan untuk terlihat “sempurna” justru dapat membuat kualitas hidup seseorang menurun drastis.

Baca Juga: Upaya Pencegahan Penyakit Degeneratif pada Lansia melalui Edukasi Kesehatan Terpadu di Desa Lidah Tanah Serdang Begadai

Tren Masa Kini yang Memicu Anoreksia

Saat ini trend body goals dan budaya kewajiban tampil sempurna sedang banyak dibicarakan di sosial media. Banyak influencer atau public figure yang memamerkan tubuh langsing, mulus, tinggi sebagai simbol kesuksesan dan kebahagiaan seseorang, terutama dikalangan perempuan. Tak jarang muncul konten seperti “what I eat in a day”, diet ekstrem, challenge diet ala idol, filter yang mengubah bentuk tubuh, dan lain sebagainya. Fenomena ini mengakibatkan banyak pengguna sosial media terutama perempuan remaja dan dewasa muda mulai membandingkan diri mereka dengan standar kecantikan di media sosial dan mulai merasa harus mengubah bentuk tubuh agar diterima di lingkungan sosial.

Salah satu teori psikologi kesehatan menyebutkan bahwa fenomena ini disebut sebagai Body Dissatisfaction, yang menjadi salah satu faktor psikologis yang berhubungan erat dengan munculnya gangguan makan, termasuk anoreksia nervosa. Cooper dkk. (1987) mendefinisikan body dissatisfaction sebagai penilaian negatif individu terhadap bentuk tubuhnya sendiri yang melibatkan kecenderungan membandingkan citra tubuh dengan orang lain, pandangan yang berlebihan terhadap bentuk tubuh, hingga adanya perubahan persepsi terhadap tubuh yang dimiliki. Sementara itu, National Eating Disorders Association menjelaskan bahwa body dissatisfaction ditandai dengan munculnya rasa tidak puas terhadap tubuh, keyakinan bahwa orang lain lebih menarik, serta perasaan malu, cemas, dan tidak nyaman terhadap bentuk tubuh sendiri.

Cooper dkk. (1987) juga menjelaskan bahwa body dissatisfaction terdiri dari beberapa aspek, yaitu persepsi diri terhadap bentuk tubuh, kecenderungan membandingkan tubuh dengan orang lain, fokus berlebihan terhadap perubahan bentuk tubuh, serta perubahan persepsi tubuh secara drastis. Individu yang mengalami body dissatisfaction umumnya memiliki ketakutan berlebihan terhadap kenaikan berat badan dan merasa tubuhnya kurang ideal, sehingga mendorong mereka melakukan berbagai cara agar terlihat lebih kurus. Kondisi ini semakin diperkuat oleh fenomena media sosial di era modern yang sering menampilkan standar kecantikan tidak realistis dan identik dengan tubuh langsing.

Permasalahan body dissatisfaction dapat memberikan dampak negatif terhadap kesehatan fisik maupun psikologis individu. Griffiths (2016) menyebutkan bahwa ketidakpuasan terhadap tubuh berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan makan dan penurunan kualitas hidup. Selain itu, Thouars (dalam Dewi dkk., 2020) mengungkapkan bahwa Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah penderita gangguan makan yang cukup tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa body dissatisfaction bukan lagi sekadar masalah penampilan, tetapi telah menjadi persoalan kesehatan psikologis yang perlu mendapat perhatian serius, terutama pada remaja dan dewasa muda yang rentan terpapar standar tubuh ideal dari media sosial. Fenomena ini juga dapat dijelaskan melalui Social Comparison Theory yang dikemukakan oleh Festinger (1954), yang menyatakan bahwa individu memiliki kecenderungan alami untuk membandingkan diri mereka dengan orang lain dalam menilai kemampuan dan penampilan diri. Di era media sosial, perbandingan ini menjadi semakin intens karena individu terus-menerus terpapar gambaran tubuh ideal yang diedit dan dikurasi, sehingga meningkatkan ketidakpuasan terhadap tubuh sendiri (Rachmat dkk., 2024).

Baca Juga: Pemeriksaan Gratis Penyakit Zoonosis (Toxoplasmosis dan Leptospirosis) pada Kucing di Kecamatan Wonokromo Surabaya

Perspektif Psikologi Kesehatan terhadap Anoreksia

Psikologi kesehatan memandang anoreksia sebagai perilaku maladaptif yang dipengaruhi oleh faktor biopsikososial. Dari sisi biologis, pengaruh genetik dan ketidakseimbangan neurotransmitter dapat meningkatkan risiko terjadinya anoreksia, di mana individu tertentu memiliki kerentanan biologis yang lebih tinggi terhadap gangguan makan. Dari sisi psikologis, anoreksia berkaitan erat dengan rendahnya self-esteem, ketidakpuasan body image, harga diri yang rendah, serta kecenderungan menganggap kontrol atas makanan sebagai satu-satunya cara untuk merasa “berharga” atau diterima. Sementara dari sisi sosial dan lingkungan, keluarga, teman sebaya, dan media sosial memiliki pengaruh besar; komentar mengenai bentuk tubuh, tuntutan penampilan, hingga budaya diet dapat memperkuat perilaku anoreksia.

Upaya Pencegahan dan Penanganan

Dalam psikologi kesehatan beberapa upaya pencegahan anoreksia dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan seperti edukasi mengenai body positivity yaitu gerakan dan pola pikir sosial yang mempromosikan penerimaan semua bentuk, ukuran, dan kondisi fisik tubuh apa adanya, meningkatkan self love, serta membangun pola hidup sehat tanpa obsesi terhadap berat badan. Beberapa tips and tricks yang dapat dipraktikkan untuk membangun body positivity antara lain: (1) membatasi paparan konten media sosial yang memicu perbandingan tubuh dan memilih untuk mengikuti akun yang mempromosikan keberagaman tubuh; (2) melatih afirmasi positif terhadap diri sendiri secara rutin, seperti menghargai fungsi tubuh daripada hanya penampilan; (3) fokus pada aktivitas fisik yang menyenangkan dan menyehatkan, bukan semata demi penurunan berat badan; serta (4) mengembangkan hubungan yang sehat dengan makanan tanpa pelabelan “baik” atau “buruk” pada jenis makanan tertentu.

Dukungan sosial dari keluarga, teman, dan lingkungan sekitar juga memegang peran yang sangat penting. Taylor (2018) menjelaskan bahwa dukungan sosial merupakan salah satu faktor protektif utama dalam psikologi kesehatan, mencakup dukungan emosional, informasional, dan instrumental yang dapat membantu individu menghadapi tekanan. Dalam konteks anoreksia, individu yang memiliki jaringan dukungan sosial yang kuat cenderung lebih mampu menolak tekanan standar kecantikan yang tidak realistis, merasa diterima apa adanya, dan lebih cepat mencari bantuan profesional ketika diperlukan. Oleh karena itu, menciptakan lingkungan yang suportif, tidak mudah menghakimi penampilan orang lain, dan terbuka untuk berdialog tentang kesehatan mental merupakan langkah penting dalam pencegahan anoreksia.

Penanganan anoreksia biasanya melibatkan beberapa profesi sekaligus seperti dokter, psikolog, psikiater, dan ahli gizi. Salah satu intervensi dalam psikologi untuk membantu mengatasi masalah ini adalah Cognitive Behaviour Therapy (CBT) yang bertujuan untuk mengubah pola pikir negatif terhadap bentuk tubuh dan makanan menjadi lebih positif.

Fenomena anoreksia di era modern menunjukkan bahwa perkembangan teknologi dan media sosial tidak selalu membawa dampak positif bagi kesehatan mental. Standar kecantikan yang tidak realistis dapat membuat individu kehilangan penerimaan terhadap dirinya sendiri hingga melakukan perilaku yang membahayakan kesehatan. Melalui perspektif psikologi kesehatan, anoreksia dipahami sebagai hasil interaksi kompleks antara faktor biologis, psikologis, dan sosial. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mulai membangun kesadaran bahwa sehat tidak selalu berarti kurus, dan bahwa nilai diri seseorang tidak ditentukan oleh bentuk tubuhnya.


Penulis: Endrina Juwita Zahra
Mahasiswa Psikologi Universitas Jambi


Dosen Pengampu: Hanna Widya Gultom, S.Psi., M.Psi., Psikolog


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Referensi

As, N. A., Mubarak, A. Y., Windarti, Y., Nadya, N. A., & Bariyah, K. K. (2023). Pengenalan gangguan makan pada remaja perempuan beserta faktor risikonya. Pros Semin Nas Pengabdi Kpd Masy, 3(1), 315-23.

Chairani, L. (2018). Body shame dan gangguan makan kajian meta-analisis. Buletin Psikologi, 26(1), 12-27. 10.22146/buletinpsikologi.27084

Darusman, M. R., Takdir, A. M., Jannah, R., Islam, U., & Banda, N. A. (2025). Efektivitas Terapi Kognitif-Perilaku Konvensional dan Berbasis Internet (iCBT) untuk Gangguan Makan: Tinjauan Perbandingan Berbasis Bukti. Fathana : Jurnal Psikologi Ar-Raniry, 3(1), 56–64.

Hendrawati, H., Amira, I., Maulana, I., & Senjaya, S. (2022). Gangguan makan dan perilaku bunuh diri pada remaja: Sebuah tinjauan literatur. http://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/holistik

Dewi, N. R., dkk. (2020). Gangguan makan pada remaja: Prevalensi dan faktor risiko di Indonesia. Jurnal Psikologi Indonesia, 9(2), 145–158.

Taylor, S. E. (2018). Health psychology (10th ed.). McGraw-Hill Education.

Rachmat, A. P., Riza, W. L., & Aisha, D. (2024). Body Dissatisfaction Ditinjau dari Social Comparison pada Perempuan Dewasa Awal di Kabupaten Karawang. GUIDENA: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling, 14(3), 613-624.

  • Penulis: TentangSehat.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mammografi untuk Mencegah Kanker Payudara

    Pentingnya Mammografi untuk Mencegah Kanker Payudara

    • calendar_month Sabtu, 26 Jul 2025
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 527
    • 0Komentar

    Kanker payudara merupakan salah satu jenis kanker paling umum yang menyerang wanita di seluruh dunia. Di Indonesia, angka kejadian kanker payudara terus meningkat setiap tahunnya. Namun, dengan deteksi dini melalui mammografi, angka kematian akibat kanker payudara dapat ditekan secara signifikan. Apa itu Mammografi? Mammografi adalah prosedur pencitraan medis menggunakan sinar-X dosis rendah untuk memeriksa jaringan […]

  • PMT Bubur Sumsum

    Peran Posyandu dalam Mencegah Stunting melalui PMT Bubur Sumsum berbasis Daun Kelor dan Kacang Merah

    • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 282
    • 0Komentar

    Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak pada pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan produktivitas jangka panjang. Posyandu sebagai layanan kesehatan berbasis masyarakat memiliki peran strategis dalam pencegahan stunting melalui pemantauan pertumbuhan, edukasi gizi, dan intervensi gizi spesifik, seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Artikel ini bertujuan menganalisis potensi PMT bubur sumsum berbasis daun kelor (Moringa oleifera) […]

  • hubungan religiusitas dan kesehatan mental

    Ketika Iman Tidak Menghapus Penderitaan: Memahami Religiusitas dan Kesehatan Mental

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 138
    • 0Komentar

    Sebuah laporan dari Pusat Penelitian Pew Research Center menunjukkan bahwa mayoritas orang Indonesia menganggap agama sangat penting dalam hidup mereka, dan Indonesia termasuk dalam kelompok negara yang sangat religius di seluruh dunia. Lebih dari 90% orang Indonesia yang menjawab menyatakan bahwa agama sangat penting dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dan jika dibandingkan dengan negara lain tingkat […]

  • Cara Mengobati Bronkitis dengan Obat Herbal

    7 Cara Mengobati Bronkitis dengan Obat Herbal yang Terbukti Efektif

    • calendar_month Senin, 20 Jan 2025
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 541
    • 0Komentar

    Bronkitis merupakan kondisi peradangan pada saluran bronkial yang dapat menyebabkan batuk, sesak napas, dan ketidaknyamanan. Nah, mari kita bahas cara mengobati bronkitis dengan obat herbal. Walaupun pengobatan medis konvensional tersedia, semakin banyak orang mencari cara mengobati bronkitis dengan obat herbal sebagai alternatif yang lebih alami dan minim efek samping. Pada artikel ini, kamu akan menemukan […]

  • Cara Mengobati Diabetes dengan Obat Herbal

    7 Cara Mengobati Diabetes secara Alami dengan Obat Herbal yang Efektif

    • calendar_month Selasa, 10 Des 2024
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 537
    • 0Komentar

    Diabetes melitus adalah penyakit yang semakin banyak dialami oleh masyarakat di seluruh dunia. Penyakit ini terjadi ketika tubuh tidak dapat memproduksi insulin dengan cukup atau tidak dapat menggunakan insulin dengan efektif. Insulin adalah hormon yang sangat penting untuk mengatur kadar gula darah. Salah satu cara untuk mengelola diabetes adalah dengan menggunakan obat herbal. Selanjutnya, mari […]

  • darurat sampah plastik

    Lingkungan Darurat Sampah: Analisis Krisis, Dampak, dan Solusi

    • calendar_month Kamis, 27 Nov 2025
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 474
    • 0Komentar

    Abstrak Krisis sampah global, termasuk di Indonesia, semakin memburuk akibat tingginya pola konsumsi dan produksi material sekali pakai, terutama plastik. Artikel ini membahas penyebab utama meningkatnya volume sampah, dampaknya terhadap lingkungan, kesehatan manusia, dan ekonomi, serta berbagai upaya yang telah dan dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan ini. Analisis turut menyoroti kondisi pengelolaan sampah nasional dan […]

expand_less