Kebiasaan Minum Teh di Indonesia dan Kaitannya dengan Zat Tanin sebagai Faktor Risiko Anemia
- account_circle tentangsehatcom
- calendar_month Jum, 16 Jan 2026
- visibility 224
- comment 0 komentar

Seduhan Teh Hangat (Foto: Dok. MMI)
Pendahuluan
Teh merupakan salah satu minuman yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.
Minuman ini tidak hanya dikonsumsi sebagai pelepas dahaga, tetapi juga telah menjadi bagian dari budaya sosial dan kebiasaan sehari-hari.
Teh sering disajikan di pagi hari, saat bersantai di sore hari, maupun sebagai pelengkap hidangan setelah makan.
Kebiasaan minum teh ini diwariskan secara turun-temurun dan masih bertahan hingga saat ini.
Meningkatnya perhatian terhadap masalah gizi, khususnya anemia defisiensi besi, membuat kebiasaan konsumsi teh perlu ditinjau dari sudut pandang kesehatan.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi teh dalam waktu yang tidak tepat dapat memengaruhi penyerapan zat besi dalam tubuh.
Hal ini berkaitan dengan kandungan zat tanin dalam teh yang dapat menghambat ketersediaan zat besi bagi tubuh (Hurrell & Egli, 2019).
Baca Juga: Cegah Komplikasi: Kenali Cara Mengontrol Hipertensi pada Lansia
Kebiasaan Minum Teh dalam Masyarakat Indonesia
Masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan mengonsumsi teh dalam berbagai situasi.
Teh sering diminum sebagai minuman pembuka di pagi hari, teman berbincang di sore hari, hingga minuman pendamping makanan.
Di banyak rumah makan dan warung, teh bahkan disajikan secara otomatis bersama makanan.
Kebiasaan ini menunjukkan bahwa teh telah menjadi minuman yang dianggap aman dan menyehatkan.
Kebiasaan minum teh setelah makan cukup umum dilakukan tanpa disadari dampaknya terhadap kesehatan.
Beberapa penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa kebiasaan ini cukup sering ditemukan pada remaja dan orang dewasa, terutama pada kelompok perempuan.
Konsumsi teh yang rutin setelah makan dapat memengaruhi penyerapan zat gizi tertentu, khususnya zat besi, yang berperan penting dalam pembentukan sel darah merah (Sari et al., 2018).
Selain faktor budaya, harga teh yang terjangkau dan ketersediaannya yang luas turut memperkuat kebiasaan ini.
Akibatnya, meskipun teh memiliki manfaat sebagai sumber antioksidan, pola konsumsi yang kurang tepat dapat menimbulkan risiko kesehatan jangka panjang apabila tidak diimbangi dengan pemahaman gizi yang baik.
Baca Juga: Tips Menjaga Kesehatan di Era Perubahan Cuaca yang Ekstrem
Kandungan Zat Tanin dalam Teh
Teh mengandung berbagai senyawa bioaktif, salah satunya adalah tanin. Tanin termasuk dalam kelompok polifenol yang memberikan rasa sepat dan khas pada teh.
Kandungan tanin lebih tinggi pada teh hitam dibandingkan teh hijau, terutama jika diseduh dalam waktu yang lama (McKay & Blumberg, 2017).
Secara kimia, tanin memiliki kemampuan untuk mengikat mineral, termasuk zat besi.
Ikatan antara tanin dan zat besi membentuk senyawa yang sulit larut, sehingga tidak dapat diserap secara optimal oleh usus halus.
Proses ini terutama memengaruhi zat besi nonheme yang berasal dari bahan pangan nabati, seperti sayuran, kacang-kacangan, dan serealia (Hurrell & Egli, 2019).
Meskipun tanin memiliki manfaat sebagai antioksidan dan pelindung sel, sifatnya yang menghambat penyerapan zat besi menjadikannya perhatian khusus dalam konteks kesehatan masyarakat, terutama pada populasi dengan risiko anemia yang tinggi.
Baca Juga: Mengenal MSG Lebih Dekat: Penguat Rasa yang Sering disalahpahami
Hubungan Zat Tanin dengan Anemia Defisiensi Besi
Anemia defisiensi besi merupakan kondisi ketika tubuh kekurangan zat besi sehingga produksi hemoglobin menurun.
Hemoglobin berfungsi membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh, sehingga kekurangannya dapat menyebabkan gejala, seperti mudah lelah, pusing, pucat, dan menurunnya konsentrasi (WHO, 2020).
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi teh secara rutin setelah makan berhubungan dengan rendahnya kadar hemoglobin.
Penelitian pada remaja putri di Indonesia menemukan bahwa mereka yang memiliki kebiasaan minum teh setelah makan lebih berisiko mengalami anemia dibandingkan mereka yang tidak memiliki kebiasaan tersebut (Sari et al., 2018).
Hal ini menunjukkan bahwa faktor kebiasaan sehari-hari berperan penting dalam status gizi seseorang.
Penelitian internasional juga memperkuat temuan ini. Studi eksperimental menunjukkan bahwa konsumsi teh bersamaan dengan makanan dapat menurunkan penyerapan zat besi hingga lebih dari 60%, tergantung pada kandungan tanin dan jenis makanan yang dikonsumsi (Thankachan et al., 2017).
Jika kebiasaan ini berlangsung dalam jangka panjang, maka cadangan zat besi dalam tubuh dapat menurun dan memicu anemia.
Baca Juga: 7 Cara Mengatasi Flu dengan Obat Herbal yang Ampuh dan Terbukti Efektif
Kelompok Rentan terhadap Dampak Konsumsi Teh
Beberapa kelompok masyarakat lebih rentan terhadap dampak negatif konsumsi teh terkait anemia.
Remaja putri, misalnya, memiliki kebutuhan zat besi yang lebih tinggi akibat menstruasi dan pertumbuhan.
Kebiasaan minum teh setelah makan pada kelompok ini dapat memperburuk risiko anemia defisiensi besi (Permaesih & Herman, 2019).
Ibu hamil juga termasuk kelompok rentan. Kebutuhan zat besi meningkat selama kehamilan untuk mendukung pertumbuhan janin dan peningkatan volume darah ibu.
Konsumsi teh yang tidak terkontrol dapat menghambat pemenuhan kebutuhan zat besi tersebut dan berpotensi meningkatkan risiko anemia kehamilan (Kassebaum, 2016).
Baca Juga: Cegah Overweight pada Balita dengan Edukasi Permainan Engklek
Cara Aman Mengonsumsi Teh
Meskipun memiliki potensi menghambat penyerapan zat besi, teh tetap dapat dikonsumsi secara aman apabila dilakukan dengan cara yang tepat.
Salah satu cara yang dianjurkan adalah memberi jarak waktu antara makan dan minum teh, yaitu sekitar satu hingga dua jam.
Cara ini dapat mengurangi interaksi antara tanin dan zat besi dalam saluran pencernaan (Hurrell & Egli, 2019).
Mengombinasikan makanan sumber zat besi dengan vitamin C dapat membantu meningkatkan penyerapan zat besi.
Vitamin C mampu melawan efek penghambatan tanin, sehingga zat besi tetap dapat diserap dengan lebih baik oleh tubuh (Gibson et al., 2018).
Baca Juga: Sulawesi Barat dan Mimpi Besar Menghapus Stunting
Penutup
Kebiasaan minum teh di Indonesia merupakan bagian dari budaya yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat.
Namun, kebiasaan ini perlu disikapi dengan bijak, terutama terkait waktu konsumsinya.
Kandungan zat tanin dalam teh terbukti dapat menghambat penyerapan zat besi dan meningkatkan risiko anemia jika dikonsumsi secara tidak tepat.
Melalui pemahaman yang baik tentang hubungan antara teh, tanin, dan anemia, masyarakat diharapkan dapat mempertahankan kebiasaan minum teh tanpa mengorbankan kesehatan.
Edukasi gizi dan perubahan kebiasaan sederhana, seperti mengatur waktu minum teh, dapat menjadi langkah penting dalam mencegah anemia di Indonesia.
Penulis: Rachma Kamila
Mahasiswa Prodi Gizi, Universitas Binawan
Dosen Pengampu: Apriani Riyanti, S.Pd., M.Pd.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
Gibson, R. S., Bailey, K. B., Gibbs, M., & Ferguson, E. L. (2018). A review of phytate, iron, zinc, and calcium concentrations in plant-based complementary foods used in low-income countries. Nutrition Reviews, 76(10), 1–14.
Hurrell, R., & Egli, I. (2019). Iron bioavailability and dietary reference values. The American Journal of Clinical Nutrition, 109(4), 1–8.
Kassebaum, N. J. (2016). The global burden of anemia. Hematology/Oncology Clinics of North America, 30(2), 247–308.
McKay, D. L., & Blumberg, J. B. (2017). The role of tea in human health. Journal of the American College of Nutrition, 36(2), 1–13.
Permaesih, D., & Herman, S. (2019). Faktor-faktor yang memengaruhi anemia pada remaja. Penelitian Gizi dan Makanan, 42(1), 1–10.
Sari, M., Utami, N. H., & Lestari, D. (2018). Hubungan kebiasaan minum teh dengan kejadian anemia pada remaja putri. Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 14(3), 123–130.
Thankachan, P., Walczyk, T., Muthayya, S., Kurpad, A. V., & Hurrell, R. F. (2017). Iron absorption in young Indian women: The influence of tea and ascorbic acid. The American Journal of Clinical Nutrition, 106(6), 1–8.
World Health Organization. (2020). WHO guidelines on use of ferritin concentrations to assess iron status. WHO Press.
- Penulis: tentangsehatcom


Saat ini belum ada komentar