Breaking News
light_mode
Trending
Beranda » Artikel » Kebiasaan Minum Teh di Indonesia dan Kaitannya dengan Zat Tanin sebagai Faktor Risiko Anemia

Kebiasaan Minum Teh di Indonesia dan Kaitannya dengan Zat Tanin sebagai Faktor Risiko Anemia

  • account_circle tentangsehatcom
  • calendar_month Jum, 16 Jan 2026
  • visibility 326
  • comment 1 komentar

Pendahuluan

Teh merupakan salah satu minuman yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Minuman ini tidak hanya dikonsumsi sebagai pelepas dahaga, tetapi juga telah menjadi bagian dari budaya sosial dan kebiasaan sehari-hari.

Teh sering disajikan di pagi hari, saat bersantai di sore hari, maupun sebagai pelengkap hidangan setelah makan.

Kebiasaan minum teh ini diwariskan secara turun-temurun dan masih bertahan hingga saat ini.

Meningkatnya perhatian terhadap masalah gizi, khususnya anemia defisiensi besi, membuat kebiasaan konsumsi teh perlu ditinjau dari sudut pandang kesehatan.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi teh dalam waktu yang tidak tepat dapat memengaruhi penyerapan zat besi dalam tubuh.

Hal ini berkaitan dengan kandungan zat tanin dalam teh yang dapat menghambat ketersediaan zat besi bagi tubuh (Hurrell & Egli, 2019).

Baca Juga: Cegah Komplikasi: Kenali Cara Mengontrol Hipertensi pada Lansia

Kebiasaan Minum Teh dalam Masyarakat Indonesia

Masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan mengonsumsi teh dalam berbagai situasi.

Teh sering diminum sebagai minuman pembuka di pagi hari, teman berbincang di sore hari, hingga minuman pendamping makanan.

Di banyak rumah makan dan warung, teh bahkan disajikan secara otomatis bersama makanan.

Kebiasaan ini menunjukkan bahwa teh telah menjadi minuman yang dianggap aman dan menyehatkan.

Kebiasaan minum teh setelah makan cukup umum dilakukan tanpa disadari dampaknya terhadap kesehatan.

Beberapa penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa kebiasaan ini cukup sering ditemukan pada remaja dan orang dewasa, terutama pada kelompok perempuan.

Konsumsi teh yang rutin setelah makan dapat memengaruhi penyerapan zat gizi tertentu, khususnya zat besi, yang berperan penting dalam pembentukan sel darah merah (Sari et al., 2018).

Selain faktor budaya, harga teh yang terjangkau dan ketersediaannya yang luas turut memperkuat kebiasaan ini.

Akibatnya, meskipun teh memiliki manfaat sebagai sumber antioksidan, pola konsumsi yang kurang tepat dapat menimbulkan risiko kesehatan jangka panjang apabila tidak diimbangi dengan pemahaman gizi yang baik.

Baca Juga: Tips Menjaga Kesehatan di Era Perubahan Cuaca yang Ekstrem

Kandungan Zat Tanin dalam Teh

Teh mengandung berbagai senyawa bioaktif, salah satunya adalah tanin. Tanin termasuk dalam kelompok polifenol yang memberikan rasa sepat dan khas pada teh.

Kandungan tanin lebih tinggi pada teh hitam dibandingkan teh hijau, terutama jika diseduh dalam waktu yang lama (McKay & Blumberg, 2017).

Secara kimia, tanin memiliki kemampuan untuk mengikat mineral, termasuk zat besi.

Ikatan antara tanin dan zat besi membentuk senyawa yang sulit larut, sehingga tidak dapat diserap secara optimal oleh usus halus.

Proses ini terutama memengaruhi zat besi nonheme yang berasal dari bahan pangan nabati, seperti sayuran, kacang-kacangan, dan serealia (Hurrell & Egli, 2019).

Meskipun tanin memiliki manfaat sebagai antioksidan dan pelindung sel, sifatnya yang menghambat penyerapan zat besi menjadikannya perhatian khusus dalam konteks kesehatan masyarakat, terutama pada populasi dengan risiko anemia yang tinggi.

Baca Juga: Mengenal MSG Lebih Dekat: Penguat Rasa yang Sering disalahpahami

Hubungan Zat Tanin dengan Anemia Defisiensi Besi

Anemia defisiensi besi merupakan kondisi ketika tubuh kekurangan zat besi sehingga produksi hemoglobin menurun.

Hemoglobin berfungsi membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh, sehingga kekurangannya dapat menyebabkan gejala, seperti mudah lelah, pusing, pucat, dan menurunnya konsentrasi (WHO, 2020).

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi teh secara rutin setelah makan berhubungan dengan rendahnya kadar hemoglobin.

Penelitian pada remaja putri di Indonesia menemukan bahwa mereka yang memiliki kebiasaan minum teh setelah makan lebih berisiko mengalami anemia dibandingkan mereka yang tidak memiliki kebiasaan tersebut (Sari et al., 2018).

Hal ini menunjukkan bahwa faktor kebiasaan sehari-hari berperan penting dalam status gizi seseorang.

Penelitian internasional juga memperkuat temuan ini. Studi eksperimental menunjukkan bahwa konsumsi teh bersamaan dengan makanan dapat menurunkan penyerapan zat besi hingga lebih dari 60%, tergantung pada kandungan tanin dan jenis makanan yang dikonsumsi (Thankachan et al., 2017).

Jika kebiasaan ini berlangsung dalam jangka panjang, maka cadangan zat besi dalam tubuh dapat menurun dan memicu anemia.

Baca Juga: 7 Cara Mengatasi Flu dengan Obat Herbal yang Ampuh dan Terbukti Efektif

Kelompok Rentan terhadap Dampak Konsumsi Teh

Beberapa kelompok masyarakat lebih rentan terhadap dampak negatif konsumsi teh terkait anemia.

Remaja putri, misalnya, memiliki kebutuhan zat besi yang lebih tinggi akibat menstruasi dan pertumbuhan.

Kebiasaan minum teh setelah makan pada kelompok ini dapat memperburuk risiko anemia defisiensi besi (Permaesih & Herman, 2019).

Ibu hamil juga termasuk kelompok rentan. Kebutuhan zat besi meningkat selama kehamilan untuk mendukung pertumbuhan janin dan peningkatan volume darah ibu.

Konsumsi teh yang tidak terkontrol dapat menghambat pemenuhan kebutuhan zat besi tersebut dan berpotensi meningkatkan risiko anemia kehamilan (Kassebaum, 2016).

Baca Juga: Cegah Overweight pada Balita dengan Edukasi Permainan Engklek

Cara Aman Mengonsumsi Teh

Meskipun memiliki potensi menghambat penyerapan zat besi, teh tetap dapat dikonsumsi secara aman apabila dilakukan dengan cara yang tepat.

Salah satu cara yang dianjurkan adalah memberi jarak waktu antara makan dan minum teh, yaitu sekitar satu hingga dua jam.

Cara ini dapat mengurangi interaksi antara tanin dan zat besi dalam saluran pencernaan (Hurrell & Egli, 2019).

Mengombinasikan makanan sumber zat besi dengan vitamin C dapat membantu meningkatkan penyerapan zat besi.

Vitamin C mampu melawan efek penghambatan tanin, sehingga zat besi tetap dapat diserap dengan lebih baik oleh tubuh (Gibson et al., 2018).

Baca Juga: Sulawesi Barat dan Mimpi Besar Menghapus Stunting

Penutup

Kebiasaan minum teh di Indonesia merupakan bagian dari budaya yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat.

Namun, kebiasaan ini perlu disikapi dengan bijak, terutama terkait waktu konsumsinya.

Kandungan zat tanin dalam teh terbukti dapat menghambat penyerapan zat besi dan meningkatkan risiko anemia jika dikonsumsi secara tidak tepat.

Melalui pemahaman yang baik tentang hubungan antara teh, tanin, dan anemia, masyarakat diharapkan dapat mempertahankan kebiasaan minum teh tanpa mengorbankan kesehatan.

Edukasi gizi dan perubahan kebiasaan sederhana, seperti mengatur waktu minum teh, dapat menjadi langkah penting dalam mencegah anemia di Indonesia.


Rachma Kamila

Penulis: Rachma Kamila
Mahasiswa Prodi Gizi, Universitas Binawan


Dosen Pengampu: Apriani Riyanti, S.Pd., M.Pd.


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka 

Gibson, R. S., Bailey, K. B., Gibbs, M., & Ferguson, E. L. (2018). A review of phytate, iron, zinc, and calcium concentrations in plant-based complementary foods used in low-income countries. Nutrition Reviews, 76(10), 1–14.

Hurrell, R., & Egli, I. (2019). Iron bioavailability and dietary reference values. The American Journal of Clinical Nutrition, 109(4), 1–8.

Kassebaum, N. J. (2016). The global burden of anemia. Hematology/Oncology Clinics of North America, 30(2), 247–308.

McKay, D. L., & Blumberg, J. B. (2017). The role of tea in human health. Journal of the American College of Nutrition, 36(2), 1–13.

Permaesih, D., & Herman, S. (2019). Faktor-faktor yang memengaruhi anemia pada remaja. Penelitian Gizi dan Makanan, 42(1), 1–10.

Sari, M., Utami, N. H., & Lestari, D. (2018). Hubungan kebiasaan minum teh dengan kejadian anemia pada remaja putri. Jurnal Gizi Klinik Indonesia, 14(3), 123–130.

Thankachan, P., Walczyk, T., Muthayya, S., Kurpad, A. V., & Hurrell, R. F. (2017). Iron absorption in young Indian women: The influence of tea and ascorbic acid. The American Journal of Clinical Nutrition, 106(6), 1–8.

World Health Organization. (2020). WHO guidelines on use of ferritin concentrations to assess iron status. WHO Press.

  • Penulis: tentangsehatcom

Komentar (1)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Para pemateri dan Ketua AJI Pontianak berfoto bersama usai penyerahan sertifikat dalam diskusi Dampak Konsumsi Rokok

    AJI Jakarta dan AJI Pontianak Bahas Dampak Rokok terhadap Kesehatan dan Ekonomi Lewat Film “Di Balik Ilusi Tembakau”

    • calendar_month Jum, 5 Jun 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 15
    • 0Komentar

    Pontianak – Upaya meningkatkan pemahaman publik mengenai dampak konsumsi rokok dilakukan melalui pemutaran film dokumenter Di Balik Ilusi Tembakau yang diselenggarakan AJI Jakarta bersama AJI Pontianak di Pontianak, Kamis (4/6/2026). Kegiatan tersebut dirangkai dengan diskusi yang menghadirkan berbagai narasumber dari kalangan pemerintah, akademisi, pegiat pengendalian tembakau, hingga insan pers. Ketua AJI Pontianak, Rivaldi Ade Musliadi, […]

  • Cara Kirim Artikel Tentang Kesehatan ke Media Online 100% Terbit

    Cara Kirim Artikel Tentang Kesehatan ke Media Online: 100% Terbit

    • calendar_month Ming, 22 Jun 2025
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 526
    • 0Komentar

    Cara kirim artikel tentang kesehatan ke media online menjadi strategi efektif menyebarkan informasi bermanfaat ke publik. Dalam dunia digital saat ini, kebutuhan akan konten kesehatan yang akurat dan edukatif semakin tinggi. Kamu bisa membantu masyarakat lebih sadar akan pentingnya kesehatan dengan menulis dan menyebarkan artikel. Menulis artikel kesehatan bukan hanya soal berbagi ilmu, tapi juga […]

  • Obat alami untuk Alergi Kulit dengan Obat Alami yang Terbukti Efektif

    7 Obat Alami untuk Alergi Kulit yang Terbukti Efektif

    • calendar_month Sen, 6 Jan 2025
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 523
    • 0Komentar

    Alergi kulit merupakan kondisi yang sering dialami oleh banyak orang di seluruh dunia. Gejalanya, seperti gatal, kemerahan, dan bengkak, dapat mengganggu kualitas hidup. Ternyata ada banyak obat alami untuk alergi kulit yang bisa kamu gunakan. Pengobatan untuk alergi kulit dengan obat alami semakin populer sebagai alternatif yang lebih aman dan minim efek samping dibandingkan dengan […]

  • Hipertensi dan Diabetes

    Program Inovasi “PEPET SI DIA” (Pemantauan Penderita Hipertensi dan Diabetes dengan Kartu Merah Muda) di Puskesmas Patikraja

    • calendar_month Ming, 22 Mar 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan prevalensi hipertensi (HT) di Indonesia pada tahun 2023 mencapai 30,8% dan prevalensi diabetes melitus (DM) sebesar 1,7%. Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi hipertensi meningkat dari 25,8% menjadi 34,1% pada usia 18 tahun ke atas, sedangkan prevalensi DM meningkat dari 6,9% menjadi 10,9% pada usia ≥ 15 tahun. Dari data program […]

  • Pembasmi rayap paling ampuh

    Rekomendasi Obat Anti Rayap: Pembasmi Rayap Paling Ampuh

    • calendar_month Kam, 7 Agu 2025
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 504
    • 0Komentar

    Rayap bisa menjadi musuh besar bagi rumah, terutama jika Kamu tidak cepat mengambil tindakan. Dalam dunia properti, rayap adalah salah satu hama paling merusak. Karena itu, penting untuk mengetahui pembasmi rayap paling ampuh yang dapat benar-benar mengatasi infestasi rayap dari akarnya. Artikel ini akan membahas berbagai rekomendasi obat anti rayap terbaik, jenis rayap, dampak serangannya, […]

  • Pemeriksaan Kesehatan

    Healthy Village Movement: Edukasi dan Pemeriksaan Kesehatan Masyarakat Desa

    • calendar_month Jum, 29 Mei 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 35
    • 0Komentar

    Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta dari Program Studi Akuntansi menggelar sosialisasi bertema “Kegiatan Edukasi dan Pemeriksaan Kesehatan Masyarakat Desa”. Dalam rangka mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin 3 mengenai Good Health and Well-Being, mahasiswa Program Studi Akuntansi Universitas Negeri Yogyakarta melaksanakan kegiatan sosialisasi kepada masyarakat melalui program pemeriksaan dan edukasi kesehatan di lingkungan desa. Kegiatan ini […]

expand_less