Breaking!
light_mode
Trending
Beranda » Artikel » Mengenal MSG Lebih Dekat: Penguat Rasa yang Sering disalahpahami

Mengenal MSG Lebih Dekat: Penguat Rasa yang Sering disalahpahami

  • account_circle TentangSehat.com
  • calendar_month Senin, 5 Jan 2026
  • visibility 330
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Monosodium Glutamate atau lebih dikenal sebagai MSG atau vetsin merupakan salah satu bahan tambahan pangan (BTP) golongan penguat rasa. Bahan tambahan pangan ini telah lama digunakan oleh masyarakat untuk menghadirkan karakteristik cita rasa gurih atau umami pada berbagai masakan, baik dari tingkat industri pangan maupun dapur rumah tangga.

Secara kimia, Monosodium Glutamate memiliki rumus kimia C₅H₈NO₄Na dan merupakan bentuk garam dari asam glutamat, yaitu salah satu asam amino yang secara alami terdapat pada hampir semua makanan. Komposisi MSG sendiri terdiri atas 78% glutamate, 12% natrium, dan 10% air.

Dalam penggunaannya di kehidupan sehari-hari, Monosodium Glutamate digunakan sebagai BTP yang ditambahkan pada makanan dalam jumlah tertentu untuk mendapatkan profil atau karakter rasa gurih atau umami yang lebih kuat pada makanan.

Tidak mengherankan lagi jika bahan ini digunakan secara luas di berbagai negara, termasuk salah satunya di Indonesia. Dihimpun dari dara statistik konsumsi pangan Indonesia tahun 2024, rata-rata konsumsi MSG masyarakat Indonesia mencapai 7,288 gr/kapita per minggu atau sekitar 380,02 gr/kapita per tahunnnya.

Angka tersebut menunjukkan bahwa penggunaan MSG masih menjadi bagian dari perilaku atau kebiasaan memasak masyarakat, khususnya pada masakan rumah.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, presepsi masyarakat terhadap penggunaan MSG mulai mengalami perubahan. MSG seringkali dikaitkan dengan berbagai isu kesehatan, seperti tekanan darah tinggi, obesitas, asma, hingga kondisi yang dikenal dengan Chinese Restaurant Syndrome (CRS).

Gejala penyakit CRS ini dapat berupa sakit kepala, sesak napas, rasa panas di leher ataupun lengan, mual, lemas, hingga dada berdebar tidak normal. Beberapa orang juga beranggapan bahwa penambahan MSG pada makanan dapat menyebabkan kerusakan otak, gangguan kognitif hingga menurunkan kecerdasan dari individu.

Jika ditinjau dari aspek regulasi dan kajian ilmiah, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Merujuk pada Peraturan BPOM No.11 Tahun 2019 tentang Bahan Tambahan Pangan, MSG atau Monosodium L-glutamate termasuk dalam kategori ADI not specified.

Kategori ADI not specified tersebut diartikan bahwa MSG memiliki tingkat toksisitas yang sangat rendah dan aman digunakan sesuai dengan kebutuhan untuk mencapai efek yang diinginkan (rasa gurih atau umami) serta tidak adamya batasan yang ditetapkan secara spesifik, selama tidak digunakan berlebihan.

Baca juga: Kualitas Air dan Perilaku Masyarakat terhadap Derajat Kesehatan Masyarakat

Berbagai penelitian juga menjelaskan bilamana umumnya masyarakat mengonsumsi MSG bersamaan dengan makanan, sehingga diproses melalui sistem pencernaan, bukan melalui suntikan langsung ke aliran peredaran darah.

Glutamat dari makanan yang dikonsumsi tidak dapat masuk ke dalam otak karena adanya mekanisme perlindungan yang disebut blood-brain barrier. Bahkan, glutamat secara alami juga diproduksi di dalam otak dan berperan spenting sebagai neurotransmitter, yaitu pembawa pesan antar sel saraf.

Meski demikian, perlu diketahui bahwa setiap individu memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda terhadap bahan tambahan pangan seperti MSG. Pada sebagian individu, konsumsi MSG dalam jumlah kecil sekalipun dapat memicu reaksi hipersensitivitas MSG.

Oleh karena itu, individu yang memiliki alergi atau intoleransi terhadap MSG dianjurkan untuk menghindari penggunaannya dalam makanan. Kondisi tersebut berpotensi untuk menimbulkan berbagai efek samping diantaranya seperti peningkatan hiperaktivitas pada anak-anak, munculnya ruam kulit, rhinitis, hingga anafilakis sistemik (syok).

Di Amerika Serikat, bahan tambahan pangan MSG dikategori sebagai GRAS (Generally Rekognized as Safe), yaitu bahan makanan yang dianggap aman dan posisinya setara dengan garam dan gula. FAO/WHO juga menetapkan batas maksimum untuk konsumsi MSG yang masih memenuhi batas keamanan (safety level) adalah sekitar 120 mg/kg berat badan per hari.

Peningkatan kadar glutamat dalam darah baru terjadi secara signifikan hanya jika glutamat dikonsumsi dalam jumlah yang terlalu besar atau lebih dari 5 gram. Namun, peningkatan kadar glutamat dalam tubuh tersebut hanya bertahan sekitar 2 jam dan setelahnya akan kembali ke kadar normal.

Dengan demikian, penggunaan MSG atau vetsin sebagai penguat rasa bukanlah sesuatu yang dilarang atau berbahaya, selama dalam penggunaannya dilakukan secara bijak, secukupnya, dan tidak berlebihan.

Di Indonesia sendiri, batas asupan harian MSG masih dalam kategori ADI not specified atau tidak ditentukan, penggunaanya dianggap aman selama hanya ditujukan untuk mencapai karakter rasa gurih atau umami dalam jumlah secukupnya serta tidak dikonsumsi secara berlebihan dan terus-menerus.

 

Referensi

Saraswati, M. M. D., & Hardinsyah, H. 2012. Pengetahuan Dan Perilaku Konsumsi Mahasiswa Putra Tingkat Persiapan Bersama Ipb Tentang Monosodium Glutamat Dan Keamanannya. Jurnal Gizi Dan Pangan7(2), 111-118. DOI: https://doi.org/10.25182/jgp.2012.7.2.111-118

Karunia, F. B. 2013. Kajian penggunaan zat adiktif makanan (pemanis dan pewarna) pada kudapan bahan pangan lokal di pasar Kota Semarang. Food Science and Culinary Education Journal2(2). DOI: https://doi.org/10.15294/fsce.v2i2.2781

Yonata, A., & Iswara, I. 2016. Efek toksik konsumsi monosodium glutamate. Majority5(3), 100-104.

Munasiah, M. 2020. Dampak Pemberian Monosodium Glutamat Terhadap Kesehatan. Jurnal Penelitian Perawat Profesional2(4), 51-458.

Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 2024. Buku Statistik Konsumsi Pangan 2024. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian. https://satudata.pertanian.go.id/assets/docs/publikasi/Buku_Statistik_Konsumsi_2024.pdf

 


Penulis: Dewi Fara Afifa
Mahasiswa Teknologi Pangan, UPN Veteran Jawa Timur


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

  • Penulis: TentangSehat.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • cara aman minum teh

    Kebiasaan Minum Teh di Indonesia dan Kaitannya dengan Zat Tanin sebagai Faktor Risiko Anemia

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 410
    • 1Komentar

    Pendahuluan Teh merupakan salah satu minuman yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Minuman ini tidak hanya dikonsumsi sebagai pelepas dahaga, tetapi juga telah menjadi bagian dari budaya sosial dan kebiasaan sehari-hari. Teh sering disajikan di pagi hari, saat bersantai di sore hari, maupun sebagai pelengkap hidangan setelah makan. Kebiasaan minum teh ini diwariskan secara […]

  • Generasi Bebas Stunting

    Barru dan Pertaruhan Generasi Bebas Stunting

    • calendar_month Minggu, 28 Sep 2025
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 458
    • 0Komentar

    Stunting, Taruhan Masa Depan Stunting bukan sekadar masalah gizi, tetapi taruhan bagi masa depan generasi emas di masa mendatang. Stunting masih menjadi persoalan serius di Indonesia, termasuk di Provinsi Sulawesi Selatan. Berdasarkan data SSGI Kemenkes RI (2024), prevalensi stunting di Provinsi Sulawesi Selatan mencapai 23,1 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional sebesar 19,8 persen. Hal […]

  • Deteksi Dini Kanker Payudara

    Deteksi Dini Kanker Payudara: Langkah Sederhana yang Dapat Menyelamatkan Nyawa

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 41
    • 0Komentar

    Kanker Payudara Masih Menjadi Ancaman bagi Perempuan Indonesia Kanker payudara merupakan jenis kanker yang paling banyak menyerang perempuan di Indonesia. Berdasarkan data GLOBOCAN 2022, terdapat sekitar 66.271 kasus baru atau sekitar 30,1% dari seluruh kasus kanker di Indonesia. Sayangnya, sebagian besar pasien baru datang berobat ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut sehingga peluang kesembuhan menjadi […]

  • Manfaat Kunyit da Jahe

    7 Manfaat Kunyit dan Jahe serta Temulawak yang Mengejutkan!

    • calendar_month Sabtu, 3 Mei 2025
    • account_circle Redaksi TentangSehat.com
    • visibility 572
    • 0Komentar

    Manfaat kunyit dan jahe serta temulawak sudah menjadi rahasia warisan nenek moyang yang kini terbukti secara ilmiah. Kamu yang sedang mencari solusi alami untuk menjaga kesehatan tubuh wajib tahu bagaimana ramuan herbal ini bisa memberikan dampak luar biasa ketika dikonsumsi secara teratur. Senyawa Aktif untuk Perlindungan Maksimal Kunyit mengandung kurkumin, jahe memiliki gingerol, dan temulawak […]

  • Hipertensi pada Lansia

    Cegah Komplikasi: Kenali Cara Mengontrol Hipertensi pada Lansia

    • calendar_month Minggu, 20 Jul 2025
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 513
    • 0Komentar

    Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan jenis Penyakit Tidak Menular (PTM) yang menjadi penyebab utama kematian dini di seluruh dunia. World Heart Organization (WHO) memperkirakan penderita hipertensi di seluruh dunia sekitar 1,28 miliar orang dewasa berusia 30-79 tahun. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran pada usia 65 – 74 […]

  • dr. Faisal Lukman Bawanong

    Sulawesi Barat dan Mimpi Besar Menghapus Stunting

    • calendar_month Senin, 13 Okt 2025
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 467
    • 0Komentar

    Sulawesi Barat saat ini masih menghadapi tantangan besar dalam hal gizi anak. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2023, prevalensi stunting di provinsi ini masih berkisar 35 persen, tertinggi kedua secara nasional. Angka tersebut jauh di atas ambang batas yang direkomendasikan WHO, yaitu di bawah 20 persen. Stunting bukan sekadar persoalan fisik anak yang pendek, […]

expand_less