Breaking!
light_mode
Trending
Beranda » Artikel » Mengenal MSG Lebih Dekat: Penguat Rasa yang Sering disalahpahami

Mengenal MSG Lebih Dekat: Penguat Rasa yang Sering disalahpahami

  • account_circle TentangSehat.com
  • calendar_month Senin, 5 Jan 2026
  • visibility 380
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Monosodium Glutamate atau lebih dikenal sebagai MSG atau vetsin merupakan salah satu bahan tambahan pangan (BTP) golongan penguat rasa. Bahan tambahan pangan ini telah lama digunakan oleh masyarakat untuk menghadirkan karakteristik cita rasa gurih atau umami pada berbagai masakan, baik dari tingkat industri pangan maupun dapur rumah tangga.

Secara kimia, Monosodium Glutamate memiliki rumus kimia C₅H₈NO₄Na dan merupakan bentuk garam dari asam glutamat, yaitu salah satu asam amino yang secara alami terdapat pada hampir semua makanan. Komposisi MSG sendiri terdiri atas 78% glutamate, 12% natrium, dan 10% air.

Dalam penggunaannya di kehidupan sehari-hari, Monosodium Glutamate digunakan sebagai BTP yang ditambahkan pada makanan dalam jumlah tertentu untuk mendapatkan profil atau karakter rasa gurih atau umami yang lebih kuat pada makanan.

Tidak mengherankan lagi jika bahan ini digunakan secara luas di berbagai negara, termasuk salah satunya di Indonesia. Dihimpun dari dara statistik konsumsi pangan Indonesia tahun 2024, rata-rata konsumsi MSG masyarakat Indonesia mencapai 7,288 gr/kapita per minggu atau sekitar 380,02 gr/kapita per tahunnnya.

Angka tersebut menunjukkan bahwa penggunaan MSG masih menjadi bagian dari perilaku atau kebiasaan memasak masyarakat, khususnya pada masakan rumah.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, presepsi masyarakat terhadap penggunaan MSG mulai mengalami perubahan. MSG seringkali dikaitkan dengan berbagai isu kesehatan, seperti tekanan darah tinggi, obesitas, asma, hingga kondisi yang dikenal dengan Chinese Restaurant Syndrome (CRS).

Gejala penyakit CRS ini dapat berupa sakit kepala, sesak napas, rasa panas di leher ataupun lengan, mual, lemas, hingga dada berdebar tidak normal. Beberapa orang juga beranggapan bahwa penambahan MSG pada makanan dapat menyebabkan kerusakan otak, gangguan kognitif hingga menurunkan kecerdasan dari individu.

Jika ditinjau dari aspek regulasi dan kajian ilmiah, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Merujuk pada Peraturan BPOM No.11 Tahun 2019 tentang Bahan Tambahan Pangan, MSG atau Monosodium L-glutamate termasuk dalam kategori ADI not specified.

Kategori ADI not specified tersebut diartikan bahwa MSG memiliki tingkat toksisitas yang sangat rendah dan aman digunakan sesuai dengan kebutuhan untuk mencapai efek yang diinginkan (rasa gurih atau umami) serta tidak adamya batasan yang ditetapkan secara spesifik, selama tidak digunakan berlebihan.

Baca juga: Kualitas Air dan Perilaku Masyarakat terhadap Derajat Kesehatan Masyarakat

Berbagai penelitian juga menjelaskan bilamana umumnya masyarakat mengonsumsi MSG bersamaan dengan makanan, sehingga diproses melalui sistem pencernaan, bukan melalui suntikan langsung ke aliran peredaran darah.

Glutamat dari makanan yang dikonsumsi tidak dapat masuk ke dalam otak karena adanya mekanisme perlindungan yang disebut blood-brain barrier. Bahkan, glutamat secara alami juga diproduksi di dalam otak dan berperan spenting sebagai neurotransmitter, yaitu pembawa pesan antar sel saraf.

Meski demikian, perlu diketahui bahwa setiap individu memiliki tingkat sensitivitas yang berbeda terhadap bahan tambahan pangan seperti MSG. Pada sebagian individu, konsumsi MSG dalam jumlah kecil sekalipun dapat memicu reaksi hipersensitivitas MSG.

Oleh karena itu, individu yang memiliki alergi atau intoleransi terhadap MSG dianjurkan untuk menghindari penggunaannya dalam makanan. Kondisi tersebut berpotensi untuk menimbulkan berbagai efek samping diantaranya seperti peningkatan hiperaktivitas pada anak-anak, munculnya ruam kulit, rhinitis, hingga anafilakis sistemik (syok).

Di Amerika Serikat, bahan tambahan pangan MSG dikategori sebagai GRAS (Generally Rekognized as Safe), yaitu bahan makanan yang dianggap aman dan posisinya setara dengan garam dan gula. FAO/WHO juga menetapkan batas maksimum untuk konsumsi MSG yang masih memenuhi batas keamanan (safety level) adalah sekitar 120 mg/kg berat badan per hari.

Peningkatan kadar glutamat dalam darah baru terjadi secara signifikan hanya jika glutamat dikonsumsi dalam jumlah yang terlalu besar atau lebih dari 5 gram. Namun, peningkatan kadar glutamat dalam tubuh tersebut hanya bertahan sekitar 2 jam dan setelahnya akan kembali ke kadar normal.

Dengan demikian, penggunaan MSG atau vetsin sebagai penguat rasa bukanlah sesuatu yang dilarang atau berbahaya, selama dalam penggunaannya dilakukan secara bijak, secukupnya, dan tidak berlebihan.

Di Indonesia sendiri, batas asupan harian MSG masih dalam kategori ADI not specified atau tidak ditentukan, penggunaanya dianggap aman selama hanya ditujukan untuk mencapai karakter rasa gurih atau umami dalam jumlah secukupnya serta tidak dikonsumsi secara berlebihan dan terus-menerus.

 

Referensi

Saraswati, M. M. D., & Hardinsyah, H. 2012. Pengetahuan Dan Perilaku Konsumsi Mahasiswa Putra Tingkat Persiapan Bersama Ipb Tentang Monosodium Glutamat Dan Keamanannya. Jurnal Gizi Dan Pangan7(2), 111-118. DOI: https://doi.org/10.25182/jgp.2012.7.2.111-118

Karunia, F. B. 2013. Kajian penggunaan zat adiktif makanan (pemanis dan pewarna) pada kudapan bahan pangan lokal di pasar Kota Semarang. Food Science and Culinary Education Journal2(2). DOI: https://doi.org/10.15294/fsce.v2i2.2781

Yonata, A., & Iswara, I. 2016. Efek toksik konsumsi monosodium glutamate. Majority5(3), 100-104.

Munasiah, M. 2020. Dampak Pemberian Monosodium Glutamat Terhadap Kesehatan. Jurnal Penelitian Perawat Profesional2(4), 51-458.

Kementerian Pertanian Republik Indonesia. 2024. Buku Statistik Konsumsi Pangan 2024. Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian. https://satudata.pertanian.go.id/assets/docs/publikasi/Buku_Statistik_Konsumsi_2024.pdf

 


Penulis: Dewi Fara Afifa
Mahasiswa Teknologi Pangan, UPN Veteran Jawa Timur


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

  • Penulis: TentangSehat.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • kesehatan reproduksi lansia

    Peningkatan Pengetahuan dan Perilaku Pemeliharaan Kesehatan Reproduksi pada Lansia melalui Edukasi dan Konseling di UPTD Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai

    • calendar_month Kamis, 16 Jul 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 98
    • 0Komentar

    Kesehatan reproduksi merupakan bagian penting dari kualitas hidup setiap individu, termasuk pada kelompok lanjut usia (lansia). Namun, isu kesehatan reproduksi pada lansia masih sering dianggap sebagai hal yang kurang penting sehingga banyak lansia belum memiliki pengetahuan dan perilaku yang optimal dalam menjaga kesehatan reproduksinya. Kegiatan ini ketuai oleh Bd. Ramadhani Syafitri Nasution, SST, MKM, PhD. […]

  • Peran Mahasiswa Kedokteran

    Vaksinasi Media Sosial: Peran Mahasiswa Kedokteran Melawan Infodemik Kesehatan di Era Digital

    • calendar_month Senin, 3 Nov 2025
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 475
    • 0Komentar

    Di Tengah Ledakan Informasi Kesehatan Di era digital yang serba cepat, media sosial telah menjadi sumber utama masyarakat dalam mencari informasi kesehatan. Sayangnya, tidak semua informasi yang beredar dapat dipertanggungjawabkan. Mulai dari berita tentang “obat ajaib”, teori konspirasi tentang vaksin, hingga tips diet ekstrem tanpa dasar ilmiah—semuanya menyebar dengan cepat tanpa penyaring yang memadai. Fenomena […]

  • Deteksi Dini Kanker Payudara

    Deteksi Dini Kanker Payudara: Langkah Sederhana yang Dapat Menyelamatkan Nyawa

    • calendar_month Selasa, 14 Jul 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 102
    • 0Komentar

    Kanker Payudara Masih Menjadi Ancaman bagi Perempuan Indonesia Kanker payudara merupakan jenis kanker yang paling banyak menyerang perempuan di Indonesia. Berdasarkan data GLOBOCAN 2022, terdapat sekitar 66.271 kasus baru atau sekitar 30,1% dari seluruh kasus kanker di Indonesia. Sayangnya, sebagian besar pasien baru datang berobat ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut sehingga peluang kesembuhan menjadi […]

  • tips memanfaatkan barang bekas

    Inovatif! Mahasiswa KKN Memanfaatkan Barang Bekas menjadi Taman TOGA di Desa Wonorejo, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan

    • calendar_month Senin, 5 Jan 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 415
    • 0Komentar

    Sekelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Pekalongan menghadirkan inovasi kreatif di Dusun Wonokeri, Desa Wonorejo, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu tanggal 3 dan 4 Januari 2026. Melihat potensi lahan kosong dan isu sampah plastik, para mahasiswa ini menyulap barang-barang bekas menjadi Taman Tanaman Obat Keluarga (Toga) […]

  • media edukasi kesehatan

    Edukasi Manajemen Nyeri Komplementer Distraksi Audiovisual pada Pasien Rheumatoid Arthritis di Desa Lidah Tanah Serdang Bedagai

    • calendar_month Minggu, 8 Feb 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 310
    • 0Komentar

    Kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan di Desa Lidah Tanah Serdang Bedagai yang diketahui Bapak Mulidan, S.Kep, Ns, M.Kep selaku Dosen Prodi Sarjana Keperawatan dan Profesi Ners. Kegiatan pengabdian masyarakat dengan rangkaian acara memberikan penyuluhan berjudul “Penerapan terapi komplementer dengan menggunakan distraksi audiovisual untuk menurunkan intesitas nyeri yang dirasakan oleh pasien rheumatoid arthtritis” pada Kamis (22/01) pukul […]

  • Diagnosis HIV

    HIV Bukan Akhir dari Segalanya

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 72
    • 0Komentar

    Banyak orang masih menganggap HIV sebagai penyakit yang menakutkan dan memalukan. Padahal, HIV adalah penyakit yang berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh dan bisa dialami siapa saja. Kurangnya pengetahuan membuat penderita HIV sering mendapatkan stigma dari masyarakat. Karena itu, penting untuk memahami HIV dengan lebih benar dan tidak langsung menghakimi seseorang. HIV atau Human Immunodeficiency Virus […]

expand_less