Breaking!
light_mode
Trending
Beranda » Artikel » Dari Stigma ke Pemahaman: Mengenal Skizofrenia dengan Cara yang Lebih Tepat

Dari Stigma ke Pemahaman: Mengenal Skizofrenia dengan Cara yang Lebih Tepat

  • account_circle tentangsehatcom
  • calendar_month Rabu, 3 Des 2025
  • visibility 459
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Banyak orang mengenal skizofrenia lewat gambaran yang salah. Istilah ini sering dianggap menakutkan, dikaitkan dengan “kegilaan”, atau bahkan mitos yang tidak berdasar.

Akibatnya, penyandang skizofrenia sering disalahpahami dan distigmatisasi sebelum orang benar benar tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Padahal dengan pengobatan yang tepat dan dukungan lingkungan, banyak penyandang skizofrenia dapat hidup stabil dan berfungsi kembali.

WHO mencatat lebih dari 20 juta orang di dunia hidup dengan kondisi ini, sementara di Indonesia sekitar 6,7 dari 1.000 rumah tangga memiliki anggota dengan skizofrenia atau psikosis.

Ini menunjukkan bahwa kondisi ini jauh lebih dekat dengan kita, sehingga memahami tanpa stigma menjadi langkah penting.

Skizofrenia Itu Apa Sih? Realitas di Balik Label

Menurut ICD 11 (2022), skizofrenia melibatkan gangguan pada persepsi, keyakinan, pola pikir, pengalaman diri, dan perilaku yang berlangsung cukup lama sehingga mengganggu fungsi sosial.

DSM 5 TR (APA, 2022) menyoroti gejala seperti delusi, halusinasi, bicara yang tidak teratur, perilaku yang tidak terorganisasi, serta gejala negatif seperti ekspresi emosi yang menurun atau hilangnya motivasi.

Baca Juga: Ketika Jiwa Lelah: Memahami Apa itu Emotional Exhaustion

Sementara itu, WHO menggambarkan skizofrenia sebagai kondisi jangka panjang yang memengaruhi kemampuan berpikir jernih, mengelola emosi, berkomunikasi, dan membangun hubungan sosial.

Organisasi ini juga menegaskan bahwa skizofrenia membutuhkan penanganan medis profesional, bukan stigma atau penilaian moral.

Apa Gejala Utamanya? Ternyata Tidak Sesederhana “Halusinasi”

Dalam wawancara lapangan, penulis menemukan bahwa sebagian masyarakat berpikir gejala skizofrenia hanya sebatas halusinasi.

Padahal literatur ilmiah menyebutkan bahwa skizofrenia memiliki dua kelompok gejala besar: gejala positif dan gejala negatif.

Gejala Positif

Gejala ini melibatkan distorsi persepsi dan pola pikir, meliputi:

  • halusinasi pendengaran,
  • delusi atau keyakinan keliru yang sulit diluruskan,
  • bicara yang tidak koheren,
  • serta perilaku yang tidak terarah.

Gejala Negatif

Kelompok gejala ini sering lebih membebani kehidupan sehari hari, misalnya:

  • hilangnya motivasi,
  • ekspresi emosi yang berkurang,
  • menarik diri dari kegiatan sosial,
  • sulit fokus,
  • serta perubahan pola tidur.

Tenaga kesehatan yang diwawancarai penulis menegaskan bahwa gejala negatif sering tidak disadari keluarga karena muncul perlahan.

Padahal perubahan kecil seperti ini adalah tanda penting untuk meminta bantuan profesional lebih awal.

Baca Juga: Campak Lebih Menular daripada COVID-19

Lalu Kenapa Seseorang Bisa Mengalami Skizofrenia?

Banyak orang masih percaya bahwa skizofrenia muncul karena stres berat atau karena seseorang “tidak kuat mental”.

Padahal penelitian menunjukkan bahwa penyebab skizofrenia lebih kompleks. Kondisi ini muncul dari kombinasi faktor genetik, perubahan pada fungsi otak, pengalaman hidup, serta kondisi lingkungan.

Dengan kata lain, stres bukan penyebab tunggal. Stres hanya bisa menjadi pemicu pada seseorang yang sudah memiliki kerentanan biologis sejak awal.

Saat penulis melakukan wawancara lapangan, seorang perawat sempat berkata sambil tersenyum pelan, “Bukan berarti karena lagi banyak masalah terus orang langsung jadi skizofrenia. Kalau sesederhana itu, kita semua sudah dirawat,” katanya.

Ia lalu menambahkan, “Yang sering terjadi adalah stres mempercepat munculnya gejala pada orang yang memang sudah punya faktor bawaan.”

Penjelasan ini penting agar masyarakat berhenti mencari kambing hitam atau menyalahkan pasien dan keluarga.

Skizofrenia bukan akibat kurang iman, karma buruk, atau kelemahan mental. Ini kondisi medis yang bisa dijelaskan secara ilmiah dan ditangani dengan pendekatan profesional.

Baca Juga: 10 Cara Mengelola Stres yang Ampuh dan Mudah

Faktor di Balik Kemunculannya

Skizofrenia lebih berisiko terjadi pada individu dengan kondisi tertentu yang membentuk kerentanan biologis maupun lingkungan.

Faktor-faktor berikut sering disebut dalam literatur sebagai pemicu meningkatnya risiko:

1. Genetik

Risiko meningkat bila ada anggota keluarga inti dengan skizofrenia. Penelitian menunjukkan peluang bisa naik sekitar 10 persen, namun gen bukan satu satunya faktor.

2. Lingkungan

Paparan stres berat, trauma, atau infeksi tertentu dapat memicu gejala terutama pada individu yang sudah rentan.

3. Kehamilan dan Persalinan

Masalah seperti infeksi selama kehamilan, kelahiran prematur, atau kekurangan oksigen saat lahir dapat meningkatkan risiko.

4. Penggunaan Zat

Konsumsi zat psikoaktif terutama ganja pada usia remaja atau dewasa muda dapat meningkatkan kemungkinan munculnya skizofrenia.

Kapan Harus ke Profesional?

Tanda awal skizofrenia sering samar dan mirip stres atau depresi. Misalnya mulai sulit tidur, menarik diri dari lingkungan, sulit fokus, atau terlihat bingung tanpa alasan jelas. Karena berkembang pelan, gejala ini sering dianggap biasa saja.

Kalau perubahan perilaku berlangsung terus menerus dan mulai mengganggu kegiatan sehari hari, saatnya berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.

Pemeriksaan profesional membantu memastikan apakah gejala tersebut terkait skizofrenia atau kondisi lain.

Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang pasien untuk stabil dan menjalani hidup yang lebih baik.

Jadi kalau ada tanda yang membuat ragu, jangan tunggu parah dulu. Memeriksakan diri bukan soal lemah. Itu bentuk perhatian pada kesehatan diri dan orang yang kita sayangi.

Baca Juga: 10 Cara Ampuh Mengobati Depresi Menurut Dokter untuk Pemulihan Optimal

Kenapa Penting ke Profesional?

1. Diagnosis yang Tepat

Gejala awal skizofrenia sering mirip stres, depresi, atau kecemasan. Profesional membantu memastikan apakah yang terjadi benar early psychosis atau kondisi lain supaya tidak salah penanganan.

2. Mencegah Kondisi Memburuk

Semakin cepat ditangani, semakin kecil risiko gejala berkembang menjadi psikosis berat seperti halusinasi atau delusi.

3. Akses Pengobatan yang Tepat

Penanganan skizofrenia biasanya mencakup obat antipsikotik, psikoterapi, dan rehabilitasi. Hanya profesional yang bisa menentukan dosis, metode, dan pemantauan yang aman.

4. Mencegah Dampak ke Kehidupan Sehari-hari

Tanpa bantuan, skizofrenia bisa mengganggu sekolah, pekerjaan, hubungan sosial, sampai kemampuan merawat diri. Dengan intervensi, pasien bisa belajar cara adaptasi dan kembali berfungsi.

5. Dukungan untuk Pasien dan Keluarga

Konsultasi juga membantu keluarga memahami kondisi, mengurangi kebingungan, dan membangun dukungan yang lebih sehat tanpa stigma.

Stigma Masyarakat dan Dampaknya pada Pemulihan

Stigma masih menjadi tantangan besar dalam penanganan skizofrenia karena memengaruhi cara masyarakat memandang dan memperlakukan penyandangnya.

Berdasarkan survei dan wawancara yang dilakukan oleh penulis, banyak orang memang familiar dengan istilah skizofrenia, tetapi pemahamannya masih dipenuhi asumsi keliru seperti dianggap berbahaya, kehilangan kontrol diri, atau identik dengan kata “gila”.

Padahal sebagian besar penyandang skizofrenia bisa hidup stabil dan berfungsi baik ketika menjalani pengobatan rutin.

Dalam wawancara, seorang perawat menyampaikan, “Yang sering terjadi bukan pasiennya berbahaya, tapi lingkungan yang tidak mengerti.”

Ia menjelaskan bahwa banyak pasien sebenarnya kooperatif dan tidak seperti gambaran yang dibayangkan masyarakat.

Kalimat ini menggambarkan jelas adanya jarak antara stigma publik dan kondisi nyata.

Itu sebabnya edukasi publik diperlukan agar masyarakat dapat melihat skizofrenia secara lebih benar.

Sebagai kondisi medis yang bisa ditangani, bukan sebagai label yang menakutkan.

Apa yang bisa dilakukan keluarga sebagai penanganan pertama?

  1. Menjaga komunikasi yang tenang dan tidak menghakimi
  2. Mengawasi minum obat secara teratur
  3. Menciptakan lingkungan rumah yang stabil
  4. Mengajak aktivitas ringan sesuai kemampuan
  5. Mengenali tanda kekambuhan

Apa yang bisa dilakukan masyarakat sebagai lingkungan pendukung?

  1. Tidak memberi label dan tidak menyebarkan cerita salah
  2. Mendorong akses ke layanan kesehatan
  3. Menciptakan lingkungan yang menerima
  4. Tidak melakukan tindakan kekerasan
  5. Terlibat dalam kegiatan komunitas

Pendekatan yang Tepat untuk Menangani Skizofrenia

Pemulihan skizofrenia membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Tidak cukup hanya obat atau terapi saja, tetapi kombinasi keduanya bersama dukungan sosial yang konsisten. Pendekatan terbaik biasanya mencakup:

Obat Antipsikotik

Membantu mengendalikan halusinasi, delusi, dan pikiran yang tidak teratur. Jenis obat dan dosis ditentukan profesional dan perlu diminum rutin.

Psikoterapi

Seperti CBT dan terapi keluarga. Membantu pasien mengelola stres, memahami gejala, serta memperbaiki pola komunikasi di rumah.

Dukungan Sosial dan Rehabilitasi

Meliputi latihan keterampilan sosial, dukungan pendidikan atau pekerjaan, serta komunitas pendamping agar pasien tetap terhubung dan percaya diri.

Harapan Pemulihan

Pemulihan pada skizofrenia bukan sesuatu yang mustahil. Banyak pasien mulai membaik melalui perubahan kecil, seperti tidur lebih tenang, mampu fokus pada satu aktivitas, atau kembali merasa nyaman berinteraksi dengan orang lain.

Dengan pengobatan teratur, psikoterapi, dan dukungan sosial yang konsisten, penyandang skizofrenia dapat kembali menjalani rutinitas, bekerja, belajar, atau mengikuti kegiatan yang sebelumnya mereka tinggalkan.

Prosesnya mungkin tidak selalu mulus, tetapi penelitian menunjukkan bahwa kombinasi penanganan yang tepat dan lingkungan yang mendukung dapat membantu pasien mencapai fase stabil lebih lama dan meningkatkan kualitas hidup.

Selama mereka tidak disertai stigma dan tetap diberi ruang untuk berkembang, peluang untuk pulih dan hidup mandiri tetap sangat terbuka.

Analisis Penulis berdasarkan Asesmen Lapangan

Berdasarkan hasil survei dan wawancara, penulis menemukan adanya jarak yang cukup besar antara pengetahuan masyarakat dan fakta ilmiah tentang skizofrenia.

Sebagian besar responden memang pernah mendengar istilah ini, tetapi pemahamannya masih dipengaruhi stereotip seperti dianggap berbahaya, tidak dapat mengendalikan diri, atau identik dengan kepribadian ganda.

Hal ini menunjukkan bahwa kurangnya literasi kesehatan mental masih menjadi pemicu utama munculnya stigma.

Wawancara dengan penyandang skizofrenia memberikan gambaran yang lebih manusiawi mengenai kondisi ini.

Mereka menceritakan pengalaman dengan halusinasi, pikiran yang sulit dikendalikan, serta rasa lelah karena sering kali tidak dipercaya lingkungan.

Seorang perawat yang ditemui penulis menyampaikan, “Banyak orang takut dulu sebelum mencoba memahami. Padahal yang dibutuhkan pasien itu bukan jarak, tapi dukungan.”

Temuan ini menunjukkan bahwa selain penanganan medis, edukasi publik dan dukungan sosial sangat penting untuk membantu pemulihan dan mengurangi stigma.

Penutup

Skizofrenia bukan akhir dari kehidupan seseorang. Dengan pengobatan yang tepat, dukungan keluarga, dan masyarakat yang lebih memahami, banyak penyandang skizofrenia bisa kembali bekerja, belajar, atau menjalani kegiatan harian seperti sebelumnya.

Mereka bukan sekadar “penderita”, tetapi manusia yang sedang berjuang. Dan sering kali, yang mereka butuhkan hanyalah ruang aman, sedikit pengertian, dan seseorang yang mau mendengarkan tanpa takut.

 

Penulis:
1. Amanda Putri Vadya
2. Siti Octazahrah Liviany
Mahasiswa Prodi Psikologi, Universitas Jambi

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

  • Penulis: tentangsehatcom

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • tips menjaga kesehatan di cuaca ekstrem

    Tips Menjaga Kesehatan di Era Perubahan Cuaca yang Ekstrem

    • calendar_month Selasa, 16 Des 2025
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 693
    • 0Komentar

    Perubahan cuaca yang sering terjadi di Indonesia merupakan kejadian yang sering terjadi setiap tahunnya, di mana perubahan cuaca berubah dari yang siang panas terik lalu sore hari langsung turun hujan dengan deras. Dengan adanya perubahan cuaca yang sangat esktrem ini dapat menyebabkan kesehatan menjadi menurun. Contoh dari kesehatan menurun karena perubahan cuaca yaitu flu, pusing, […]

  • berhenti membandingkan diri

    Kalau Dia Bisa, Kenapa Kamu Nggak: Menemukan Rasa Berharga di Tengah Dunia yang Menuntut Keseragaman

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 130
    • 0Komentar

    Banyak dari kita seringkali mendengar kalimat ini “kalau dia bisa kenapa kamu nggak” banyak orang tua, motivator, teman atau lingkungan menggunakan kalimat ini dengan tujuan untuk memotivasi dan berbagai media sosial mengulanginya setiap hari dalam bentuk lain. Tentang teman yang berhasil mendapatkan pekerjaan impiannya, mereka yang sukses diusia yang masih muda, mereka yang terlihat aktif, […]

  • Cara Mengobati Bronkitis dengan Obat Herbal

    7 Cara Mengobati Bronkitis dengan Obat Herbal yang Terbukti Efektif

    • calendar_month Senin, 20 Jan 2025
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 541
    • 0Komentar

    Bronkitis merupakan kondisi peradangan pada saluran bronkial yang dapat menyebabkan batuk, sesak napas, dan ketidaknyamanan. Nah, mari kita bahas cara mengobati bronkitis dengan obat herbal. Walaupun pengobatan medis konvensional tersedia, semakin banyak orang mencari cara mengobati bronkitis dengan obat herbal sebagai alternatif yang lebih alami dan minim efek samping. Pada artikel ini, kamu akan menemukan […]

  • kebiasaan begadang

    Tidur Bukanlah Sekadar Istirahat, tapi Kunci Kesehatan

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Saat ini, banyak orang menganggap bahwa tidur adalah hal yang lumrah untuk dikurangi. Kebiasaan tidur larut malam atau begadang seolah sudah menjadi hal yang biasa, terutama di kalangan pelajar dan pekerja lembur. Tidak sedikit pula orang yang tidur terlalu malam hanya karena bermain ponsel atau media sosial tanpa tujuan yang jelas. Padahal, seiring berjalannya waktu, […]

  • Lembaga Pendidikan Guru TPQ

    Analisis BMC (Business Model Canvas) Pendidikan Guru Taman Pendidikan Al-Qur’an (PGTPQ YAHQI): Transformasi Metode Pembelajaran Kreatif, Inofatif dan Komprehensif

    • calendar_month Kamis, 7 Mei 2026
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 157
    • 0Komentar

    Pendahuluan Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) merupakan salah satu lembaga pendidikan non-formal yang memiliki peran strategis dalam membentuk generasi muslim yang mampu membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Quran sejak dini. Namun, kualitas pembelajaran di TPQ sangat bergantung pada kompetensi para gurunya. Lembaga Pendidikan Guru TPQ hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut. Lembaga ini dirancang khusus untuk meningkatkan […]

  • PMT Bubur Sumsum

    Peran Posyandu dalam Mencegah Stunting melalui PMT Bubur Sumsum berbasis Daun Kelor dan Kacang Merah

    • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 282
    • 0Komentar

    Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak pada pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan produktivitas jangka panjang. Posyandu sebagai layanan kesehatan berbasis masyarakat memiliki peran strategis dalam pencegahan stunting melalui pemantauan pertumbuhan, edukasi gizi, dan intervensi gizi spesifik, seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Artikel ini bertujuan menganalisis potensi PMT bubur sumsum berbasis daun kelor (Moringa oleifera) […]

expand_less