Breaking News
light_mode
Trending
Beranda » Artikel » Dari Stigma ke Pemahaman: Mengenal Skizofrenia dengan Cara yang Lebih Tepat

Dari Stigma ke Pemahaman: Mengenal Skizofrenia dengan Cara yang Lebih Tepat

  • account_circle tentangsehatcom
  • calendar_month Rab, 3 Des 2025
  • visibility 379
  • comment 0 komentar

Banyak orang mengenal skizofrenia lewat gambaran yang salah. Istilah ini sering dianggap menakutkan, dikaitkan dengan “kegilaan”, atau bahkan mitos yang tidak berdasar.

Akibatnya, penyandang skizofrenia sering disalahpahami dan distigmatisasi sebelum orang benar benar tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Padahal dengan pengobatan yang tepat dan dukungan lingkungan, banyak penyandang skizofrenia dapat hidup stabil dan berfungsi kembali.

WHO mencatat lebih dari 20 juta orang di dunia hidup dengan kondisi ini, sementara di Indonesia sekitar 6,7 dari 1.000 rumah tangga memiliki anggota dengan skizofrenia atau psikosis.

Ini menunjukkan bahwa kondisi ini jauh lebih dekat dengan kita, sehingga memahami tanpa stigma menjadi langkah penting.

Skizofrenia Itu Apa Sih? Realitas di Balik Label

Menurut ICD 11 (2022), skizofrenia melibatkan gangguan pada persepsi, keyakinan, pola pikir, pengalaman diri, dan perilaku yang berlangsung cukup lama sehingga mengganggu fungsi sosial.

DSM 5 TR (APA, 2022) menyoroti gejala seperti delusi, halusinasi, bicara yang tidak teratur, perilaku yang tidak terorganisasi, serta gejala negatif seperti ekspresi emosi yang menurun atau hilangnya motivasi.

Baca Juga: Ketika Jiwa Lelah: Memahami Apa itu Emotional Exhaustion

Sementara itu, WHO menggambarkan skizofrenia sebagai kondisi jangka panjang yang memengaruhi kemampuan berpikir jernih, mengelola emosi, berkomunikasi, dan membangun hubungan sosial.

Organisasi ini juga menegaskan bahwa skizofrenia membutuhkan penanganan medis profesional, bukan stigma atau penilaian moral.

Apa Gejala Utamanya? Ternyata Tidak Sesederhana “Halusinasi”

Dalam wawancara lapangan, penulis menemukan bahwa sebagian masyarakat berpikir gejala skizofrenia hanya sebatas halusinasi.

Padahal literatur ilmiah menyebutkan bahwa skizofrenia memiliki dua kelompok gejala besar: gejala positif dan gejala negatif.

Gejala Positif

Gejala ini melibatkan distorsi persepsi dan pola pikir, meliputi:

  • halusinasi pendengaran,
  • delusi atau keyakinan keliru yang sulit diluruskan,
  • bicara yang tidak koheren,
  • serta perilaku yang tidak terarah.

Gejala Negatif

Kelompok gejala ini sering lebih membebani kehidupan sehari hari, misalnya:

  • hilangnya motivasi,
  • ekspresi emosi yang berkurang,
  • menarik diri dari kegiatan sosial,
  • sulit fokus,
  • serta perubahan pola tidur.

Tenaga kesehatan yang diwawancarai penulis menegaskan bahwa gejala negatif sering tidak disadari keluarga karena muncul perlahan.

Padahal perubahan kecil seperti ini adalah tanda penting untuk meminta bantuan profesional lebih awal.

Baca Juga: Campak Lebih Menular daripada COVID-19

Lalu Kenapa Seseorang Bisa Mengalami Skizofrenia?

Banyak orang masih percaya bahwa skizofrenia muncul karena stres berat atau karena seseorang “tidak kuat mental”.

Padahal penelitian menunjukkan bahwa penyebab skizofrenia lebih kompleks. Kondisi ini muncul dari kombinasi faktor genetik, perubahan pada fungsi otak, pengalaman hidup, serta kondisi lingkungan.

Dengan kata lain, stres bukan penyebab tunggal. Stres hanya bisa menjadi pemicu pada seseorang yang sudah memiliki kerentanan biologis sejak awal.

Saat penulis melakukan wawancara lapangan, seorang perawat sempat berkata sambil tersenyum pelan, “Bukan berarti karena lagi banyak masalah terus orang langsung jadi skizofrenia. Kalau sesederhana itu, kita semua sudah dirawat,” katanya.

Ia lalu menambahkan, “Yang sering terjadi adalah stres mempercepat munculnya gejala pada orang yang memang sudah punya faktor bawaan.”

Penjelasan ini penting agar masyarakat berhenti mencari kambing hitam atau menyalahkan pasien dan keluarga.

Skizofrenia bukan akibat kurang iman, karma buruk, atau kelemahan mental. Ini kondisi medis yang bisa dijelaskan secara ilmiah dan ditangani dengan pendekatan profesional.

Baca Juga: 10 Cara Mengelola Stres yang Ampuh dan Mudah

Faktor di Balik Kemunculannya

Skizofrenia lebih berisiko terjadi pada individu dengan kondisi tertentu yang membentuk kerentanan biologis maupun lingkungan.

Faktor-faktor berikut sering disebut dalam literatur sebagai pemicu meningkatnya risiko:

1. Genetik

Risiko meningkat bila ada anggota keluarga inti dengan skizofrenia. Penelitian menunjukkan peluang bisa naik sekitar 10 persen, namun gen bukan satu satunya faktor.

2. Lingkungan

Paparan stres berat, trauma, atau infeksi tertentu dapat memicu gejala terutama pada individu yang sudah rentan.

3. Kehamilan dan Persalinan

Masalah seperti infeksi selama kehamilan, kelahiran prematur, atau kekurangan oksigen saat lahir dapat meningkatkan risiko.

4. Penggunaan Zat

Konsumsi zat psikoaktif terutama ganja pada usia remaja atau dewasa muda dapat meningkatkan kemungkinan munculnya skizofrenia.

Kapan Harus ke Profesional?

Tanda awal skizofrenia sering samar dan mirip stres atau depresi. Misalnya mulai sulit tidur, menarik diri dari lingkungan, sulit fokus, atau terlihat bingung tanpa alasan jelas. Karena berkembang pelan, gejala ini sering dianggap biasa saja.

Kalau perubahan perilaku berlangsung terus menerus dan mulai mengganggu kegiatan sehari hari, saatnya berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.

Pemeriksaan profesional membantu memastikan apakah gejala tersebut terkait skizofrenia atau kondisi lain.

Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang pasien untuk stabil dan menjalani hidup yang lebih baik.

Jadi kalau ada tanda yang membuat ragu, jangan tunggu parah dulu. Memeriksakan diri bukan soal lemah. Itu bentuk perhatian pada kesehatan diri dan orang yang kita sayangi.

Baca Juga: 10 Cara Ampuh Mengobati Depresi Menurut Dokter untuk Pemulihan Optimal

Kenapa Penting ke Profesional?

1. Diagnosis yang Tepat

Gejala awal skizofrenia sering mirip stres, depresi, atau kecemasan. Profesional membantu memastikan apakah yang terjadi benar early psychosis atau kondisi lain supaya tidak salah penanganan.

2. Mencegah Kondisi Memburuk

Semakin cepat ditangani, semakin kecil risiko gejala berkembang menjadi psikosis berat seperti halusinasi atau delusi.

3. Akses Pengobatan yang Tepat

Penanganan skizofrenia biasanya mencakup obat antipsikotik, psikoterapi, dan rehabilitasi. Hanya profesional yang bisa menentukan dosis, metode, dan pemantauan yang aman.

4. Mencegah Dampak ke Kehidupan Sehari-hari

Tanpa bantuan, skizofrenia bisa mengganggu sekolah, pekerjaan, hubungan sosial, sampai kemampuan merawat diri. Dengan intervensi, pasien bisa belajar cara adaptasi dan kembali berfungsi.

5. Dukungan untuk Pasien dan Keluarga

Konsultasi juga membantu keluarga memahami kondisi, mengurangi kebingungan, dan membangun dukungan yang lebih sehat tanpa stigma.

Stigma Masyarakat dan Dampaknya pada Pemulihan

Stigma masih menjadi tantangan besar dalam penanganan skizofrenia karena memengaruhi cara masyarakat memandang dan memperlakukan penyandangnya.

Berdasarkan survei dan wawancara yang dilakukan oleh penulis, banyak orang memang familiar dengan istilah skizofrenia, tetapi pemahamannya masih dipenuhi asumsi keliru seperti dianggap berbahaya, kehilangan kontrol diri, atau identik dengan kata “gila”.

Padahal sebagian besar penyandang skizofrenia bisa hidup stabil dan berfungsi baik ketika menjalani pengobatan rutin.

Dalam wawancara, seorang perawat menyampaikan, “Yang sering terjadi bukan pasiennya berbahaya, tapi lingkungan yang tidak mengerti.”

Ia menjelaskan bahwa banyak pasien sebenarnya kooperatif dan tidak seperti gambaran yang dibayangkan masyarakat.

Kalimat ini menggambarkan jelas adanya jarak antara stigma publik dan kondisi nyata.

Itu sebabnya edukasi publik diperlukan agar masyarakat dapat melihat skizofrenia secara lebih benar.

Sebagai kondisi medis yang bisa ditangani, bukan sebagai label yang menakutkan.

Apa yang bisa dilakukan keluarga sebagai penanganan pertama?

  1. Menjaga komunikasi yang tenang dan tidak menghakimi
  2. Mengawasi minum obat secara teratur
  3. Menciptakan lingkungan rumah yang stabil
  4. Mengajak aktivitas ringan sesuai kemampuan
  5. Mengenali tanda kekambuhan

Apa yang bisa dilakukan masyarakat sebagai lingkungan pendukung?

  1. Tidak memberi label dan tidak menyebarkan cerita salah
  2. Mendorong akses ke layanan kesehatan
  3. Menciptakan lingkungan yang menerima
  4. Tidak melakukan tindakan kekerasan
  5. Terlibat dalam kegiatan komunitas

Pendekatan yang Tepat untuk Menangani Skizofrenia

Pemulihan skizofrenia membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Tidak cukup hanya obat atau terapi saja, tetapi kombinasi keduanya bersama dukungan sosial yang konsisten. Pendekatan terbaik biasanya mencakup:

Obat Antipsikotik

Membantu mengendalikan halusinasi, delusi, dan pikiran yang tidak teratur. Jenis obat dan dosis ditentukan profesional dan perlu diminum rutin.

Psikoterapi

Seperti CBT dan terapi keluarga. Membantu pasien mengelola stres, memahami gejala, serta memperbaiki pola komunikasi di rumah.

Dukungan Sosial dan Rehabilitasi

Meliputi latihan keterampilan sosial, dukungan pendidikan atau pekerjaan, serta komunitas pendamping agar pasien tetap terhubung dan percaya diri.

Harapan Pemulihan

Pemulihan pada skizofrenia bukan sesuatu yang mustahil. Banyak pasien mulai membaik melalui perubahan kecil, seperti tidur lebih tenang, mampu fokus pada satu aktivitas, atau kembali merasa nyaman berinteraksi dengan orang lain.

Dengan pengobatan teratur, psikoterapi, dan dukungan sosial yang konsisten, penyandang skizofrenia dapat kembali menjalani rutinitas, bekerja, belajar, atau mengikuti kegiatan yang sebelumnya mereka tinggalkan.

Prosesnya mungkin tidak selalu mulus, tetapi penelitian menunjukkan bahwa kombinasi penanganan yang tepat dan lingkungan yang mendukung dapat membantu pasien mencapai fase stabil lebih lama dan meningkatkan kualitas hidup.

Selama mereka tidak disertai stigma dan tetap diberi ruang untuk berkembang, peluang untuk pulih dan hidup mandiri tetap sangat terbuka.

Analisis Penulis berdasarkan Asesmen Lapangan

Berdasarkan hasil survei dan wawancara, penulis menemukan adanya jarak yang cukup besar antara pengetahuan masyarakat dan fakta ilmiah tentang skizofrenia.

Sebagian besar responden memang pernah mendengar istilah ini, tetapi pemahamannya masih dipengaruhi stereotip seperti dianggap berbahaya, tidak dapat mengendalikan diri, atau identik dengan kepribadian ganda.

Hal ini menunjukkan bahwa kurangnya literasi kesehatan mental masih menjadi pemicu utama munculnya stigma.

Wawancara dengan penyandang skizofrenia memberikan gambaran yang lebih manusiawi mengenai kondisi ini.

Mereka menceritakan pengalaman dengan halusinasi, pikiran yang sulit dikendalikan, serta rasa lelah karena sering kali tidak dipercaya lingkungan.

Seorang perawat yang ditemui penulis menyampaikan, “Banyak orang takut dulu sebelum mencoba memahami. Padahal yang dibutuhkan pasien itu bukan jarak, tapi dukungan.”

Temuan ini menunjukkan bahwa selain penanganan medis, edukasi publik dan dukungan sosial sangat penting untuk membantu pemulihan dan mengurangi stigma.

Penutup

Skizofrenia bukan akhir dari kehidupan seseorang. Dengan pengobatan yang tepat, dukungan keluarga, dan masyarakat yang lebih memahami, banyak penyandang skizofrenia bisa kembali bekerja, belajar, atau menjalani kegiatan harian seperti sebelumnya.

Mereka bukan sekadar “penderita”, tetapi manusia yang sedang berjuang. Dan sering kali, yang mereka butuhkan hanyalah ruang aman, sedikit pengertian, dan seseorang yang mau mendengarkan tanpa takut.

 

Penulis:
1. Amanda Putri Vadya
2. Siti Octazahrah Liviany
Mahasiswa Prodi Psikologi, Universitas Jambi

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

  • Penulis: tentangsehatcom

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Fakta MSG

    Mengenal MSG Lebih Dekat: Penguat Rasa yang Sering disalahpahami

    • calendar_month Sen, 5 Jan 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 297
    • 0Komentar

    Monosodium Glutamate atau lebih dikenal sebagai MSG atau vetsin merupakan salah satu bahan tambahan pangan (BTP) golongan penguat rasa. Bahan tambahan pangan ini telah lama digunakan oleh masyarakat untuk menghadirkan karakteristik cita rasa gurih atau umami pada berbagai masakan, baik dari tingkat industri pangan maupun dapur rumah tangga. Secara kimia, Monosodium Glutamate memiliki rumus kimia […]

  • media edukasi kesehatan

    Edukasi Manajemen Nyeri Komplementer Distraksi Audiovisual pada Pasien Rheumatoid Arthritis di Desa Lidah Tanah Serdang Bedagai

    • calendar_month Ming, 8 Feb 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 259
    • 0Komentar

    Kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan di Desa Lidah Tanah Serdang Bedagai yang diketahui Bapak Mulidan, S.Kep, Ns, M.Kep selaku Dosen Prodi Sarjana Keperawatan dan Profesi Ners. Kegiatan pengabdian masyarakat dengan rangkaian acara memberikan penyuluhan berjudul “Penerapan terapi komplementer dengan menggunakan distraksi audiovisual untuk menurunkan intesitas nyeri yang dirasakan oleh pasien rheumatoid arthtritis” pada Kamis (22/01) pukul […]

  • Tugas Dokter Orthopedi

    10 Tugas Dokter Orthopedi dalam Menangani Berbagai Kondisi Kesehatan

    • calendar_month Kam, 16 Jan 2025
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 493
    • 0Komentar

    Dalam dunia medis, tugas dokter orthopedi dalam menangani berbagai kondisi kesehatan sangat vital untuk menjaga kualitas hidup pasien. Orthopedi adalah spesialisasi yang fokus pada diagnosis, pengobatan, pencegahan, dan rehabilitasi masalah muskuloskeletal. Apakah kamu pernah mengalami cedera tulang atau nyeri sendi? Dokter orthopedi adalah profesional yang tepat untuk membantu kamu kembali aktif dan sehat. Berikut adalah […]

  • cara menjaga kesehatan mental

    Scroll Seperlunya, Hidup Sepenuhnya: Menjaga Kesehatan Mental di Era Media Sosial

    • calendar_month Sab, 16 Mei 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 58
    • 0Komentar

    Pernahkah kamu merasa lelah, cemas, atau overthinking setelah terlalu lama membuka media sosial? Awalnya hanya ingin melihat satu video atau membaca satu berita, tetapi tanpa sadar jari terus menggulir layar selama berjam-jam. Fenomena ini dikenal dengan istilah doomscrolling, yaitu kebiasaan terus-menerus melihat berita negatif atau konten yang memicu kecemasan di media sosial. Tidak sedikit orang […]

  • Kualitas Air dan Perilaku Masyarakat terhadap Derajat Kesehatan Masyarakat

    Kualitas Air dan Perilaku Masyarakat terhadap Derajat Kesehatan Masyarakat

    • calendar_month Sen, 5 Mei 2025
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 525
    • 0Komentar

    Disusun Oleh: Rini Puspasari Mahasiswa Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Lampung Dosen Pengampu: Prof. Drs. Tugiyono, M.Si., Ph. D Abstrak Air bersih dapat diartikan sebagai kebutuhan bagi kehidupan manusia. Kualitas air yang buruk dan perilaku Masyarakat dalam mengelola air sangat berpengaruh terhadap derajat Kesehatan Masyarakat. Kualitas air dan perilaku Masyarakat merupakan factor utama yang […]

  • Strategi Efektif Mengobati Depresi Menurut Dokter untuk Pemulihan Optimal

    10 Cara Ampuh Mengobati Depresi Menurut Dokter untuk Pemulihan Optimal

    • calendar_month Rab, 7 Des 2022
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 505
    • 0Komentar

    Depresi adalah salah satu masalah kesehatan mental yang paling umum dan serius di dunia saat ini. Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 264 juta orang di seluruh dunia mengalami depresi setiap tahunnya. Nah, maka dari itu, kita perlu mengetahui cara ampuh mengobati depresi menurut dokter. Di Indonesia sendiri, angka ini terus meningkat […]

expand_less