Breaking!
light_mode
Trending
Beranda » Artikel » Dari Stigma ke Pemahaman: Mengenal Skizofrenia dengan Cara yang Lebih Tepat

Dari Stigma ke Pemahaman: Mengenal Skizofrenia dengan Cara yang Lebih Tepat

  • account_circle tentangsehatcom
  • calendar_month Rabu, 3 Des 2025
  • visibility 502
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Banyak orang mengenal skizofrenia lewat gambaran yang salah. Istilah ini sering dianggap menakutkan, dikaitkan dengan “kegilaan”, atau bahkan mitos yang tidak berdasar.

Akibatnya, penyandang skizofrenia sering disalahpahami dan distigmatisasi sebelum orang benar benar tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Padahal dengan pengobatan yang tepat dan dukungan lingkungan, banyak penyandang skizofrenia dapat hidup stabil dan berfungsi kembali.

WHO mencatat lebih dari 20 juta orang di dunia hidup dengan kondisi ini, sementara di Indonesia sekitar 6,7 dari 1.000 rumah tangga memiliki anggota dengan skizofrenia atau psikosis.

Ini menunjukkan bahwa kondisi ini jauh lebih dekat dengan kita, sehingga memahami tanpa stigma menjadi langkah penting.

Skizofrenia Itu Apa Sih? Realitas di Balik Label

Menurut ICD 11 (2022), skizofrenia melibatkan gangguan pada persepsi, keyakinan, pola pikir, pengalaman diri, dan perilaku yang berlangsung cukup lama sehingga mengganggu fungsi sosial.

DSM 5 TR (APA, 2022) menyoroti gejala seperti delusi, halusinasi, bicara yang tidak teratur, perilaku yang tidak terorganisasi, serta gejala negatif seperti ekspresi emosi yang menurun atau hilangnya motivasi.

Baca Juga: Ketika Jiwa Lelah: Memahami Apa itu Emotional Exhaustion

Sementara itu, WHO menggambarkan skizofrenia sebagai kondisi jangka panjang yang memengaruhi kemampuan berpikir jernih, mengelola emosi, berkomunikasi, dan membangun hubungan sosial.

Organisasi ini juga menegaskan bahwa skizofrenia membutuhkan penanganan medis profesional, bukan stigma atau penilaian moral.

Apa Gejala Utamanya? Ternyata Tidak Sesederhana “Halusinasi”

Dalam wawancara lapangan, penulis menemukan bahwa sebagian masyarakat berpikir gejala skizofrenia hanya sebatas halusinasi.

Padahal literatur ilmiah menyebutkan bahwa skizofrenia memiliki dua kelompok gejala besar: gejala positif dan gejala negatif.

Gejala Positif

Gejala ini melibatkan distorsi persepsi dan pola pikir, meliputi:

  • halusinasi pendengaran,
  • delusi atau keyakinan keliru yang sulit diluruskan,
  • bicara yang tidak koheren,
  • serta perilaku yang tidak terarah.

Gejala Negatif

Kelompok gejala ini sering lebih membebani kehidupan sehari hari, misalnya:

  • hilangnya motivasi,
  • ekspresi emosi yang berkurang,
  • menarik diri dari kegiatan sosial,
  • sulit fokus,
  • serta perubahan pola tidur.

Tenaga kesehatan yang diwawancarai penulis menegaskan bahwa gejala negatif sering tidak disadari keluarga karena muncul perlahan.

Padahal perubahan kecil seperti ini adalah tanda penting untuk meminta bantuan profesional lebih awal.

Baca Juga: Campak Lebih Menular daripada COVID-19

Lalu Kenapa Seseorang Bisa Mengalami Skizofrenia?

Banyak orang masih percaya bahwa skizofrenia muncul karena stres berat atau karena seseorang “tidak kuat mental”.

Padahal penelitian menunjukkan bahwa penyebab skizofrenia lebih kompleks. Kondisi ini muncul dari kombinasi faktor genetik, perubahan pada fungsi otak, pengalaman hidup, serta kondisi lingkungan.

Dengan kata lain, stres bukan penyebab tunggal. Stres hanya bisa menjadi pemicu pada seseorang yang sudah memiliki kerentanan biologis sejak awal.

Saat penulis melakukan wawancara lapangan, seorang perawat sempat berkata sambil tersenyum pelan, “Bukan berarti karena lagi banyak masalah terus orang langsung jadi skizofrenia. Kalau sesederhana itu, kita semua sudah dirawat,” katanya.

Ia lalu menambahkan, “Yang sering terjadi adalah stres mempercepat munculnya gejala pada orang yang memang sudah punya faktor bawaan.”

Penjelasan ini penting agar masyarakat berhenti mencari kambing hitam atau menyalahkan pasien dan keluarga.

Skizofrenia bukan akibat kurang iman, karma buruk, atau kelemahan mental. Ini kondisi medis yang bisa dijelaskan secara ilmiah dan ditangani dengan pendekatan profesional.

Baca Juga: 10 Cara Mengelola Stres yang Ampuh dan Mudah

Faktor di Balik Kemunculannya

Skizofrenia lebih berisiko terjadi pada individu dengan kondisi tertentu yang membentuk kerentanan biologis maupun lingkungan.

Faktor-faktor berikut sering disebut dalam literatur sebagai pemicu meningkatnya risiko:

1. Genetik

Risiko meningkat bila ada anggota keluarga inti dengan skizofrenia. Penelitian menunjukkan peluang bisa naik sekitar 10 persen, namun gen bukan satu satunya faktor.

2. Lingkungan

Paparan stres berat, trauma, atau infeksi tertentu dapat memicu gejala terutama pada individu yang sudah rentan.

3. Kehamilan dan Persalinan

Masalah seperti infeksi selama kehamilan, kelahiran prematur, atau kekurangan oksigen saat lahir dapat meningkatkan risiko.

4. Penggunaan Zat

Konsumsi zat psikoaktif terutama ganja pada usia remaja atau dewasa muda dapat meningkatkan kemungkinan munculnya skizofrenia.

Kapan Harus ke Profesional?

Tanda awal skizofrenia sering samar dan mirip stres atau depresi. Misalnya mulai sulit tidur, menarik diri dari lingkungan, sulit fokus, atau terlihat bingung tanpa alasan jelas. Karena berkembang pelan, gejala ini sering dianggap biasa saja.

Kalau perubahan perilaku berlangsung terus menerus dan mulai mengganggu kegiatan sehari hari, saatnya berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater.

Pemeriksaan profesional membantu memastikan apakah gejala tersebut terkait skizofrenia atau kondisi lain.

Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang pasien untuk stabil dan menjalani hidup yang lebih baik.

Jadi kalau ada tanda yang membuat ragu, jangan tunggu parah dulu. Memeriksakan diri bukan soal lemah. Itu bentuk perhatian pada kesehatan diri dan orang yang kita sayangi.

Baca Juga: 10 Cara Ampuh Mengobati Depresi Menurut Dokter untuk Pemulihan Optimal

Kenapa Penting ke Profesional?

1. Diagnosis yang Tepat

Gejala awal skizofrenia sering mirip stres, depresi, atau kecemasan. Profesional membantu memastikan apakah yang terjadi benar early psychosis atau kondisi lain supaya tidak salah penanganan.

2. Mencegah Kondisi Memburuk

Semakin cepat ditangani, semakin kecil risiko gejala berkembang menjadi psikosis berat seperti halusinasi atau delusi.

3. Akses Pengobatan yang Tepat

Penanganan skizofrenia biasanya mencakup obat antipsikotik, psikoterapi, dan rehabilitasi. Hanya profesional yang bisa menentukan dosis, metode, dan pemantauan yang aman.

4. Mencegah Dampak ke Kehidupan Sehari-hari

Tanpa bantuan, skizofrenia bisa mengganggu sekolah, pekerjaan, hubungan sosial, sampai kemampuan merawat diri. Dengan intervensi, pasien bisa belajar cara adaptasi dan kembali berfungsi.

5. Dukungan untuk Pasien dan Keluarga

Konsultasi juga membantu keluarga memahami kondisi, mengurangi kebingungan, dan membangun dukungan yang lebih sehat tanpa stigma.

Stigma Masyarakat dan Dampaknya pada Pemulihan

Stigma masih menjadi tantangan besar dalam penanganan skizofrenia karena memengaruhi cara masyarakat memandang dan memperlakukan penyandangnya.

Berdasarkan survei dan wawancara yang dilakukan oleh penulis, banyak orang memang familiar dengan istilah skizofrenia, tetapi pemahamannya masih dipenuhi asumsi keliru seperti dianggap berbahaya, kehilangan kontrol diri, atau identik dengan kata “gila”.

Padahal sebagian besar penyandang skizofrenia bisa hidup stabil dan berfungsi baik ketika menjalani pengobatan rutin.

Dalam wawancara, seorang perawat menyampaikan, “Yang sering terjadi bukan pasiennya berbahaya, tapi lingkungan yang tidak mengerti.”

Ia menjelaskan bahwa banyak pasien sebenarnya kooperatif dan tidak seperti gambaran yang dibayangkan masyarakat.

Kalimat ini menggambarkan jelas adanya jarak antara stigma publik dan kondisi nyata.

Itu sebabnya edukasi publik diperlukan agar masyarakat dapat melihat skizofrenia secara lebih benar.

Sebagai kondisi medis yang bisa ditangani, bukan sebagai label yang menakutkan.

Apa yang bisa dilakukan keluarga sebagai penanganan pertama?

  1. Menjaga komunikasi yang tenang dan tidak menghakimi
  2. Mengawasi minum obat secara teratur
  3. Menciptakan lingkungan rumah yang stabil
  4. Mengajak aktivitas ringan sesuai kemampuan
  5. Mengenali tanda kekambuhan

Apa yang bisa dilakukan masyarakat sebagai lingkungan pendukung?

  1. Tidak memberi label dan tidak menyebarkan cerita salah
  2. Mendorong akses ke layanan kesehatan
  3. Menciptakan lingkungan yang menerima
  4. Tidak melakukan tindakan kekerasan
  5. Terlibat dalam kegiatan komunitas

Pendekatan yang Tepat untuk Menangani Skizofrenia

Pemulihan skizofrenia membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Tidak cukup hanya obat atau terapi saja, tetapi kombinasi keduanya bersama dukungan sosial yang konsisten. Pendekatan terbaik biasanya mencakup:

Obat Antipsikotik

Membantu mengendalikan halusinasi, delusi, dan pikiran yang tidak teratur. Jenis obat dan dosis ditentukan profesional dan perlu diminum rutin.

Psikoterapi

Seperti CBT dan terapi keluarga. Membantu pasien mengelola stres, memahami gejala, serta memperbaiki pola komunikasi di rumah.

Dukungan Sosial dan Rehabilitasi

Meliputi latihan keterampilan sosial, dukungan pendidikan atau pekerjaan, serta komunitas pendamping agar pasien tetap terhubung dan percaya diri.

Harapan Pemulihan

Pemulihan pada skizofrenia bukan sesuatu yang mustahil. Banyak pasien mulai membaik melalui perubahan kecil, seperti tidur lebih tenang, mampu fokus pada satu aktivitas, atau kembali merasa nyaman berinteraksi dengan orang lain.

Dengan pengobatan teratur, psikoterapi, dan dukungan sosial yang konsisten, penyandang skizofrenia dapat kembali menjalani rutinitas, bekerja, belajar, atau mengikuti kegiatan yang sebelumnya mereka tinggalkan.

Prosesnya mungkin tidak selalu mulus, tetapi penelitian menunjukkan bahwa kombinasi penanganan yang tepat dan lingkungan yang mendukung dapat membantu pasien mencapai fase stabil lebih lama dan meningkatkan kualitas hidup.

Selama mereka tidak disertai stigma dan tetap diberi ruang untuk berkembang, peluang untuk pulih dan hidup mandiri tetap sangat terbuka.

Analisis Penulis berdasarkan Asesmen Lapangan

Berdasarkan hasil survei dan wawancara, penulis menemukan adanya jarak yang cukup besar antara pengetahuan masyarakat dan fakta ilmiah tentang skizofrenia.

Sebagian besar responden memang pernah mendengar istilah ini, tetapi pemahamannya masih dipengaruhi stereotip seperti dianggap berbahaya, tidak dapat mengendalikan diri, atau identik dengan kepribadian ganda.

Hal ini menunjukkan bahwa kurangnya literasi kesehatan mental masih menjadi pemicu utama munculnya stigma.

Wawancara dengan penyandang skizofrenia memberikan gambaran yang lebih manusiawi mengenai kondisi ini.

Mereka menceritakan pengalaman dengan halusinasi, pikiran yang sulit dikendalikan, serta rasa lelah karena sering kali tidak dipercaya lingkungan.

Seorang perawat yang ditemui penulis menyampaikan, “Banyak orang takut dulu sebelum mencoba memahami. Padahal yang dibutuhkan pasien itu bukan jarak, tapi dukungan.”

Temuan ini menunjukkan bahwa selain penanganan medis, edukasi publik dan dukungan sosial sangat penting untuk membantu pemulihan dan mengurangi stigma.

Penutup

Skizofrenia bukan akhir dari kehidupan seseorang. Dengan pengobatan yang tepat, dukungan keluarga, dan masyarakat yang lebih memahami, banyak penyandang skizofrenia bisa kembali bekerja, belajar, atau menjalani kegiatan harian seperti sebelumnya.

Mereka bukan sekadar “penderita”, tetapi manusia yang sedang berjuang. Dan sering kali, yang mereka butuhkan hanyalah ruang aman, sedikit pengertian, dan seseorang yang mau mendengarkan tanpa takut.

 

Penulis:
1. Amanda Putri Vadya
2. Siti Octazahrah Liviany
Mahasiswa Prodi Psikologi, Universitas Jambi

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

  • Penulis: tentangsehatcom

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pengobatan Penyakit Jantung Alami Tanpa Obat

    8 Pengobatan Penyakit Jantung Alami Tanpa Obat yang Ampuh

    • calendar_month Senin, 29 Jan 2024
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 535
    • 0Komentar

    Penyakit jantung tetap menjadi salah satu penyebab utama kematian di seluruh dunia. Meskipun kemajuan dalam pengobatan medis telah memberikan banyak pilihan untuk pengelolaan penyakit jantung, banyak orang mulai mencari cara alternatif yang lebih alami dan minim efek samping dengan pengobatan penyakit jantung alami tanpa obat. Salah satu pendekatan yang semakin populer adalah pengobatan penyakit jantung […]

  • Peran Mikrobiota Usus

    Ketika Mikroba Mengendalikan Tubuh Kita: Peran Mikrobiota Usus dalam Sistem Imun dan Metabolisme

    • calendar_month Jumat, 15 Mei 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 130
    • 0Komentar

    Kita sering memandang tubuh manusia sebagai sistem biologis yang sepenuhnya dikendalikan oleh sel-sel manusia. Namun di dalam usus besar hidup sekitar 10¹⁴ mikroorganisme dari ratusan hingga ribuan spesies berbeda. Jumlah ini setara, bahkan dapat melebihi, jumlah sel manusia dalam tubuh. Jika dihitung massanya, komunitas mikroba tersebut dapat mencapai 1–2 kilogram. Pertanyaannya: apakah makhluk-makhluk kecil ini […]

  • penyakit anoreksia

    Anoreksia di Era Media Sosial: Ketika Standar Kecantikan Tubuh Ideal Menjadi Ancaman bagi Kesehatan Mental dan Fisik

    • calendar_month Senin, 8 Jun 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 148
    • 0Komentar

    Era digital saat ini, media sosial menjadi bagian tidak terpisahkan dari remaja dan dewasa awal. Hadirnya platform seperti Instagram, TikTok, X, dan YouTube dipenuhi dengan gaya hidup sehat, tips kecantikan, body goals, dan diet. Berkat adanya konten berikut tidak sedikit pengguna yang akhirnya membandingkan diri mereka dengan standar tubuh yang sering berada di platform-platform media […]

  • Hipertensi pada Lansia

    Cegah Komplikasi: Kenali Cara Mengontrol Hipertensi pada Lansia

    • calendar_month Minggu, 20 Jul 2025
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 559
    • 0Komentar

    Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan jenis Penyakit Tidak Menular (PTM) yang menjadi penyebab utama kematian dini di seluruh dunia. World Heart Organization (WHO) memperkirakan penderita hipertensi di seluruh dunia sekitar 1,28 miliar orang dewasa berusia 30-79 tahun. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran pada usia 65 – 74 […]

  • Inovasi PMT

    Manis Alami dari Pangan Lokal: Inovasi PMT Puding Lapis Kacang Hijau dan Ubi Ungu

    • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 401
    • 0Komentar

    Masalah gizi buruk pada balita masih menjadi tantangan global, termasuk di Indonesia. Di tingkat nasional, berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Survei Status Gizi Indonesia (2022), prevalensi stunting tercatat sebesar 21,6%, underweight 17,1%, dan wasting 7,7% pada balita. Meskipun angka tersebut menunjukkan tren penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, prevalensi masalah gizi pada balita masih tergolong […]

  • Overweight pada balita

    Cegah Overweight pada Balita dengan Edukasi Permainan Engklek

    • calendar_month Selasa, 23 Des 2025
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 458
    • 0Komentar

    Masalah gizi pada balita merupakan masalah kesehatan yang menjadi perhatian global, termasuk di Indonesia. Saat ini, masalah gangguan gizi tidak hanya kekurangan gizi, tetapi kelebihan berat badan (overweight) pada balita juga menjadi fenomena yang semakin sering dijumpai. Mengapa Overweight pada Balita Terjadi? Kelebihan berat badan terjadi karena ketidakseimbangan antara asupan dan keluaran energi (energy expenditures) […]

expand_less