Peran Posyandu dalam Mencegah Stunting melalui PMT Bubur Sumsum berbasis Daun Kelor dan Kacang Merah
- account_circle tentangsehatcom
- calendar_month Sel, 3 Mar 2026
- visibility 34
- comment 0 komentar

Bubur Sumsum Daun Kelor (Foto: Cookpad/erni680 )
Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak pada pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, dan produktivitas jangka panjang.
Posyandu sebagai layanan kesehatan berbasis masyarakat memiliki peran strategis dalam pencegahan stunting melalui pemantauan pertumbuhan, edukasi gizi, dan intervensi gizi spesifik, seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT).
Artikel ini bertujuan menganalisis potensi PMT bubur sumsum berbasis daun kelor (Moringa oleifera) dan kacang merah (Phaseolus vulgaris) sebagai inovasi pangan lokal dalam mendukung pencegahan stunting.
Hasil analisis menunjukkan bahwa kombinasi daun kelor dan kacang merah dapat meningkatkan kandungan protein dan mikronutrien penting seperti zat besi dan vitamin A, sehingga berpotensi mendukung pertumbuhan optimal anak balita.
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Menurut World Health Organization, stunting ditandai dengan panjang atau tinggi badan menurut umur di bawah minus dua standar deviasi (<-2 SD) dari standar pertumbuhan anak.
Baca Juga: Bukan Sulit Diatur: Memahami ADHD pada Anak Tanpa Menghakimi
Di Indonesia, pencegahan stunting menjadi prioritas nasional melalui intervensi gizi spesifik dan sensitif.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menekankan pentingnya pemantauan pertumbuhan rutin, edukasi gizi keluarga, serta pemberian PMT bagi balita berisiko gizi kurang. Posyandu berperan sebagai ujung tombak pelaksanaan program ini di tingkat masyarakat.
Peran Strategis Posyandu dalam Pencegahan Stunting
Posyandu memiliki tiga fungsi utama dalam pencegahan stunting:
- Pemantauan pertumbuhan rutin
- Edukasi dan konseling gizi
- Intervensi gizi spesifik melalui PMT
Inovasi PMT berbasis pangan lokal menjadi strategi yang dianjurkan karena lebih berkelanjutan dan mudah diterapkan di masyarakat.
Potensi Gizi Daun Kelor dan Kacang Merah
1. Daun Kelor (Moringa oleifera)
Moringa oleifera dikenal memiliki kandungan protein, zat besi, vitamin A, vitamin C, dan kalsium yang tinggi.
Studi dalam lima tahun terakhir menunjukkan bahwa suplementasi kelor berkontribusi dalam peningkatan kadar hemoglobin dan status gizi anak.
Kandungan zat besi dan vitamin A pada daun kelor mendukung:
- Pencegahan anemia
- Peningkatan imunitas
- Pertumbuhan jaringan tubuh
Baca Juga: Sulawesi Barat dan Mimpi Besar Menghapus Stunting
2. Kacang Merah (Phaseolus vulgaris)
Phaseolus vulgaris merupakan sumber protein nabati dan energi yang baik, serta mengandung zat besi dan serat pangan.
Kombinasi protein kacang merah dengan karbohidrat dari tepung beras dalam bubur sumsum dapat meningkatkan kualitas protein melalui keseimbangan asam amino.
Inovasi PMT Bubur Sumsum berbasis Daun Kelor dan Kacang Merah
Bubur sumsum secara tradisional berbahan dasar tepung beras dan santan, yang dominan mengandung karbohidrat dan lemak.
Penambahan daun kelor dan kacang merah memberikan beberapa keunggulan:
- Menambah kandungan protein
- Menambah kandungan zat besi dan vitamin A
- Meningkatkan kepadatan energi
- Memanfaatkan bahan lokal yang ekonomis
Dari perspektif program, inovasi ini selaras dengan pedoman PMT berbasis pangan lokal yang dianjurkan oleh Kemenkes, yaitu menggunakan bahan mudah diperoleh, bernilai gizi tinggi, dan dapat diterima anak.
Baca Juga: Bukan Sulit Diatur: Memahami ADHD pada Anak Tanpa Menghakimi
Analisis Dampak terhadap Pencegahan Stunting
Stunting berkaitan erat dengan defisit protein dan mikronutrien jangka panjang. Intervensi melalui PMT berkualitas dapat:
- Mendukung pertumbuhan linear anak
- Mengurangi risiko anemia defisiensi besi
- Meningkatkan kecukupan energi harian
Namun, keberhasilan intervensi sangat dipengaruhi oleh:
- Konsistensi kunjungan Posyandu
- Kepatuhan keluarga
- Daya terima anak terhadap inovasi pangan
Posyandu memiliki peran strategis dalam pencegahan stunting melalui pemantauan pertumbuhan, edukasi gizi, dan pelaksanaan PMT berbasis pangan lokal.
Bubur sumsum berbasis daun kelor (Moringa oleifera) dan kacang merah (Phaseolus vulgaris) merupakan inovasi yang berpotensi meningkatkan asupan protein dan mikronutrien penting bagi balita.
Pendekatan ini sejalan dengan kebijakan nasional pencegahan stunting dan mendukung pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan bahan pangan lokal yang bergizi dan berkelanjutan.
Penulis: Graciella Valerie Chen, S.Gz.
Mahasiswa Prodi Profesi Dietisien, Universitas Esa Unggul
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Sumber
Cahyaningsih, O., Retnaningrum, O. T. D., & Zulaika, C. (2025). The utilization of moringa leaves (Moringa oleifera) as a nutritional supplement in preventing stunting in toddlers: Nutrition study and the impact of routine consumption.Indonesian Journal of Global Health Research, 7(1), 849–856. https://doi.org/10.37287/ijghr.v7i1.4401
Ihlas, I., & Hikmah, H. (2025). Preventing stunting in early childhood through the utilization of local food Moringa oleifera in Dompu. Cakrawala Dini: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini. (Early publication).
Oksidriyani, S. (2023). Moringa oleifera and undernutrition: A narrative review. Jurnal EduHealth. (Review focusing on malnutrition and stunting contexts).
Sadohara, R., Wiesinger, J. A., Thompson, H. J., Glahn, R. P., & Cichy, K. (2024). Yellow bean (Phaseolus vulgaris L.) germplasm with less dietary fiber have shorter cooking times and more bioavailable iron. Current Research in Food Science, 10, 100942. https://doi.org/10.1016/j.crfs.2024.100847
Mbiu, J., Assefa, T., Mukankusi, C., Rubyogo, J. C., & Philipo, M. (2025). Consumer traits of common beans: A global and regional perspective on protein and mineral content. Frontiers in Nutrition, 12, 1658338. https://doi.org/10.3389/fnut.2025.1658338
- Penulis: tentangsehatcom

Saat ini belum ada komentar