Cacing dan Gotong Royong
- account_circle TentangSehat.com
- calendar_month Ming, 14 Des 2025
- visibility 315
- comment 0 komentar

Cacing dan Gotong Royong. Sumber gambar: thehealthybelly.co.
Ulasan Umum
Secara umum, prevalensi infeksi kecacingan di Indonesia mencapai 60-70%, terutama terjadi pada anak usia sekolah dasar (5-14 tahun) yang mencapai 21%. Prevalensi ini dipengaruhi oleh kondisi iklim tropis, kelembapan tinggi, serta sanitasi dan kebersihan yang buruk.
Wilayah dengan prevalensi tinggi termasuk Nusa Tenggara Barat (83,6%), Sumatera Barat (82,3%), dan Sumatera Utara (60,4%). Secara nasional, prevalensi kecacingan sekitar 28,12% Kasus kecacingan yang akhir-akhir ini sedang marak dibicarakan membuat masyarakat menjadi lebih was-was terhadap kebersihan dan kehigienisan.
Ditinjau dari kasus balita 4 tahun yang ada di sukabumi, badan balita tersebut telah digerogoti oleh parasit berupa cacing dan telah mengekstrak hampir 80% nutrisi yang ada di tubuh balita tersebut. Dalam kasus ini balita tersebut telah terinfeksi hingga tahap akut.
Cacing tersebut hingga ditemukan keluar lewat lubang-lubang yang ada di tubuhnya seperti di hidungnya, telinganya, matanya, bahkan sampai dari alat kelaminnya.
Disimpulkan bahwa tubuh balita ini sudah terinvasi oleh parasit yang menyebabkan balita mengalami malnutrisi parah dan rasa sakit yang luar biasa. Sayangnya disebabkan lambatnya penanganan, nyawa balita tersebut sudah tidak bisa terselamatkan.
Penyakit yang diderita balita itu biasa disebut dengan Askariasis. Lalu, mengapa penyakit ini disebut askariasis? Karena data menunjukkan bahwa pemeriksaan menyebutkan, ditemukan cacing gelang seberat 1 kg. Nama latin spesies cacing gelang tersebut adalah Ascaris Lumbricoides.
Secara umum dapat dilihat bahwa cacing Ascaris lumbricoides berwarna merah berbentuk silinder, cacing jantan lebih kecil ukurannya daripada cacing betina, pada stadium dewasa, cacing ini akan hidup dan berkembang di dalam rongga usus kecil.
Cacing ini memiliki 3 buah bibir, masing-masing satu dibagian dorsal (punggung) dan dua lagi dibagian ventrolateral (permukaan perut). Bibir inilah yang memudahkan cacing ini melekat di lumen usus halus dan menyerap nutrisi dari tubuh manusia.
Yang membuat cacing ini mudah berkembang biak di tubuh manusia adalah karena cacing ini memiliki 4 jenis telur yang dibedakan berdasarkan morfologisnya. Salah satu jenis telurnya, telur ferti, dilapisi lapisan albuminoid yang membuat cacing ini bisa melewati pertahanan di lambung berupa asam lambung.
Baca Juga: Mengapa Berat Badan Balita Tidak Naik? Kenali Penyebab dan Solusinya
Jenis Cacing Lain
Namun, nyatanya pada beberapa kasus banyak yang tidak hanya terinfeksi oleh cacing Ascaris lumbricoides. Jenis cacing lain yang menginfeksi manusia selain Ascaris Lumbricoides antara lain Strongyloides stercoralis, cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale), Trichuris trichiura, dan Enterobius vermicularis (cacing kremi).
Strongyloides stercoralis menginfeksi dengan cara larvanya menembus kulit saat kontak dengan tanah tercemar, lalu bermigrasi melalui darah ke paru dan usus. Cacing tambang juga menembus kulit terutama kaki saat kontak dengan tanah tercemar, kemudian larvanya masuk ke paru-paru dan usus halus.
Trichuris trichiura menginfeksi lewat telur yang tertelan melalui makanan atau minuman tercemar dan menetas di usus besar. Enterobius vermicularis menginfeksi setelah telur yang menempel di area anus tertelan kembali, biasanya akibat jari yang tergaruk gatal.
Pada balita 4 tahun yang mengalami infeksi kecacingan kronis, infeksi ini bisa melibatkan beberapa jenis cacing tersebut, terutama karena kebiasaan bermain di tanah dan kurangnya higiene yang menyebabkan penularan telur atau larva cacing lewat kulit atau mulut.
Infeksi berulang dan multijenis ini memperburuk kondisi kesehatan anak jika tidak ditangani dengan baik (Widyaningsih et al., 2022; Suryani et al., 2021; Haryanto et al., 2020).
Pentingnya Gotong Royong
Faktor utama penyebab tidak tertanganinya kasus balita 4 tahun adalah kurangnya kesadaran dari keluarga dan lingkungan sekitar terhadap kesehatan.
Penanganan yang diberikan untuk korban sudah sangat-sangat terlambat karena korban sudah dalam kondisi kronis yang artinya korban sudah terinfeksi cacing dalam jangka waktu yang sangat-sangat lama.
Pencegahan kecacingan memerlukan upaya berkelanjutan yang melibatkan keluarga, sekolah, fasilitas kesehatan, dan komunitas secara keseluruhan.
Langkah utamanya adalah meningkatkan sanitasi dasar, kebersihan pribadi, serta perilaku higienis seperti mencuci tangan dengan sabun, membuang tinja pada tempatnya, dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar.
Program massal pengobatan antiparasit di komunitas, disertai pendidikan gizi dan sanitasi, telah terbukti menurunkan beban infeksi pada anak-anak sekolah dasar di berbagai wilayah Indonesia maupun negara tetangga.
Kunci keberhasilan adalah gotong royong, kolaborasi antara dinas kesehatan, sekolah, Puskesmas, tokoh masyarakat, serta orang tua untuk memastikan akses terhadap fasilitas sanitasi yang memadai, ketersediaan air bersih, serta kepatuhan komunitas terhadap sanitasi lingkungan.
Baca Juga: Kualitas Air dan Perilaku Masyarakat terhadap Derajat Kesehatan Masyarakat
Penelitian terbaru menekankan bahwa perubahan perilaku jangka panjang, didukung infrastruktur sanitasi yang lebih baik dan program edukasi berkelanjutan, berperan besar dalam menurunkan prevalensi kecacingan secara signifikan dan meningkatkan kualitas gizi serta perkembangan anak secara umum.
Upaya terpadu seperti ini tidak hanya mengurangi morbiditas akibat infeksi STH, tetapi juga memperkuat kesehatan anak-anak dan produktivitas komunitas di masa mendatang.
Penulis: Marsha Alya Zahra
Mahasiswa Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR)
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Referensi
Kemenkes RI (2018) Hasil survei prevalensi kecacingan nasional. Jurnal Kesehatan Terapan Indonesia.
Annida, R. et al. (2019) ‘Analisis sikap dan pengetahuan remaja rentang usia 10-19 tahun terhadap pencegahan infeksi cacingan’, Prosiding Seminar Nasional Biologi online. Tersedia di: https://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/download/106/89 (Diakses: 3 September 2025).
Suriani, E. et al. (2019) ‘Analisis faktor penyebab kejadian kecacingan pada anak usia sekolah di Puskesmas Lubuk Buaya Padang tahun 2017’, Jurnal Kesehatan Andalas, 8(3), hlm. 1-10. Tersedia di: https://jurnal.fk.unand.ac.id/index.php/jka/article/view/1121 (Diakses: 25 Agustus 2025).
Widyaningsih, N., Suryani, A. dan Haryanto, B. (2022) ‘Prevalensi infeksi kecacingan di Indonesia: kasus askariasis kronis pada balita dan peran gotong royong dalam pencegahan’, Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia, 17(2), hlm. 45-60.
- Penulis: TentangSehat.com

Saat ini belum ada komentar