Breaking!
light_mode
Trending
Beranda » Penyakit » Cacing dan Gotong Royong

Cacing dan Gotong Royong

  • account_circle TentangSehat.com
  • calendar_month Minggu, 14 Des 2025
  • visibility 474
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ulasan Umum

Secara umum, prevalensi infeksi kecacingan di Indonesia mencapai 60-70%, terutama terjadi pada anak usia sekolah dasar (5-14 tahun) yang mencapai 21%. Prevalensi ini dipengaruhi oleh kondisi iklim tropis, kelembapan tinggi, serta sanitasi dan kebersihan yang buruk.

Wilayah dengan prevalensi tinggi termasuk Nusa Tenggara Barat (83,6%), Sumatera Barat (82,3%), dan Sumatera Utara (60,4%). Secara nasional, prevalensi kecacingan sekitar 28,12% Kasus kecacingan yang akhir-akhir ini sedang marak dibicarakan membuat masyarakat menjadi lebih was-was terhadap kebersihan dan kehigienisan.

Ditinjau dari kasus balita 4 tahun yang ada di sukabumi, badan balita tersebut telah digerogoti oleh parasit berupa cacing dan telah mengekstrak hampir 80% nutrisi yang ada di tubuh balita tersebut. Dalam kasus ini balita tersebut telah terinfeksi hingga tahap akut.

Cacing tersebut hingga ditemukan keluar lewat lubang-lubang yang ada di tubuhnya seperti di hidungnya, telinganya, matanya, bahkan sampai dari alat kelaminnya.

Disimpulkan bahwa tubuh balita ini sudah terinvasi oleh parasit yang menyebabkan balita mengalami malnutrisi parah dan rasa sakit yang luar biasa. Sayangnya disebabkan lambatnya penanganan, nyawa balita tersebut sudah tidak bisa terselamatkan.

Penyakit yang diderita balita itu biasa disebut dengan Askariasis. Lalu, mengapa penyakit ini disebut askariasis? Karena data menunjukkan bahwa pemeriksaan menyebutkan, ditemukan cacing gelang seberat 1 kg. Nama latin spesies cacing gelang tersebut adalah Ascaris Lumbricoides.

Secara umum dapat dilihat bahwa cacing Ascaris lumbricoides berwarna merah berbentuk silinder, cacing jantan lebih kecil ukurannya daripada cacing betina, pada stadium dewasa, cacing ini akan hidup dan berkembang di dalam rongga usus kecil.

Cacing ini memiliki 3 buah bibir, masing-masing satu dibagian dorsal (punggung) dan dua lagi dibagian ventrolateral (permukaan perut). Bibir inilah yang memudahkan cacing ini melekat di lumen usus halus dan menyerap nutrisi dari tubuh manusia.

Yang membuat cacing ini mudah berkembang biak di tubuh manusia adalah karena cacing ini memiliki 4 jenis telur yang dibedakan berdasarkan morfologisnya. Salah satu jenis telurnya, telur ferti, dilapisi lapisan albuminoid yang membuat cacing ini bisa melewati pertahanan di lambung berupa asam lambung.

Baca Juga: Mengapa Berat Badan Balita Tidak Naik? Kenali Penyebab dan Solusinya

Jenis Cacing Lain

Namun, nyatanya pada beberapa kasus banyak yang tidak hanya terinfeksi oleh cacing Ascaris lumbricoides. Jenis cacing lain yang menginfeksi manusia selain Ascaris Lumbricoides antara lain Strongyloides stercoralis, cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale), Trichuris trichiura, dan Enterobius vermicularis (cacing kremi).

Strongyloides stercoralis menginfeksi dengan cara larvanya menembus kulit saat kontak dengan tanah tercemar, lalu bermigrasi melalui darah ke paru dan usus. Cacing tambang juga menembus kulit terutama kaki saat kontak dengan tanah tercemar, kemudian larvanya masuk ke paru-paru dan usus halus.

Trichuris trichiura menginfeksi lewat telur yang tertelan melalui makanan atau minuman tercemar dan menetas di usus besar. Enterobius vermicularis menginfeksi setelah telur yang menempel di area anus tertelan kembali, biasanya akibat jari yang tergaruk gatal.

Pada balita 4 tahun yang mengalami infeksi kecacingan kronis, infeksi ini bisa melibatkan beberapa jenis cacing tersebut, terutama karena kebiasaan bermain di tanah dan kurangnya higiene yang menyebabkan penularan telur atau larva cacing lewat kulit atau mulut.

Infeksi berulang dan multijenis ini memperburuk kondisi kesehatan anak jika tidak ditangani dengan baik (Widyaningsih et al., 2022; Suryani et al., 2021; Haryanto et al., 2020).

Pentingnya Gotong Royong

Faktor utama penyebab tidak tertanganinya kasus balita 4 tahun adalah kurangnya kesadaran dari keluarga dan lingkungan sekitar terhadap kesehatan.

Penanganan yang diberikan untuk korban sudah sangat-sangat terlambat karena korban sudah dalam kondisi kronis yang artinya korban sudah terinfeksi cacing dalam jangka waktu yang sangat-sangat lama.

Pencegahan kecacingan memerlukan upaya berkelanjutan yang melibatkan keluarga, sekolah, fasilitas kesehatan, dan komunitas secara keseluruhan.

Langkah utamanya adalah meningkatkan sanitasi dasar, kebersihan pribadi, serta perilaku higienis seperti mencuci tangan dengan sabun, membuang tinja pada tempatnya, dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar.

Program massal pengobatan antiparasit di komunitas, disertai pendidikan gizi dan sanitasi, telah terbukti menurunkan beban infeksi pada anak-anak sekolah dasar di berbagai wilayah Indonesia maupun negara tetangga.

Kunci keberhasilan adalah gotong royong, kolaborasi antara dinas kesehatan, sekolah, Puskesmas, tokoh masyarakat, serta orang tua untuk memastikan akses terhadap fasilitas sanitasi yang memadai, ketersediaan air bersih, serta kepatuhan komunitas terhadap sanitasi lingkungan.

Baca Juga: Kualitas Air dan Perilaku Masyarakat terhadap Derajat Kesehatan Masyarakat

Penelitian terbaru menekankan bahwa perubahan perilaku jangka panjang, didukung infrastruktur sanitasi yang lebih baik dan program edukasi berkelanjutan, berperan besar dalam menurunkan prevalensi kecacingan secara signifikan dan meningkatkan kualitas gizi serta perkembangan anak secara umum.

Upaya terpadu seperti ini tidak hanya mengurangi morbiditas akibat infeksi STH, tetapi juga memperkuat kesehatan anak-anak dan produktivitas komunitas di masa mendatang.

Penulis: Marsha Alya Zahra
Mahasiswa Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR)

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Referensi

Kemenkes RI (2018) Hasil survei prevalensi kecacingan nasional. Jurnal Kesehatan Terapan Indonesia.

Annida, R. et al. (2019) ‘Analisis sikap dan pengetahuan remaja rentang usia 10-19 tahun terhadap pencegahan infeksi cacingan’, Prosiding Seminar Nasional Biologi online. Tersedia di: https://semnas.biologi.fmipa.unp.ac.id/index.php/prosiding/article/download/106/89 (Diakses: 3 September 2025).

Suriani, E. et al. (2019) ‘Analisis faktor penyebab kejadian kecacingan pada anak usia sekolah di Puskesmas Lubuk Buaya Padang tahun 2017’, Jurnal Kesehatan Andalas, 8(3), hlm. 1-10. Tersedia di: https://jurnal.fk.unand.ac.id/index.php/jka/article/view/1121 (Diakses: 25 Agustus 2025).

Widyaningsih, N., Suryani, A. dan Haryanto, B. (2022) ‘Prevalensi infeksi kecacingan di Indonesia: kasus askariasis kronis pada balita dan peran gotong royong dalam pencegahan’, Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia, 17(2), hlm. 45-60.

  • Penulis: TentangSehat.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • berhenti membandingkan diri

    Kalau Dia Bisa, Kenapa Kamu Nggak: Menemukan Rasa Berharga di Tengah Dunia yang Menuntut Keseragaman

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 113
    • 0Komentar

    Banyak dari kita seringkali mendengar kalimat ini “kalau dia bisa kenapa kamu nggak” banyak orang tua, motivator, teman atau lingkungan menggunakan kalimat ini dengan tujuan untuk memotivasi dan berbagai media sosial mengulanginya setiap hari dalam bentuk lain. Tentang teman yang berhasil mendapatkan pekerjaan impiannya, mereka yang sukses diusia yang masih muda, mereka yang terlihat aktif, […]

  • Jual Foredi Makassar

    7 Tempat Jual Foredi di Makassar yang Terpercaya dan Terjangkau

    • calendar_month Selasa, 11 Mar 2025
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 578
    • 0Komentar

    Foredi adalah salah satu produk herbal yang banyak dicari karena manfaatnya dalam mendukung vitalitas pria. Namun, dengan banyaknya penjual yang jual foredi di pasaran, Kamu harus berhati-hati dalam memilih tempat membeli. Membeli dari tempat terpercaya memastikan keaslian produk, keamanan penggunaan, dan harga yang sesuai. Jika Kamu berada di Makassar, ada beberapa tempat yang bisa Kamu […]

  • ciri-ciri bakteri clostridium botulinum

    Mengenal Bakteri Clostridium botulinum: Ancaman di Balik Kaleng Rusak dan Cara Ampuh Menginaktivasinya

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 96
    • 0Komentar

    Pernahkah Anda saat berkunjung ke swalayan melihat makanan kaleng yang penyok atau bahkan berkarat? Waspadalah karena kondisi tersebut bisa menjadi tanda bahwa produk telah mengalami penurunan mutu loh. Di balik kemasan yang rusak itu, tersembunyi ancaman besar dari salah satu bakteri paling mematikan di dunia, yaitu Clostridium botulinum. Bakteri ini bukan hanya sekadar kuman biasa […]

  • tips memanfaatkan barang bekas

    Inovatif! Mahasiswa KKN Memanfaatkan Barang Bekas menjadi Taman TOGA di Desa Wonorejo, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan

    • calendar_month Senin, 5 Jan 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 401
    • 0Komentar

    Sekelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Pekalongan menghadirkan inovasi kreatif di Dusun Wonokeri, Desa Wonorejo, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Sabtu dan Minggu tanggal 3 dan 4 Januari 2026. Melihat potensi lahan kosong dan isu sampah plastik, para mahasiswa ini menyulap barang-barang bekas menjadi Taman Tanaman Obat Keluarga (Toga) […]

  • Spiritual Care

    Di Balik Teknologi Modern Rumah Sakit: Pentingnya Empati dan Spiritual Care bagi Pasien Kronis

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 56
    • 0Komentar

    Perkembangan pelayanan kesehatan membawa banyak kemajuan mulai dari teknologi medis semakin canggih hingga sistem pelayanan yang lebih modern. Namun, di balik kemajuan tersebut, kedekatan emosional antara tenaga kesehatan dan pasien perlahan mulai memudar. Pelayanan kesehatan sering kali terlalu berfokus pada tindakan medis dan hasil klinis, padahal pasien tidak hanya datang dengan keluhan fisik, tetapi juga […]

  • Cara Efektif Pengobatan untuk Infeksi Saluran Kemih dengan Obat Medis dan Tradisional

    7 Cara Efektif Pengobatan untuk Infeksi Saluran Kemih dengan Obat Medis dan Tradisional

    • calendar_month Sabtu, 1 Feb 2025
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 557
    • 0Komentar

    Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan salah satu masalah kesehatan yang umum dialami oleh banyak orang, terutama wanita. Kamu mungkin pernah merasakan gejala seperti nyeri saat buang air kecil, sering buang air kecil, atau rasa tidak nyaman di daerah perut bagian bawah. Untungnya, ada berbagai pengobatan untuk infeksi saluran kemih dengan obat medis dan tradisional yang […]

expand_less