AJI Jakarta dan AJI Pontianak Bahas Dampak Rokok terhadap Kesehatan dan Ekonomi Lewat Film “Di Balik Ilusi Tembakau”
- account_circle TentangSehat.com
- calendar_month 0 menit yang lalu
- visibility 2
- comment 0 komentar

Dok. Narasumber bersama Ketua AJI Pontianak berfoto usai menerima sertifikat penghargaan setelah pemutaran film dan diskusi mengenai isu tembakau di Pontianak./Ist
Pontianak – Upaya meningkatkan pemahaman publik mengenai dampak konsumsi rokok dilakukan melalui pemutaran film dokumenter Di Balik Ilusi Tembakau yang diselenggarakan AJI Jakarta bersama AJI Pontianak di Pontianak, Kamis (4/6/2026).
Kegiatan tersebut dirangkai dengan diskusi yang menghadirkan berbagai narasumber dari kalangan pemerintah, akademisi, pegiat pengendalian tembakau, hingga insan pers.
Ketua AJI Pontianak, Rivaldi Ade Musliadi, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan membuka ruang dialog yang sehat dan berbasis data mengenai isu tembakau yang memiliki banyak dimensi.
“Kegiatan hari ini tidak dimaksudkan untuk mengarahkan peserta pada satu pandangan tertentu. Justru kami ingin menghadirkan ruang diskusi yang terbuka, kritis, dan berbasis fakta,” ujar Rivaldi.
Menurutnya, forum seperti ini diharapkan dapat memperkaya perspektif jurnalis maupun pemangku kepentingan dalam melihat persoalan tembakau di Kalimantan Barat.
Ia berharap forum tersebut dapat memunculkan gagasan baru yang bermanfaat bagi jurnalis maupun para pemangku kepentingan dalam menyikapi persoalan tembakau di Kalimantan Barat (Kalbar).
Dari sisi kesehatan masyarakat, Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Saptiko, menyoroti tingginya pengeluaran rumah tangga untuk membeli rokok. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi memperberat beban ekonomi keluarga, terutama kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.
Ia menyebut konsumsi rokok dapat menghabiskan hingga Rp900 ribu per bulan dari pendapatan keluarga miskin.
Selain itu, Saptiko juga menilai kontribusi pajak rokok terhadap pembangunan daerah tidak sebesar yang sering dipersepsikan masyarakat.
“Pajak rokok itu hanya Rp20 miliar saja, kecil. Jadi sumbangan untuk pembangunan juga tidak terlalu ikut (signifikan),” ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, ia menjelaskan bahwa Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2025 tentang Kawasan Tanpa Rokok lebih berfokus pada perlindungan masyarakat dari paparan asap rokok dibandingkan pelarangan aktivitas merokok.
“Perda ini bukan untuk melarang orang merokok, tetapi mengatur agar asap rokok hanya untuk yang merokok. Jadi yang tidak merokok tidak ikut menghisap asapnya,” jelas Saptiko.
Isu regulasi juga menjadi perhatian Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, Antonius Decky. Ia menegaskan pentingnya dukungan kebijakan daerah sebagai dasar pelaksanaan edukasi kesehatan kepada masyarakat.
“Kita mendorong teman-teman di dinas kesehatan kabupaten/kota agar peraturan ini bisa lagi lebih giat dalam mengedukasi masyarakat mengenai bahaya merokok, tentunya harus ada kekuatan hukum terutama melalui Perda,” ujar dokter Antonius Decky.
Sementara itu, penulis naskah film Di Balik Ilusi Tembakau, Ambar Arum, mengangkat persoalan strategi pemasaran industri rokok yang dinilai semakin dekat dengan generasi muda. Menurutnya, keberadaan produk dengan berbagai varian rasa berpotensi menarik perhatian anak-anak dan remaja.
“Rokok dengan semua isu ini diwujudkan dalam manusia tuh bahasanya kalau anak muda zaman sekarang ‘red flag banget’,” tegas Ambar.
Ia menilai tampilan kemasan dan cita rasa tertentu membuat rokok berisiko dipandang sebagai produk yang normal oleh anak-anak.
“Menganggap itu barang yang normal, rokok mungkin dianggapnya jadinya sama dengan permen,” tambahnya.
Pandangan lain disampaikan Tubagus Haryo Karbiyanto dari Komite Nasional Pengendalian Tembakau. Ia menilai berbagai dampak negatif rokok selama ini sering kali dianggap sebagai sesuatu yang wajar sehingga diperlukan upaya untuk mengubah persepsi tersebut.
“Ilusi tembakau itu bekerja saat dampak kesehatan, beban ekonomi, dan manipulasi industri tampak seperti hal biasa. Yang dilakukan saat ini adalah sedang melakukan denormalisasi terhadap hal yang dianggap biasa tadi,” kata Tubagus.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga independensi kebijakan publik agar tidak dipengaruhi oleh kepentingan industri tembakau.
Dari perspektif ekonomi, akademisi Universitas Tanjungpura, Erni Panca Kurniasih, menilai pembahasan mengenai industri tembakau perlu memperhitungkan biaya sosial dan biaya kesehatan yang muncul akibat konsumsi rokok.
“Faktanya menunjukkan bahwa ternyata biaya sosial dan biaya kesehatan yang dikeluarkan melebihi dari keuntungan itu, maka pemerintah boleh mempertimbangkan diversifikasi dari industri olahan tembakau,” paparnya.
Menurutnya, pengembangan produk turunan tembakau di sektor kesehatan maupun kecantikan dapat menjadi salah satu alternatif yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Kegiatan tersebut juga meninggalkan kesan bagi peserta yang hadir. Salah satunya Jimmy, yang saat ini sedang berupaya menghentikan kebiasaan merokok. Ia mengaku film yang ditonton semakin memperkuat motivasinya untuk tetap konsisten.
“Setelah nonton film ini, memang semakin memantapkan diri saya untuk terus melanjutkan berhenti merokok. Yang awalnya motivasi saya hanya faktor ekonomi dan kesehatan, ternyata setelah nonton film ini ada banyak faktor lain yang semakin memantapkan saya,” pungkas Jimmy.
Melalui kegiatan pemutaran film dan diskusi publik ini, AJI Jakarta dan AJI Pontianak berharap edukasi mengenai dampak konsumsi rokok dapat menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat.
Pendekatan melalui film dokumenter dan ruang dialog terbuka diharapkan mampu memperkuat kesadaran publik dalam menjaga kesehatan serta melindungi generasi muda dari dampak konsumsi tembakau.
(*Red/DA berkontribusi dalam tulisan ini)
- Penulis: TentangSehat.com

Saat ini belum ada komentar