Ketika Iman Tidak Menghapus Penderitaan: Memahami Religiusitas dan Kesehatan Mental
- account_circle tentangsehatcom
- calendar_month Rab, 6 Mei 2026
- visibility 62
- comment 0 komentar

Gambar: Dok. Penulis
Sebuah laporan dari Pusat Penelitian Pew Research Center menunjukkan bahwa mayoritas orang Indonesia menganggap agama sangat penting dalam hidup mereka, dan Indonesia termasuk dalam kelompok negara yang sangat religius di seluruh dunia.
Lebih dari 90% orang Indonesia yang menjawab menyatakan bahwa agama sangat penting dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Dan jika dibandingkan dengan negara lain tingkat religiusitas ini tergolong sangat tinggi, karna dalam sebuah survei international menunjukan bahwa hanya sekitar 55% populasi dunia menyatakan diri sebagai orang yang religius.
Namun, sebuah penelitian World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa secara global satu dari delapan orang mengalami masalah dengan kesehatan mental.
Di Indonesia sendiri sekitar 14-15% orang dewasa mengalami gejala kecemasan dan depresi, dengan kebanyakan kasus orang yang tidak terdeteksi atau tidak mendapatkan perawatan yang seharusnya.
Dilansir dari data Pusdiknas Bareskrim Polri sebanyak 1.270 kasus bunuh diri ditangani Polri mulai dari bulan Januari hingga November 2025, dengan rata-rata lebih dari 100 kasus bunuh diri terjadi.
Selain itu, dari data kementrian Republik Indonesia menunjukan bahwa sekitar 1 dari 10 orang dewasa mengalami gangguan mental emosional.
Fenomena ini menunjukan bahwa meskipun tingkat religiusitas dimasyarakat tinggi, hal ini tidak serta merta membuat individu terbebas dari berbagai permasalahan kesehatan mental.
Dalam kehidupan sehari-hari, iman sering dianggap sebagai kekuatan utama dalam menghadapi berbagai masalah hidup di masyarakat yang religius.
Banyak orang yang percaya bahwa berdoa, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan melakukan aktivitas keagamaan secara teratur dapat membuat kehidupan mereka lebih tenang dan mengurangi penderitaan.
Meskipun religiusitas memiliki peran penting dalam membantu menghadapi permasalahan dalam hidup, akan tetapi hal tersebut tidak selalu mampu atau bisa menghilangkan berbagai penderitaan psikologis yang dialami seseorang.
Untuk dapat memahami fenomena ini, penting untuk memahami bagaimana religiusitas mempengaruhi kehidupan seseorang, terutama ketika menghadapi berbagi kesulitan.
Religiusitas muncul dalam kehidupan sehari-hari seseorang tidak hanya melalui ibadah atau doa, tetapi juga melalui pemahaman mereka tentang apa yang mereka alami.
Banyak orang menggunakan iman sebagai tempat untuk menenangkan diri dan mencari makna dalam menghadapi kesulitan.
Namun, pengalaman ini tidak selalu mudah karena religiusitas sering kali memiliki peran yang lebih kompleks daripada hanya memberikan rasa tenang.
Religiusitas sebagai Cara Menghadapi Masalah Kesehatan Mental
Sebelumnya perlu dipahami terlebih dahulu apa itu pengertian dari agama yang sebenarnya, kata agama berasal dari kata Religio dalam bahasa latin yang berarti “dinding fondasi” di mana seseorang “terikat” untuk kelangsungan hidupnya, artinya adanya suatu ikatan antara manusia dengan suatu kuasa yang lebih besar dari pada kuasa manusia (Sims,1994).
Pemahaman ini menunjukkan bahwa agama tidak hanya terkait dengan kepercayaan tertentu, tetapi juga dengan bagaimana agama memberikan jalan dan makna bagi hidup manusia.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa religiusitas dianggap sebagai cara nyata bagi seseorang dalam menghayati dan menerapkan ikatan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks ini, religiusitas tidak hanya sebagai keyakinan, akan tetapi juga berperan membantu menghadapi permasalahan dan tekanan hidup, melalui serangkaian kegiatan keagamaan seperti berdoa, beribadah maupun aktivitas spiritual lainnya, seseorang berusaha untuk memperoleh ketenangan dan mengurangi beban emosional yang tengah dirasakan.
Hal ini dalam psikologi sering disebut religious coping, yaitu suatu cara individu menggunakan keyakinannya untuk menghadapi permasalahan hidup.
Kenneth I. Pargament menjelaskan bahwa religiusitas dapat membantu memberikan harapan serta memberikan rasa aman dalam berbagai situasi yang sulit.
Dalam kehidupan sehari-hari yang dipenuhi dengan banyaknya aktivitas, tekanan sosial dan beban kerja yang mungkin menguras emosi, mendekatkan diri kepada Tuhan dapat menimbulkan rasa damai dan menenangkan meskipun tidak serta merta menghilangkan beban yang ada.
Selain itu Craig W. Ellison dan James Smith (1991) mengatakan bahwa keterlibatan dalam kehidupan religius dapat membantu orang menemukan makna dalam hidup mereka, meningkatkan pengharapan mereka, dan memberikan dukungan sosial melalui sebuah komunitas keagamaan.
Religiusitas juga dapat menjadi kekuatan yang membantu kesejahteraan mental karena nilai-nilai agama membantu seorang mengontrol perilaku dan mengelola emosi mereka.
Sehingga religiusitas tidak hanya digunakan sebagai praktik spiritual, tetapi juga dapat membantu kesehatan mental seseorang.
Mengapa Religiusitas Tidak Selalu Menghilangkan Penderitaan?
Walaupun religiusitas sering digunakan sebagai cara untuk membuat seseorang merasa lebih baik, namun penting juga dipahami bahwa peran religiusitas tidak selalu menghasilkan dampak yang sama pada setiap orang.
Kenyataannya sering kali seseorang yang sudah berdoa, beribadah, dan berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan tetap mengalami kecemasan, kesedihan, stress maupun tekanan emosional.
Pengalaman-pengalaman ini tentunya menimbulkan pertanyaan dalam diri, jika sudah beriman, mengapa penderitaan tetap ada?
Selain itu, dalam masyarakat yang religius, iman sering dianggap sebagai jalan keluar dalam menghadapi masalah, seolah-olah jika seseorang telah berdoa, berserah semua beban akan hilang.
Akibatnya ketika seseorang tetap mengalami kecemasan maupun penderitaan, kemudian timbul perasaan gagal dan menganggap diri mereka kurang beriman atau bahkan mulai meragukan diri sendiri.
Kondisi yang seperti ini dapat menimbulkan permasalahan yang baru karena selain masalah yang sedang dihadapi tetapi juga konflik batin yang muncul dalam diri sendiri.
Hubungan antara religiusitas dan kesehatan mental, antara keduanya tidak selalu linear atau sederhana.
Menurut beberapa penelitian, religiusitas dapat dikaitkan dengan stres psikologis pada situasi tertentu.
Misalnya, penelitian yang dilakukan oleh Leurent et al. (2013) menemukan bahwa tingkat religiusitas yang tinggi dapat dikaitkan dengan tingkat kecemasan atau depresi yang lebih tinggi dalam situasi tertentu.
Temuan ini tidak segera menunjukkan bahwa religiusitas menyebabkan gangguan mental.
Sebaliknya, mereka menunjukkan bahwa ada dinamika psikologis yang lebih kompleks dalam pengalaman beragama seseorang.
Komplikasi tersebut dipahami sebagai spiritual struggle yakni sebuah pergulatan batin seseorang dalam kehidupan beragama.
Julie Exline seorang psikolog yang meneliti tentang hubungan religiusitas dengan kesehatan mental,mengungkapkan bahwa dalam situasi tertentu hubungan seseorang dengan Tuhan dapat diwarnai oleh berbagai perasan entah itu marah, kecewa atau bahkan kebingungan, Ia menyatakan bahwa “spiritual struggles can be sources of distress” (Exline, 2013).
Hal ini menunjukan bahwa religius tidak selalu dapat menjadi sumber ketenangan namun juga dapat menjadi sumber tekanan emosional ketika seseorang tidak dapat mengolah konflik batin tersebut.
Kenneth I. Pargamen seorang psikolog yang banyak meneliti tentang hubungan religiusitas dengan kesehatan mental menyatakan bahwa “religion can be a source of both comfort and strain” (Pargament et al., 1998), yang berarti bawa religiusitas dapat menjadi sumber ketenangan sekaligus sebagai sumber tekanan.
Pargamen menjelaskan dalam kajian psikologi bahwa religiusitas dapat menjadi cara untuk mengatasi stres, akan tetapi mungkin bekerja dengan cara yang berbeda pada setiap orang.
Dia membedakan antara religiusitas yang adaptif dan tidak adaptif dalam menghadapi tekanan hidup, tergantung dari setiap orang bagaimana memaknai pengalaman religiusitasnya.
Religiusitas yang adaptif adalah ketika keyakinan agama membantu seseorang merasa lebih tenang, memiliki harapan, dan mampu menerima situasi yang sulit.
Misalnya, seseorang yang memiliki masalah kegagalan dalam hubungan, kemudian berdoa dan merasa dikuatkan, ia yang tadinya merasa tidak berharga, sedih, kemudian berdoa sehingga membantunya berpikir lebih jernih, bersyukur, belajar menerima keadaan dan dapat melakukan aktivitasnya seperti semula.
Dengan demikian, religiusitas dapat membantu seseorang sebagai sumber kekuatan untuk bertahan di tengah keputusasaan dan kesedihan.
Namun, sebaliknya religiusitas yang tidak adaptif muncul ketika keyakinan menambah beban psikologisnya.
Misalnya, seseorang sedang mengalami musibah bisnisnya gagal atau mengalami kecelakaan, lalu menganggap semua peristiwa tersebut adalah sebuah peringatan dari Tuhan atau sebuah hukuman dari Tuhan karena mungkin ada perilaku yang tidak sesuai dengan yang Tuhan inginkan.
Ia kemudian merasa dirinya tidak cukup baik, mulai menyalahkan dirinya sendiri,merasa tidak pantas dan merasa Tuhan tidak mau mendengar doanya.
Perasaan-perasaan ini yang pada akhirnya menimbulkan perasaan cemas, tertekan, dan merasa sendirian.
Sehingga religiusitas tidak lagi menjadi sumber ketenangan namun menjadi sumber tekanan tambahan dari peristiwa yang dialami.
Dengan demikian, jelas bahwa religiusitas tidak selalu menyembuhkan penderitaan.
Ini karena beberapa hal, seperti cara seseorang memaknai ajaran agama mereka, apa yang mereka anggap sebagai peran iman mereka, dan kemampuan untuk mengendalikan konflik dan perasaan batin.
Dengan kata lain, bukan hanya tingkat religiusitas yang menentukan, tetapi juga bagaimana religiusitas dihayati dalam kehidupan sehari-hari.
Iman sebagai Pendamping, bukan Penghapus
Kesehatan mental merupakan satu kesatuan dari bagian kesehatan itu sendiri.
Dalam undang-undang World Health Organization kesehatan didefinisikan sebagai “suatu keadaan baik yang utuh secara fisik, mental dan sosial dan bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari penyakit atau kelemahan.”
Dalam artian bahwa manusia itu sehat dilihat secara keseluruhan, yaitu roh, tubuh, dan jiwa.
Dengan demikian ini menunjukan bahwa kesehatan mental memiliki peran yang sama pentingnya dalam kehidupan manusia karena kesehatan mental berkaitan erat dengan cara seseorang berpikir, mengambil keputusan, merasakan, dan menghadapi situasi yang berbeda-berbeda yang mereka hadapi sepanjang hidupnya.
Oleh karena itu, kesehatan mental tidak hanya tentang apakah ada masalah atau tidak, melainkan juga tentang cara seseorang mengelola pikiran dan emosinya saat menghadapi tekanan hidup.
Seseorang sering menggunakan religiusitas sebagai salah satu cara untuk mencari ketenangan dan kekuatan dalam situasi yang sedang dihadapi.
Namun, ternyata religiusitas tidak selalu secara otomatis menghilangkan penderitaan.
Ada faktor lain yang mempengaruhinya yaitu bagaimana seseorang memahami dan memaknai keyakinannya tersebut menjadi sangat menentukan apakah religiusitas menjadi adaptif atau tidak adaptif.
Selain itu, Aaron T. Beck seorang tokoh dalam psikologi pelopor teori kognitif, mengatakan bahwa pola pikir seseorang sangat memengaruhi perasaan mereka.
Sering kali pikiran negatif muncul secara tiba-tiba ketika menghadapi masalah, misalnya berbagai perasaan menghakimi diri sendiri yang merasa tidak cukup baik atau perasaan yang terus menyalahkan diri sendiri.
Pola pikir seperti ini, sebenarnya dapat dilatih untuk berubah.
Seseorang dapat mulai melihat keadaan dengan cara pandang yang berbeda, misalnya mengubah pola pikir “saya gagal karena saya tidak cukup baik” menjadi “saya memang sedang mengalami kesulitan, tetapi masih memiliki kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri”.
Perubahan cara berpikir yang sederhana ini dapat membantu mengurangi tekanan emosional dan membuat seseorang lebih siap untuk menghadapi situasi yang sulit.
Bagaimana cara seseorang berpikir tentang keadaannya sangat memengaruhi hubungannya dengan Tuhan.
Iman memang tidak selalu muncul sebagai solusi untuk semua masalah yang sedang dihadapi, atau sebagai cara untuk keluar dari kesulitan.
Namun, iman seringkali muncul di tengah kesulitan, ketika seseorang harus menghadapi ketakutan, kekecewaan, dan ketidakpastian.
Di situlah iman dibutuhkan bukan berarti ketika memiliki iman menjadi merasa kuat akan tetapi dengan iman itu berarti dapat percaya dan bertahan meskipun mungkin keadaan tidak lebih baik.
Ini sejalan dengan perspektif Viktor Frankl, seorang yang psikiater yang dikenal dengan pencarian makna hidup, yang menjelaskan bahwa meskipun penderitaan mungkin tidak selalu dapat dihindari, manusia selalu memiliki pilihan untuk menyikapinya.
Tidak semua hal dapat dikendalikan selama perjalanan hidup, tetapi setiap pengalaman, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan, dapat menjadi bagian dari proses pembentukan diri.
Dari sudut pandang religius, proses ini dapat dipahami sebagai bagian dari perjalanan iman, di mana seseorang terus belajar, berkembang, dan semakin mengenal dirinya di hadapan Tuhan.
Iman merupakan sebuah proses yang terus berkembang, sering kali berbagai pengalaman hidup yang mungkin tidak mengenakan membuat seseorang belajar untuk lebih sabar, belajar tentang memahami dan belajar tentang keterbatasannya sendiri sebagai manusia.
Penderitaan tidak selalu berarti sebuah kegagalan namun sebaliknya, itu dapat berfungsi sebagai ruang pembelajaran yang membawa seseorang ke kedewasaan emosional dan spiritual.
Selama proses ini, manusia tidak hanya bertahan, tetapi juga menjadi individu yang lebih kuat, lebih bijak, dan lebih dekat dengan makna hidup.
Pada akhirnya, religiusitas dan kesehatan mental tidak selalu sederhana.
Iman tidak hadir untuk menghapus semua penderitaan namun sebaliknya, iman hadir untuk menemani manusia dalam menjalaninya.
Karena itu, bukan hanya seberapa kuat seseorang beriman, tetapi juga bagaimana ia memahami dan menghidupi imannya dalam kehidupan sehari-hari.
- Penulis: tentangsehatcom


Saat ini belum ada komentar