Kalau Dia Bisa, Kenapa Kamu Nggak: Menemukan Rasa Berharga di Tengah Dunia yang Menuntut Keseragaman
- account_circle tentangsehatcom
- calendar_month Sab, 16 Mei 2026
- visibility 36
- comment 0 komentar

Banyak dari kita seringkali mendengar kalimat ini “kalau dia bisa kenapa kamu nggak” banyak orang tua, motivator, teman atau lingkungan menggunakan kalimat ini dengan tujuan untuk memotivasi dan berbagai media sosial mengulanginya setiap hari dalam bentuk lain. Tentang teman yang berhasil mendapatkan pekerjaan impiannya, mereka yang sukses diusia yang masih muda, mereka yang terlihat aktif, bahagia dan ketika media sosial memperlihatakan kehidupan banyak orang tampak sempurna. Tanpa sadar kita mulai membandingkan perjalanan hidup diri sendiri dengan orang lain. Melihat pencapaian mereka kemudian jadi bertanya kepada diri sendiri, “kok hidupku segini-segini aja”.
Kalimat “kalau dia bisa kenapa kamu nggak” mungkin terdengar biasa dan bagi beberapa orang menjadi pemicu untuk dirinya bisa berhasil, namun bagi sebagian orang kalimat itu bisa berubah menjadi sebuah tekanan dan merasa dirinya tertinggal karna dengan umur yang sama namun belum memenuhi standar keberhasilan yang sama, hidup seakan-akan memiliki standar waktu yang sama untuk semua orang, hidup seperti semua perlombaan siapa yang sukses duluan, siapa yang menikah duluan, siapa yang memiliki anak lebih dulu, seolah-olah daftar pencapaian harus dicentang satu demi satu agar seseorang dianggap sukses oleh masyarakat.
Seringkali kita dituntut untuk menjadi sama seperti orang lain sehingga merasa bahwa mengikuti jejak orang lain yang sukses dan hebat dimata masyarakat adalah suatu keharusan dan baru dianggap menjadi orang atau orang yang sukses ketika mencapai standar mereka. Setelah itu kita jadi terbiasa membandingkan diri dengan orang lain, sibuk mengikuti bagaimana cara orang lain hidup, kemudian seperti kalimat-kalimat yang sering kita dengar “kalau dia bisa kenapa aku tidak”.
Jika sudah seperti itu, ketika mengalami kegagalan ditengah jalan karena tidak bisa sama dengan orang-orang yang disebut sukses oleh masyarakat itu atau tidak memenuhi standar-standar tertentu, maka akibatnya perasaan gagal dan malu yang timbul dalam hati dan semakin sering membandingkan diri dengan oranng lain maka semakin merasa dirinya tidak cukup baik. Bahkan ada sebuah kutipan yang sering dipakai dalam diskusi kesehatan mental, oleh Theodore Rooseval mengatakan “ Comparison is the thief of joy” atau dalam artian perbandingan adalah pencuri kebahagian. Artinya ketika kita sibuk membandingkan diri kita dengan orang lain, secara sukarela membiarkan kebahagian kita dirampas oleh standar orang lain.
Perbandingan adalah Pencuri Kebahagian
Pernyatan bahwa perbandingan adalah pencuri kebahagian bukan sekedar pernyatakan biasa, melainkan sebuah fakta yang terjadi, terutama diera media sosial sekarang ini, dimana kehidupan dan kesuksesan orang lain dapat dilihat hanya melalui layar ponsel. Sehingga media sosial menjadi tempat bagi banyak orang untuk mengukur dirinya berdasarkan kehidupan orang lain.
Dalam jurnal Psycholog of Popular Media Kulture, sebuah study yang berskala besar mengemukakan bahwa intensitas membandingkan diri keatas (upware sosial comparison) berkorelasi langsung dengan penurunan tingkat harga diri (self esteem) seseorang. Sehingga semakin sering membandingan diri dengan orang lain, semakin diri merasa kerdil. Begitupun sebuah penelitian oleh Hidayati, N. & Savira, S. I. (2022), menemukan bahwa intensitas penggunaan Instagram berkaitan dengan penurunan self-esteem melalui upward social comparison, kecenderungan membandingkan diri dengan orang yang dianggap lebih sukses menyebabkan seseorang mudah merasa tidak cukup, tertinggal bahkan gagal terhadap dirinya sendiri.
Dampak dari membandingkan ini tidak hanya berhenti pada penurunan rasa percaya diri. Sebuah data riset psikologi sosial juga menunjukan adalanya sebuah hubungan yang linier antara kebiasaan membandingkan diri dengan peningkatan gejala kecemasan (anxiety) serta depresi. Sebuah tekanan untuk menjadi sama suksesnya dengan orang lain memaksa pikiran terjebak dalam fase rumination yaitu sebuah kondisi dimana pikiran-pikiran negatif terus berputar dikepala, sehingga menimbulkan kecemasan. Bukan karena tidak melakukan sesuatu akan tetapi karena diri merasa tertinggal jauh oleh orang lain.
Sebuah studi meta analisis monumental oleh Curran dan Hill menunjukan bahwa anak muda zaman sekarang menghadapi tuntutan eksternal yang jauh lebih berat untuk menampilkan diri secara sempurna dan seragam dimata masyarakat dibandingkan dengan generasi terdahulu.
Didalam ilmu Psikologi “ pencurian kebahagian” ini juga dijelaskan melalui Teori Perbandingan Sosial (Social Comparison Theory) yang dicetuskan oleh Leon Festinger. Dia menjelakan bahwa semua manusia pada dasarnya memiliki dorongan yang sama untuk menilai kemampuan diri mereka dengan cara membandingan dengan orang lain. Namun dalam era digital, keseragaman untuk sama sukses, membuat perbandingan keatas (upward social comparison) secara ekstrem. Sehingga seringkai seseorang membandingkan proses internal hidup yang masih berjuang dengan hasil orang lain yang tampak hebat dimedia sosial tanpa melihat semua prosesnya.
Dampak dari semua ini sangat berbahaya. Seorang psikolog Carl Rogers menyebut ini sebagai keberhagaan diri yang bersyarat (conditional self worth), sebuah keadaan dimana seseorang merasa berharga jika mampu menyamai pencapaian orang lain. Sehingga seseorang akan merasa bernilai jika sudah memenuhi standar sukses oleh lingkungan masyarakat.
Jika kita melihat pertumbuhan pohon jati dan bunga mawar tentu sangat berbeda, bunga mawar bisa tumbuh dan berbunga hanya dengan hitungan bulan, namun pohon jati tidak, pohon jati membutuhkan waktu yang lebih lama diperlukan bertahun-tahun untuk dapat tumbuh, memperkuat akarnya samapai akhirnya dapat tumbuh menjulang tinggi. Keduanya berharga namun tumbuh dalam perbedaan. Dalam psikologi perbedaan individual (Individual differences) mengatakan bahwa secara biologis, latar belakang dan lingkungan tidak adadua manusia yang memiliki garis start yang benar-benar sama didunia ini. Sehingga menuntut semua orang dapat sukses dalam waktu yang sama adalah sebuah kekeliruan.
Kemudian bagaimana selanjutnya agar dapat memutus lingkaran perbandingan ini, dan menjaga kesehatan mental serta dapat kembali menemukan rasa berharga ditengah dunia yang menuntuk keseragaman.
Menemukan Rasa Berharga di Tengah Dunia yang Menuntut Keseragaman
Untuk menemukan kembali rasa berharga ditengah dunia yang menuntut keseragaman kita harus berani mengambil alih hidup kita dari standar-standar tersebut. Kita perlu berhenti membandingan hidup dengan orang lain, setiap orang memiliki prosesnya masing-masing begitupun kita. Pemikiran-pemikiran beberapa tokoh-tokoh terkenal dalam psikologi dapat menolong kita bagaimana menghargai proses diri sendiri:
1. Mengaktifkan Self Compassion
Dr.Kristin Neff menyatakan bahwa ketika ada suara-sura dalam kepala, dan mulai menghujat membandingkan diri sendiri dengan orang lain, ia menyarakan untuk mempraktikkan self compassion atau welas asih pada diri sendiri. Artinya kita mampu menerima diri kita sendiri dengan memperlakukannya lebih lembut, misalnya ketika pikiran kita berbicara kamu tidak cukup baik,kamu harusnya bisa lebih berhasil, daripada menyalahkan diri sendiri kitab isa mulai mengatakan bahwa oh tidak apa-apa aku sedang bertumbuh, aku sedang belajar. Dalam penelitian menunjukan bahwa self compassion dapat membantu menurunkan tikat kecemasan dan menerima dirinya sendiri.
2. Menyadari Bahwa Tidak Semua Pemikiran adalah Benar
Ketika pemikiranmu memikirkan bahwa aku gagal, pasti salah, pasti nggak berhasil, padahal semua pemikiran itu belum tentu benar. Sehingga seorang tokoh terapi kognitif Albert Ellis mengungkapkan bahwa yang sering membuat seseorang menderita bukan hanya situasinya, akan tetapi cara pikirnya terhadap situasi tersebut. Albert Ellis mengingatkan kita bahwa yang membuat kita menderita sebenarnya bukan kalimat perbandingan orang lian, namun bagaimana cara pikiran kita meresponnya. Kita sering berfikir bahwa kita harus sukses diusia tertentu padahal hukum alam tidak mengaharuskan semua orang sukses dalam waktu yang sama. Dengan mengurangi pemikiran yang irasional dan mulai berfikir lebih rasional, seseorang dapat mengurangi tekanan standar sosial yang selama ini dibentuk.
3. Fokus Bertumbuh, Bukan Berlomba
Seorang Profesor Carol Dweck memperkenlkan sebuah konsep growth mindset, yakni sebuah cara pandang baru yang mengajak kita untuk mengalihkan focus dari Performance Goals (yang berfokus pada hasil untuk pembuktian diri) menjadi Growth Goals (focus pada pertumbuhan diri sendiri). Pertumbuhan yang baik bukan tentang menjadi hebat dimata orang lain melaikan menjadi versi yang lebih baik dibandingakn hari kemarin. Perubahan pola pikir yang benar dapat menyehatkan kesehatan mental.
Jika kamu hari ini belum sama seperti dia bukan berarti kamu gagal melangkah, kamu hanya sedang menulis ceritamu sendiri dengan tinta yang berbeda. Hidup bukan perlombaan yang lari untuk merebutkan tropi, melainkan sebuah perjalanan yang melampaui hari kemarin.
- Penulis: tentangsehatcom


Saat ini belum ada komentar