Breaking News
light_mode
Trending
Beranda » Artikel » “Kamu Cuma Malas!”: Stigma yang Menyakitkan di Balik ADHD Dewasa

“Kamu Cuma Malas!”: Stigma yang Menyakitkan di Balik ADHD Dewasa

  • account_circle TentangSehat.com
  • calendar_month Jum, 5 Des 2025
  • visibility 414
  • comment 0 komentar

Kamu tahu ada yang berbeda sejak kecil. Guru bilang kamu “perlu belajar fokus”. Orang tua bilang kamu “punya energi melimpah”. Bos bilang kamu “perlu lebih terorganisir”. Teman bilang kamu “pelupa”. Pasangan bilang kamu “sering teralihkan”.

Dan kamu bertanya-tanya. Kenapa hal-hal yang terlihat mudah bagi orang lain terasa begitu menantang? Kenapa kamu sudah berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya tidak sesuai ekspektasi? Kenapa pikiran kamu selalu bergerak terlalu cepat, atau justru terlalu sulit untuk mulai bergerak?.

Tapi bagaimana jika bukan kamu yang perlu diperbaiki? Bagaimana jika otak kamu hanya bekerja dengan cara yang berbeda, cara yang disebut ADHD? Dan bagaimana jika yang dibutuhkan bukanlah mengubah diri kamu, melainkan memahami bagaimana cara otakmu bekerja?

Banyak yang menganggap ADHD hanya gangguan anak-anak yang akan hilang seiring bertambahnya usia. Padahal penelitian yang menganalisis data dari lebih 21 juta orang dan menemukan prevalensi ADHD dewasa secara global mencapai 3,1%.

Masalahnya? Banyak orang melihat gejala ADHD bukan sebagai kondisi gangguan perkembangan saraf sungguhan, melainkan sebagai tanda kemalasan, kurang disiplin, atau hasil dari pola asuh yang buruk. Akibatnya, mereka ragu mencari bantuan karena takut dihakimi. Tanpa diagnosis yang tepat, mereka terus berjuang dalam kesendirian bertahun-tahun merasa ada yang salah”dengan diri mereka sendiri.

 

Apa Sebenarnya ADHD Itu?

ADHD adalah gangguan perkembangan saraf yang mempengaruhi fokus, impulsivitas, dan tingkat aktivitas. Ini bukan hasil pola asuh buruk, bukan karena kurang berusaha, dan bukan kesengajaan. Ini adalah cara otak bekerja yang berbeda.

Baca juga: Bukan Sulit Diatur: Memahami ADHD pada Anak Tanpa Menghakimi

Menurut DSM-5, untuk didiagnosis ADHD, seseorang dewasa harus memiliki minimal 5 gejala yang konsisten, sudah muncul sejak sebelum usia 12 tahun, terjadi di minimal 2 setting berbeda (rumah, kantor, sosial), dan mengganggu fungsi sehari-hari secara signifikan.

ADHD terbagi menjadi 3 tipe utama yakni:

  1. Inattentive (kesulitan perhatian)
  2. Hyperactivity-Impulsivity (Hiperaktif-impulsif).
  3. Combined (kombinasi). Memiliki gejala dari kedua tipe di atas sulit fokus sekaligus hiperaktif dan impulsif. Ini merupakan tipe yang paling umum ditemui.

 

Apa yang Menyebabkan ADHD?

ADHD tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan berkembang akibat kombinasi beberapa hal, antara lain faktor genetik yang cenderung muncul dalam keluarga, perbedaan perkembangan sistem saraf pada area otak yang mengatur perhatian, kontrol impuls, dan aktivitas motorik, faktor prenatal dan perinatal tertentu seperti paparan zat berbahaya selama kehamilan atau kelahiran prematur, serta faktor lingkungan, misalnya paparan stres berat di masa perkembangan awal.

 

Gejala yang Sering Terlewatkan

Gejala ADHD pada orang dewasa sering berbeda dari yang terlihat pada anak-anak. Hiperaktivitas fisik yang mencolok pada anak cenderung berevolusi menjadi kegelisahan internal pada orang dewasa. Berikut gejala spesifik yang perlu diwaspadai.

1. Kesulitan Fokus (Inattentive)

Butuh minimal 5 dari 9 gejala:

  1. Sering membuat kesalahan ceroboh dalam pekerjaan karena kurang memperhatikan detail
  2. Mengalami kesulitan mempertahankan perhatian pada tugas atau aktivitas yang membutuhkan konsentrasi berkelanjutan
  3. Tampak tidak mendengarkan ketika diajak bicara secara langsung
  4. Sering memulai proyek atau tugas tetapi jarang menyelesaikannya
  5. Mengalami kesulitan signifikan dalam mengorganisasi tugas, mengelola waktu, atau menjaga kerapian
  6. Menghindari atau menunda tugas yang memerlukan usaha mental berkelanjutan
  7. Sering kehilangan barang-barang penting seperti kunci, dompet, ponsel, atau dokumen
  8. Mudah teralihkan oleh stimulus eksternal atau pikiran yang tidak relevan
  9. Pelupa dalam aktivitas sehari-hari seperti lupa membayar tagihan, membalas pesan, atau menghadiri janji

2. Hiperaktivitas-Impulsivitas

Butuh minimal 5 dari 9 gejala:

  1. Gelisah motorik seperti mengetuk-ngetuk tangan atau kaki, atau menggeliat di kursi
  2. Kesulitan tetap duduk diam dalam situasi yang mengharuskannya, seperti rapat atau presentasi
  3. Mengalami kegelisahan internal atau merasa “didorong oleh motor”
  4. Kesulitan melakukan aktivitas santai dengan tenang
  5. Merasa harus terus bergerak atau melakukan sesuatu
  6. Berbicara secara berlebihan dan sulit mengendalikan volume atau durasi
  7. Menjawab pertanyaan sebelum pertanyaan selesai diajukan
  8. Kesulitan menunggu giliran dalam antrian atau situasi lain
  9. Menginterupsi atau memotong percakapan orang lain tanpa disadari

 

ADHD Bisa dikelola!

ADHD dapat distabilkan dengan melakukan berbagai cara berikut ini:

1. Konsumsi Obat

Mengonsumsi Obat-obatan dengan resep dokter/psikiater.

2. Terapi

Terapi merupakan hasil terbaik dicapai dengan pendekatan multimodal yang mengkombinasikan obat-obatan dan intervensi psikososial seperti CBT (Cognitive Behavorial Theraphy).

3. Dukungan

Berikan dukungan. Dukungan dari lingkungan memainkan peran penting dalam perjalanan pemulihan individu dengan ADHD dapat dilakukan dengan beberapa hal ini:

  • Dengarkan tanpa menghakimi
  • Pahami bahwa gejala ADHD bukan pilihan atau tanda kemalasan
  • Validasi perjuangan dan apa yang mereka rasakan
  • Berikan instruksi secara tertulis, bukan hanya lisan karena individu dengan ADHD akan mudah terdistraksi
  • Ingatkan secara lembut tentang janji atau tenggat waktu tanpa terdengar mengkritik

 

Saatnya Mengubah Narasi

ADHD bukan soal kekurangan, tapi perbedaan neurologis yang membawa tantangan sekaligus potensi unik. Banyak individu dengan ADHD memiliki kreativitas tinggi dan kemampuan berpikir divergen. Dengan diagnosis yang tepat, intervensi berbasis bukti, dan dukungan memadai, orang dewasa dengan ADHD bisa berkembang pesat dan mencapai potensinya.

Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala-gejala yang disebutkan, jangan ragu berkonsultasi dengan tenaga profesional. Diagnosis adalah langkah awal menuju pemahaman diri yang lebih baik dan pengelolaan yang efektif. Mari ubah narasi dari penghakiman menjadi pemahaman, dari stigma menjadi dukungan. Setiap individu dengan ADHD berhak mendapat kesempatan untuk berkembang.

 

Penulis:

  1. Haniyah Azzahra
  2. Nur Aufa Hermasyawilla

Mahasiswa Psikologi, Universitas Jambi

 

Referensi

American Psychiatric Association. (2022). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, Text Revision (DSM-5-TR). Arlington, VA: American Psychiatric Association Publishing.

Ayano, G., Takele, A., Mulat, H., et al. (2023). Prevalence of attention deficit hyperactivity disorder in adults: Umbrella review of evidence generated across the globe. Psychiatry Research, 328, 115449. https://doi.org/10.1016/j.psychres.2023.115449

Nolen-Hoeksema, S. (2021). Abnormal Psychology (8th ed.). McGraw-Hill.

 

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

  • Penulis: TentangSehat.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • penyebab adhd anak

    Bukan Sulit Diatur: Memahami ADHD pada Anak Tanpa Menghakimi

    • calendar_month Jum, 5 Des 2025
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 405
    • 0Komentar

    Bayangkan seorang anak yang sesungguhnya ingin mendengarkan dan mengikuti arahan. Ia mencoba untuk duduk tenang, tetapi pikirannya bergerak lebih cepat daripada tubuhnya mampu mengikuti. Setiap suara kecil terasa seperti panggilan baru, setiap gerakan di sekelilingnya menarik fokusnya pergi. Ia berusaha berkali-kali untuk kembali memperhatikan, tetapi pikirannya seperti ditiup angin bergerak ke sana kemari tanpa ia […]

  • Hipertensi pada Lansia

    Cegah Komplikasi: Kenali Cara Mengontrol Hipertensi pada Lansia

    • calendar_month Ming, 20 Jul 2025
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 491
    • 0Komentar

    Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan jenis Penyakit Tidak Menular (PTM) yang menjadi penyebab utama kematian dini di seluruh dunia. World Heart Organization (WHO) memperkirakan penderita hipertensi di seluruh dunia sekitar 1,28 miliar orang dewasa berusia 30-79 tahun. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran pada usia 65 – 74 […]

  • Penyebab Berat Badan Balita susah Naik

    Mengapa Berat Badan Balita Tidak Naik? Kenali Penyebab dan Solusinya

    • calendar_month Sen, 21 Jul 2025
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 559
    • 0Komentar

    Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dilaksanakan oleh, dari dan bersama masyarakat, untuk memberdayakan dan memberikan kemudahan kepada masyarakat guna memperoleh pelayanan kesehatan bagi ibu hamil, bayi, balita, remaja usia subur dan lansia. Penimbangan balita merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan dalam pemantauan pertumbuhan. Pemantauan pertumbuhan setiap […]

  • artikel gaya hidup sehat

    Menjaga Kesehatan: Investasi Jangka Panjang untuk Hidup Berkualitas

    • calendar_month Rab, 23 Jul 2025
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 487
    • 0Komentar

    Kesehatan adalah harta yang paling berharga dalam kehidupan. Tanpa tubuh dan pikiran yang sehat, segala pencapaian dalam hidup bisa kehilangan maknanya. Oleh karena itu, menjaga kesehatan bukan hanya kewajiban pribadi, tetapi juga bentuk tanggung jawab sosial. Di era modern saat ini, dimana gaya hidup cenderung serba cepat dan instan, penting bagi setiap individu untuk kembali […]

  • Diagnosis HIV

    HIV Bukan Akhir dari Segalanya

    • calendar_month Ming, 24 Mei 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 36
    • 0Komentar

    Banyak orang masih menganggap HIV sebagai penyakit yang menakutkan dan memalukan. Padahal, HIV adalah penyakit yang berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh dan bisa dialami siapa saja. Kurangnya pengetahuan membuat penderita HIV sering mendapatkan stigma dari masyarakat. Karena itu, penting untuk memahami HIV dengan lebih benar dan tidak langsung menghakimi seseorang. HIV atau Human Immunodeficiency Virus […]

  • kebiasaan begadang

    Tidur Bukanlah Sekadar Istirahat, tapi Kunci Kesehatan

    • calendar_month Jum, 22 Mei 2026
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 59
    • 0Komentar

    Saat ini, banyak orang menganggap bahwa tidur adalah hal yang lumrah untuk dikurangi. Kebiasaan tidur larut malam atau begadang seolah sudah menjadi hal yang biasa, terutama di kalangan pelajar dan pekerja lembur. Tidak sedikit pula orang yang tidur terlalu malam hanya karena bermain ponsel atau media sosial tanpa tujuan yang jelas. Padahal, seiring berjalannya waktu, […]

expand_less