“Kamu Cuma Malas!”: Stigma yang Menyakitkan di Balik ADHD Dewasa
- account_circle Salwa Alifah Yusrina
- calendar_month Jum, 5 Des 2025
- visibility 306
- comment 0 komentar

Adult ADHD, 2023 (Sumber: Fix.com)
Kamu tahu ada yang berbeda sejak kecil. Guru bilang kamu “perlu belajar fokus”. Orang tua bilang kamu “punya energi melimpah”. Bos bilang kamu “perlu lebih terorganisir”. Teman bilang kamu “pelupa”. Pasangan bilang kamu “sering teralihkan”.
Dan kamu bertanya-tanya. Kenapa hal-hal yang terlihat mudah bagi orang lain terasa begitu menantang? Kenapa kamu sudah berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya tidak sesuai ekspektasi? Kenapa pikiran kamu selalu bergerak terlalu cepat, atau justru terlalu sulit untuk mulai bergerak?.
Tapi bagaimana jika bukan kamu yang perlu diperbaiki? Bagaimana jika otak kamu hanya bekerja dengan cara yang berbeda, cara yang disebut ADHD? Dan bagaimana jika yang dibutuhkan bukanlah mengubah diri kamu, melainkan memahami bagaimana cara otakmu bekerja?
Banyak yang menganggap ADHD hanya gangguan anak-anak yang akan hilang seiring bertambahnya usia. Padahal penelitian yang menganalisis data dari lebih 21 juta orang dan menemukan prevalensi ADHD dewasa secara global mencapai 3,1%.
Masalahnya? Banyak orang melihat gejala ADHD bukan sebagai kondisi gangguan perkembangan saraf sungguhan, melainkan sebagai tanda kemalasan, kurang disiplin, atau hasil dari pola asuh yang buruk. Akibatnya, mereka ragu mencari bantuan karena takut dihakimi. Tanpa diagnosis yang tepat, mereka terus berjuang dalam kesendirian bertahun-tahun merasa ada yang salah”dengan diri mereka sendiri.
Apa Sebenarnya ADHD Itu?
ADHD adalah gangguan perkembangan saraf yang mempengaruhi fokus, impulsivitas, dan tingkat aktivitas. Ini bukan hasil pola asuh buruk, bukan karena kurang berusaha, dan bukan kesengajaan. Ini adalah cara otak bekerja yang berbeda.
Baca juga: Bukan Sulit Diatur: Memahami ADHD pada Anak Tanpa Menghakimi
Menurut DSM-5, untuk didiagnosis ADHD, seseorang dewasa harus memiliki minimal 5 gejala yang konsisten, sudah muncul sejak sebelum usia 12 tahun, terjadi di minimal 2 setting berbeda (rumah, kantor, sosial), dan mengganggu fungsi sehari-hari secara signifikan.
ADHD terbagi menjadi 3 tipe utama yakni:
- Inattentive (kesulitan perhatian)
- Hyperactivity-Impulsivity (Hiperaktif-impulsif).
- Combined (kombinasi). Memiliki gejala dari kedua tipe di atas sulit fokus sekaligus hiperaktif dan impulsif. Ini merupakan tipe yang paling umum ditemui.
Apa yang Menyebabkan ADHD?
ADHD tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan berkembang akibat kombinasi beberapa hal, antara lain faktor genetik yang cenderung muncul dalam keluarga, perbedaan perkembangan sistem saraf pada area otak yang mengatur perhatian, kontrol impuls, dan aktivitas motorik, faktor prenatal dan perinatal tertentu seperti paparan zat berbahaya selama kehamilan atau kelahiran prematur, serta faktor lingkungan, misalnya paparan stres berat di masa perkembangan awal.
Gejala yang Sering Terlewatkan
Gejala ADHD pada orang dewasa sering berbeda dari yang terlihat pada anak-anak. Hiperaktivitas fisik yang mencolok pada anak cenderung berevolusi menjadi kegelisahan internal pada orang dewasa. Berikut gejala spesifik yang perlu diwaspadai.
1. Kesulitan Fokus (Inattentive)
Butuh minimal 5 dari 9 gejala:
- Sering membuat kesalahan ceroboh dalam pekerjaan karena kurang memperhatikan detail
- Mengalami kesulitan mempertahankan perhatian pada tugas atau aktivitas yang membutuhkan konsentrasi berkelanjutan
- Tampak tidak mendengarkan ketika diajak bicara secara langsung
- Sering memulai proyek atau tugas tetapi jarang menyelesaikannya
- Mengalami kesulitan signifikan dalam mengorganisasi tugas, mengelola waktu, atau menjaga kerapian
- Menghindari atau menunda tugas yang memerlukan usaha mental berkelanjutan
- Sering kehilangan barang-barang penting seperti kunci, dompet, ponsel, atau dokumen
- Mudah teralihkan oleh stimulus eksternal atau pikiran yang tidak relevan
- Pelupa dalam aktivitas sehari-hari seperti lupa membayar tagihan, membalas pesan, atau menghadiri janji
2. Hiperaktivitas-Impulsivitas
Butuh minimal 5 dari 9 gejala:
- Gelisah motorik seperti mengetuk-ngetuk tangan atau kaki, atau menggeliat di kursi
- Kesulitan tetap duduk diam dalam situasi yang mengharuskannya, seperti rapat atau presentasi
- Mengalami kegelisahan internal atau merasa “didorong oleh motor”
- Kesulitan melakukan aktivitas santai dengan tenang
- Merasa harus terus bergerak atau melakukan sesuatu
- Berbicara secara berlebihan dan sulit mengendalikan volume atau durasi
- Menjawab pertanyaan sebelum pertanyaan selesai diajukan
- Kesulitan menunggu giliran dalam antrian atau situasi lain
- Menginterupsi atau memotong percakapan orang lain tanpa disadari
ADHD Bisa dikelola!
ADHD dapat distabilkan dengan melakukan berbagai cara berikut ini:
1. Konsumsi Obat
Mengonsumsi Obat-obatan dengan resep dokter/psikiater.
2. Terapi
Terapi merupakan hasil terbaik dicapai dengan pendekatan multimodal yang mengkombinasikan obat-obatan dan intervensi psikososial seperti CBT (Cognitive Behavorial Theraphy).
3. Dukungan
Berikan dukungan. Dukungan dari lingkungan memainkan peran penting dalam perjalanan pemulihan individu dengan ADHD dapat dilakukan dengan beberapa hal ini:
- Dengarkan tanpa menghakimi
- Pahami bahwa gejala ADHD bukan pilihan atau tanda kemalasan
- Validasi perjuangan dan apa yang mereka rasakan
- Berikan instruksi secara tertulis, bukan hanya lisan karena individu dengan ADHD akan mudah terdistraksi
- Ingatkan secara lembut tentang janji atau tenggat waktu tanpa terdengar mengkritik
Saatnya Mengubah Narasi
ADHD bukan soal kekurangan, tapi perbedaan neurologis yang membawa tantangan sekaligus potensi unik. Banyak individu dengan ADHD memiliki kreativitas tinggi dan kemampuan berpikir divergen. Dengan diagnosis yang tepat, intervensi berbasis bukti, dan dukungan memadai, orang dewasa dengan ADHD bisa berkembang pesat dan mencapai potensinya.
Jika kamu atau orang terdekat mengalami gejala-gejala yang disebutkan, jangan ragu berkonsultasi dengan tenaga profesional. Diagnosis adalah langkah awal menuju pemahaman diri yang lebih baik dan pengelolaan yang efektif. Mari ubah narasi dari penghakiman menjadi pemahaman, dari stigma menjadi dukungan. Setiap individu dengan ADHD berhak mendapat kesempatan untuk berkembang.
Penulis:
- Haniyah Azzahra
- Nur Aufa Hermasyawilla
Mahasiswa Psikologi, Universitas Jambi
Referensi
American Psychiatric Association. (2022). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, Text Revision (DSM-5-TR). Arlington, VA: American Psychiatric Association Publishing.
Ayano, G., Takele, A., Mulat, H., et al. (2023). Prevalence of attention deficit hyperactivity disorder in adults: Umbrella review of evidence generated across the globe. Psychiatry Research, 328, 115449. https://doi.org/10.1016/j.psychres.2023.115449
Nolen-Hoeksema, S. (2021). Abnormal Psychology (8th ed.). McGraw-Hill.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
- Penulis: Salwa Alifah Yusrina

Saat ini belum ada komentar