Breaking!
light_mode
Trending
Beranda » Opini » Bukan Sulit Diatur: Memahami ADHD pada Anak Tanpa Menghakimi

Bukan Sulit Diatur: Memahami ADHD pada Anak Tanpa Menghakimi

  • account_circle TentangSehat.com
  • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
  • visibility 458
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Bayangkan seorang anak yang sesungguhnya ingin mendengarkan dan mengikuti arahan. Ia mencoba untuk duduk tenang, tetapi pikirannya bergerak lebih cepat daripada tubuhnya mampu mengikuti. Setiap suara kecil terasa seperti panggilan baru, setiap gerakan di sekelilingnya menarik fokusnya pergi.

Ia berusaha berkali-kali untuk kembali memperhatikan, tetapi pikirannya seperti ditiup angin bergerak ke sana kemari tanpa ia sengaja. Bagi sebagian orang, itu terlihat seperti kurang usaha. Padahal, di dalam dirinya, ia sedang berjuang lebih keras daripada yang terlihat.

Sering kali, anak-anak seperti ini diberi label “bandel”, “sulit diatur”, atau “nggak bisa diam”, seolah mereka memilih untuk bertindak demikian.

Padahal, seperti dijelaskan Nolen-Hoeksema dalam Abnormal Psychology, ADHD adalah gangguan perkembangan neurobiologis yang memengaruhi kemampuan anak dalam mengatur perhatian, impuls, dan energi.

Kondisi ini tidak muncul karena pola asuh yang salah, terlalu dimanjakan, atau kurang disiplin. Mereka bukan anak yang tidak mau berusaha mereka hanya sedang menghadapi dunia dengan cara yang berbeda, dengan tantangan yang tidak selalu tampak dari luar.

Stigma yang Masih Melekat

Banyak orang tua dan masyarakat masih mengira ADHD muncul karena anak kurang disiplin atau terlalu banyak bermain gawai. Padahal, menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), ADHD merupakan kondisi perkembangan neurobiologis bukan akibat pola asuh yang salah.

Mengutip penjelasan dari Nolen Hoeksema dalam Abnormal Psychology (2020), ADHD muncul karena kombinasi faktor biologis dan lingkungan, yang memengaruhi area otak pengatur perhatian, impuls, dan fungsi eksekutif. Stigma justru membuat anak merasa dirinya “salah”, padahal ia butuh bantuan dan pemahaman.

Apa itu ADHD pada Anak?

ADHD (Attention Deficit/Hyperactivity Disorder) adalah gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi konsentrasi, regulasi impuls, dan tingkat aktivitas anak.

Anak dengan ADHD memproses informasi dan mengatur perilaku dengan cara yang berbeda, sehingga memerlukan pendekatan belajar dan pendampingan yang khusus. DSM-5 menjelaskan bahwa ADHD melibatkan tantangan dalam inatensi, hiperaktivitas, dan impulsivitas yang menetap minimal enam bulan dan gejala mulai muncul sebelum usia 12 tahun.

Baca Juga: Fakta atau Menyesatkan: Konsumsi Susu 2 Liter per Hari Baik untuk Tinggi Anak

Gejala Utama Menurut DSM-5

Untuk dapat didiagnosis ADHD, anak hingga usia 16 tahun harus menunjukkan minimal 6 dari 9 gejala pada salah satu atau kedua kelompok berikut, dan gejala tersebut harus muncul di dua situasi berbeda (misalnya di rumah dan sekolah).

1. Inatensi (Kurang Fokus) 

  • Sering membuat kesalahan ceroboh dalam tugas sekolah atau aktivitas lain karena kurang memberikan perhatian pada detail.
  • Sulit mempertahankan perhatian pada tugas atau aktivitas bermain.
  • Tampak tidak mendengarkan saat diajak bicara secara langsung.
  • Sering tidak mengikuti instruksi dan kesulitan menyelesaikan tugas sekolah atau pekerjaan rumah.
  • Mengalami kesulitan mengorganisir tugas dan aktivitas.
  • Menghindari atau enggan mengerjakan tugas yang memerlukan usaha mental berkelanjutan.
  • Sering kehilangan barang yang diperlukan untuk tugas atau aktivitas.
  • Mudah teralihkan oleh stimulus eksternal.
  • Sering lupa dalam aktivitas sehari-hari.

2. Hiperaktivitas & Impulsivitas

  • Sering gelisah dengan tangan atau kaki, atau menggeliat di kursi.
  • Sering meninggalkan tempat duduk dalam situasi yang diharapkan tetap duduk.
  • Sering berlari-lari atau memanjat dalam situasi yang tidak tepat.
  • Kesulitan bermain atau melakukan aktivitas dengan tenang.
  • Sering “bergerak terus” atau bertindak seolah “digerakkan oleh motor”.
  • Berbicara berlebihan.
  • Sering menjawab sebelum pertanyaan selesai diajukan.
  • Kesulitan menunggu giliran.
  • Sering menyela atau mengganggu aktivitas orang lain.

DSM-5 mengelompokkan ADHD ke dalam tiga tipe presentasi: Predominan Inatensi, Predominan Hiperaktif-Impulsif, dan Tipe Kombinasi (memenuhi kriteria kedua kelompok gejala).

Apa Penyebabnya?

Penyebab ADHD tidak berasal dari satu faktor saja. Menurut DSM-5, ADHD berkembang melalui kombinasi faktor biologis dan lingkungan. Sebelum melihat poin-poinnya, penting untuk dipahami bahwa penyebab ini tidak pernah terletak pada kesalahan anak maupun orang tua.

Baca Juga: Barru dan Pertaruhan Generasi Bebas Stunting

Beberapa faktor yang berperan meliputi:

  • Genetik: kecenderungan ADHD lebih tinggi pada anak yang memiliki anggota keluarga dengan kondisi serupa.
  • Perkembangan sistem saraf: adanya perbedaan pada area otak yang mengatur perhatian dan kontrol impuls.
  • Faktor prenatal & perinatal: seperti paparan zat tertentu selama kehamilan atau kelahiran prematur.
  • Lingkungan perkembangan awal: misalnya paparan stres berat.

Poin-poin ini tidak menunjukkan kekurangan anak, melainkan menjelaskan keragaman cara otak berkembang.

Bagaimana Diagnosis Dilakukan?

Diagnosis ADHD tidak dilakukan berdasarkan kesan sesaat seperti “anaknya aktif banget”. Ada proses panjang dan menyeluruh untuk memahami perilaku anak.

Proses ini dinilai dari berbagai sumber agar tidak hanya bergantung pada penilaian satu pihak saja. DSM-5 menekankan pentingnya pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan bahwa gejala yang muncul memengaruhi fungsi anak secara signifikan.

Proses diagnosis biasanya meliputi:

  • Observasi perilaku di rumah dan sekolah.
  • Wawancara dengan orang tua, guru, atau pengasuh.
  • Asesmen psikologis mengenai perhatian, impulsivitas, dan fungsi eksekutif.
  • Pencocokan gejala dengan kriteria DSM-5 yang berlaku.

Narasi besar diagnosis bukan tentang memberi label, tetapi memahami apa yang dibutuhkan anak agar ia dapat berkembang dengan cara yang tepat

Dampak Jika Anak Tidak Dipahami

Ketika gejala ADHD disalahpahami, anak dapat mengalami tekanan yang tidak kecil. Mereka bisa merasa selalu salah, sulit diterima teman sebaya, atau dianggap tidak berusaha padahal mereka sudah mencoba.

Di sekolah, mereka mungkin mendapat komentar seperti “tidak fokus”, “terlalu ramai”, atau “susah diatur”, yang pada akhirnya menekan rasa percaya diri mereka.

Dampak emosional ini bisa bertahan hingga dewasa jika lingkungan tidak memberikan dukungan yang memadai. Memahami kondisi mereka berarti mengurangi risiko rasa rendah diri, kecemasan, dan kesulitan sosial di masa depan.

Baca Juga: Sulawesi Barat dan Mimpi Besar Menghapus Stunting

Peran Lingkungan: Dukungan yang Membuat Perbedaan

Pendampingan anak dengan ADHD bukan tentang membuat mereka “lebih nurut”, tetapi membantu mereka menemukan cara belajar dan berinteraksi yang sesuai. Rutinitas yang konsisten, instruksi singkat namun jelas, penguatan positif, serta lingkungan belajar yang minim distraksi dapat membuat mereka jauh lebih mampu mengatur diri.

Dengan dukungan yang tepat, anak merasa aman, diterima, dan dihargai. Mereka pun dapat menemukan ritme belajar dan cara beradaptasi yang paling cocok bagi diri mereka.

Anak dengan ADHD bukanlah masalah. Mereka adalah anak-anak yang tumbuh dengan cara yang berbeda dan membutuhkan pendekatan yang sesuai, bukan penghakiman. Dengan memahami kondisi mereka, kita membantu membuka jalan bagi perkembangan yang lebih sehat, percaya diri, dan penuh potensi.

Penulis:
1. Naila Ramadani
2. Ariqah Akbari
Mahasiswa Psikologi Universitas Jambi

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Sumber:

Nolen-Hoeksema, S. (2020). Abnormal psychology. McGraw-Hill Education.
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.).

  • Penulis: TentangSehat.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hipertensi dan Diabetes

    Program Inovasi “PEPET SI DIA” (Pemantauan Penderita Hipertensi dan Diabetes dengan Kartu Merah Muda) di Puskesmas Patikraja

    • calendar_month Minggu, 22 Mar 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 264
    • 0Komentar

    Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan prevalensi hipertensi (HT) di Indonesia pada tahun 2023 mencapai 30,8% dan prevalensi diabetes melitus (DM) sebesar 1,7%. Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi hipertensi meningkat dari 25,8% menjadi 34,1% pada usia 18 tahun ke atas, sedangkan prevalensi DM meningkat dari 6,9% menjadi 10,9% pada usia ≥ 15 tahun. Dari data program […]

  • mengenal skizofrenia

    Dari Stigma ke Pemahaman: Mengenal Skizofrenia dengan Cara yang Lebih Tepat

    • calendar_month Rabu, 3 Des 2025
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 468
    • 0Komentar

    Banyak orang mengenal skizofrenia lewat gambaran yang salah. Istilah ini sering dianggap menakutkan, dikaitkan dengan “kegilaan”, atau bahkan mitos yang tidak berdasar. Akibatnya, penyandang skizofrenia sering disalahpahami dan distigmatisasi sebelum orang benar benar tahu apa yang sebenarnya terjadi. Padahal dengan pengobatan yang tepat dan dukungan lingkungan, banyak penyandang skizofrenia dapat hidup stabil dan berfungsi kembali. […]

  • hubungan religiusitas dan kesehatan mental

    Ketika Iman Tidak Menghapus Penderitaan: Memahami Religiusitas dan Kesehatan Mental

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 158
    • 0Komentar

    Sebuah laporan dari Pusat Penelitian Pew Research Center menunjukkan bahwa mayoritas orang Indonesia menganggap agama sangat penting dalam hidup mereka, dan Indonesia termasuk dalam kelompok negara yang sangat religius di seluruh dunia. Lebih dari 90% orang Indonesia yang menjawab menyatakan bahwa agama sangat penting dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dan jika dibandingkan dengan negara lain tingkat […]

  • gaya hidup sehat

    Kesehatan: Investasi Jangka Panjang untuk Kualitas Hidup yang Lebih Baik

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 417
    • 0Komentar

    Abstrak Kesehatan merupakan aspek penting yang mencakup kondisi fisik, mental, dan sosial yang seimbang. Perubahan gaya hidup modern, seperti meningkatnya konsumsi makanan cepat saji, kurangnya aktivitas fisik, serta tingginya tekanan psikologis berdampak signifikan terhadap meningkatnya prevalensi penyakit tidak menular. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan peran pola makan sehat, aktivitas fisik, dan kesehatan mental dalam menjaga […]

  • Kerapuhan Mental

    Generasi Scroll: Antara Koneksi Digital dan Kerapuhan Mental

    • calendar_month Senin, 27 Jul 2026
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 57
    • 0Komentar

    Saat ini, hampir semua aktivitas manusia tidak bisa lepas dari ponsel dan media sosial. Coba bayangkan bangun tidur membuka Instagram, sebelum tidur scroll TikTok, bahkan ketika berkumpul dengan teman pun masih sibuk dengan layar ponsel. Bahkan media sosial pun dijadikan sebagai tempat adu flexing, setiap unggahan harus terkesan bergaya hanya untuk mendapatkan attention orang lain. […]

  • Peran AI dalam dunia kedokteran

    Menakar Kecerdasan Buatan di Balik Kehangatan Stetoskop Dokter

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 119
    • 0Komentar

    Dunia kedokteran saat ini sedang mengalami perubahan besar karena masuknya teknologi kecerdasan buatan atau AI. Sebagai mahasiswa kedokteran, kita tidak hanya belajar menghafal anatomi tubuh atau jenis penyakit, tetapi juga harus siap bekerja sama dengan teknologi ini. Sekarang, AI sudah bisa membaca hasil rontgen dan menganalisis gejala penyakit dengan sangat cepat. Di satu sisi, teknologi […]

expand_less