Breaking!
light_mode
Trending
Beranda » Opini » Bukan Sulit Diatur: Memahami ADHD pada Anak Tanpa Menghakimi

Bukan Sulit Diatur: Memahami ADHD pada Anak Tanpa Menghakimi

  • account_circle TentangSehat.com
  • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
  • visibility 429
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Bayangkan seorang anak yang sesungguhnya ingin mendengarkan dan mengikuti arahan. Ia mencoba untuk duduk tenang, tetapi pikirannya bergerak lebih cepat daripada tubuhnya mampu mengikuti. Setiap suara kecil terasa seperti panggilan baru, setiap gerakan di sekelilingnya menarik fokusnya pergi.

Ia berusaha berkali-kali untuk kembali memperhatikan, tetapi pikirannya seperti ditiup angin bergerak ke sana kemari tanpa ia sengaja. Bagi sebagian orang, itu terlihat seperti kurang usaha. Padahal, di dalam dirinya, ia sedang berjuang lebih keras daripada yang terlihat.

Sering kali, anak-anak seperti ini diberi label “bandel”, “sulit diatur”, atau “nggak bisa diam”, seolah mereka memilih untuk bertindak demikian.

Padahal, seperti dijelaskan Nolen-Hoeksema dalam Abnormal Psychology, ADHD adalah gangguan perkembangan neurobiologis yang memengaruhi kemampuan anak dalam mengatur perhatian, impuls, dan energi.

Kondisi ini tidak muncul karena pola asuh yang salah, terlalu dimanjakan, atau kurang disiplin. Mereka bukan anak yang tidak mau berusaha mereka hanya sedang menghadapi dunia dengan cara yang berbeda, dengan tantangan yang tidak selalu tampak dari luar.

Stigma yang Masih Melekat

Banyak orang tua dan masyarakat masih mengira ADHD muncul karena anak kurang disiplin atau terlalu banyak bermain gawai. Padahal, menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), ADHD merupakan kondisi perkembangan neurobiologis bukan akibat pola asuh yang salah.

Mengutip penjelasan dari Nolen Hoeksema dalam Abnormal Psychology (2020), ADHD muncul karena kombinasi faktor biologis dan lingkungan, yang memengaruhi area otak pengatur perhatian, impuls, dan fungsi eksekutif. Stigma justru membuat anak merasa dirinya “salah”, padahal ia butuh bantuan dan pemahaman.

Apa itu ADHD pada Anak?

ADHD (Attention Deficit/Hyperactivity Disorder) adalah gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi konsentrasi, regulasi impuls, dan tingkat aktivitas anak.

Anak dengan ADHD memproses informasi dan mengatur perilaku dengan cara yang berbeda, sehingga memerlukan pendekatan belajar dan pendampingan yang khusus. DSM-5 menjelaskan bahwa ADHD melibatkan tantangan dalam inatensi, hiperaktivitas, dan impulsivitas yang menetap minimal enam bulan dan gejala mulai muncul sebelum usia 12 tahun.

Baca Juga: Fakta atau Menyesatkan: Konsumsi Susu 2 Liter per Hari Baik untuk Tinggi Anak

Gejala Utama Menurut DSM-5

Untuk dapat didiagnosis ADHD, anak hingga usia 16 tahun harus menunjukkan minimal 6 dari 9 gejala pada salah satu atau kedua kelompok berikut, dan gejala tersebut harus muncul di dua situasi berbeda (misalnya di rumah dan sekolah).

1. Inatensi (Kurang Fokus) 

  • Sering membuat kesalahan ceroboh dalam tugas sekolah atau aktivitas lain karena kurang memberikan perhatian pada detail.
  • Sulit mempertahankan perhatian pada tugas atau aktivitas bermain.
  • Tampak tidak mendengarkan saat diajak bicara secara langsung.
  • Sering tidak mengikuti instruksi dan kesulitan menyelesaikan tugas sekolah atau pekerjaan rumah.
  • Mengalami kesulitan mengorganisir tugas dan aktivitas.
  • Menghindari atau enggan mengerjakan tugas yang memerlukan usaha mental berkelanjutan.
  • Sering kehilangan barang yang diperlukan untuk tugas atau aktivitas.
  • Mudah teralihkan oleh stimulus eksternal.
  • Sering lupa dalam aktivitas sehari-hari.

2. Hiperaktivitas & Impulsivitas

  • Sering gelisah dengan tangan atau kaki, atau menggeliat di kursi.
  • Sering meninggalkan tempat duduk dalam situasi yang diharapkan tetap duduk.
  • Sering berlari-lari atau memanjat dalam situasi yang tidak tepat.
  • Kesulitan bermain atau melakukan aktivitas dengan tenang.
  • Sering “bergerak terus” atau bertindak seolah “digerakkan oleh motor”.
  • Berbicara berlebihan.
  • Sering menjawab sebelum pertanyaan selesai diajukan.
  • Kesulitan menunggu giliran.
  • Sering menyela atau mengganggu aktivitas orang lain.

DSM-5 mengelompokkan ADHD ke dalam tiga tipe presentasi: Predominan Inatensi, Predominan Hiperaktif-Impulsif, dan Tipe Kombinasi (memenuhi kriteria kedua kelompok gejala).

Apa Penyebabnya?

Penyebab ADHD tidak berasal dari satu faktor saja. Menurut DSM-5, ADHD berkembang melalui kombinasi faktor biologis dan lingkungan. Sebelum melihat poin-poinnya, penting untuk dipahami bahwa penyebab ini tidak pernah terletak pada kesalahan anak maupun orang tua.

Baca Juga: Barru dan Pertaruhan Generasi Bebas Stunting

Beberapa faktor yang berperan meliputi:

  • Genetik: kecenderungan ADHD lebih tinggi pada anak yang memiliki anggota keluarga dengan kondisi serupa.
  • Perkembangan sistem saraf: adanya perbedaan pada area otak yang mengatur perhatian dan kontrol impuls.
  • Faktor prenatal & perinatal: seperti paparan zat tertentu selama kehamilan atau kelahiran prematur.
  • Lingkungan perkembangan awal: misalnya paparan stres berat.

Poin-poin ini tidak menunjukkan kekurangan anak, melainkan menjelaskan keragaman cara otak berkembang.

Bagaimana Diagnosis Dilakukan?

Diagnosis ADHD tidak dilakukan berdasarkan kesan sesaat seperti “anaknya aktif banget”. Ada proses panjang dan menyeluruh untuk memahami perilaku anak.

Proses ini dinilai dari berbagai sumber agar tidak hanya bergantung pada penilaian satu pihak saja. DSM-5 menekankan pentingnya pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan bahwa gejala yang muncul memengaruhi fungsi anak secara signifikan.

Proses diagnosis biasanya meliputi:

  • Observasi perilaku di rumah dan sekolah.
  • Wawancara dengan orang tua, guru, atau pengasuh.
  • Asesmen psikologis mengenai perhatian, impulsivitas, dan fungsi eksekutif.
  • Pencocokan gejala dengan kriteria DSM-5 yang berlaku.

Narasi besar diagnosis bukan tentang memberi label, tetapi memahami apa yang dibutuhkan anak agar ia dapat berkembang dengan cara yang tepat

Dampak Jika Anak Tidak Dipahami

Ketika gejala ADHD disalahpahami, anak dapat mengalami tekanan yang tidak kecil. Mereka bisa merasa selalu salah, sulit diterima teman sebaya, atau dianggap tidak berusaha padahal mereka sudah mencoba.

Di sekolah, mereka mungkin mendapat komentar seperti “tidak fokus”, “terlalu ramai”, atau “susah diatur”, yang pada akhirnya menekan rasa percaya diri mereka.

Dampak emosional ini bisa bertahan hingga dewasa jika lingkungan tidak memberikan dukungan yang memadai. Memahami kondisi mereka berarti mengurangi risiko rasa rendah diri, kecemasan, dan kesulitan sosial di masa depan.

Baca Juga: Sulawesi Barat dan Mimpi Besar Menghapus Stunting

Peran Lingkungan: Dukungan yang Membuat Perbedaan

Pendampingan anak dengan ADHD bukan tentang membuat mereka “lebih nurut”, tetapi membantu mereka menemukan cara belajar dan berinteraksi yang sesuai. Rutinitas yang konsisten, instruksi singkat namun jelas, penguatan positif, serta lingkungan belajar yang minim distraksi dapat membuat mereka jauh lebih mampu mengatur diri.

Dengan dukungan yang tepat, anak merasa aman, diterima, dan dihargai. Mereka pun dapat menemukan ritme belajar dan cara beradaptasi yang paling cocok bagi diri mereka.

Anak dengan ADHD bukanlah masalah. Mereka adalah anak-anak yang tumbuh dengan cara yang berbeda dan membutuhkan pendekatan yang sesuai, bukan penghakiman. Dengan memahami kondisi mereka, kita membantu membuka jalan bagi perkembangan yang lebih sehat, percaya diri, dan penuh potensi.

Penulis:
1. Naila Ramadani
2. Ariqah Akbari
Mahasiswa Psikologi Universitas Jambi

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Sumber:

Nolen-Hoeksema, S. (2020). Abnormal psychology. McGraw-Hill Education.
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.).

  • Penulis: TentangSehat.com

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pengobatan Herbal untuk Penyakit Ginjal

    7 Pengobatan Herbal untuk Penyakit Ginjal yang Terbukti Efektif dan Aman

    • calendar_month Sabtu, 5 Okt 2024
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 614
    • 0Komentar

    Penyakit ginjal menjadi masalah kesehatan yang semakin sering dijumpai, baik pada usia muda maupun lanjut. Dalam beberapa tahun terakhir, pengobatan herbal untuk penyakit ginjal semakin mendapatkan perhatian sebagai alternatif atau pelengkap pengobatan medis konvensional. Banyak orang yang mencari cara alami untuk mengatasi gangguan ginjal tanpa efek samping yang merugikan. Pada artikel ini, kita akan membahas […]

  • cara mengatasi flu

    7 Cara Mengatasi Flu dengan Obat Herbal yang Ampuh dan Terbukti Efektif

    • calendar_month Rabu, 29 Jan 2025
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 804
    • 0Komentar

    Flu adalah salah satu penyakit yang paling umum menyerang setiap tahunnya. Gejalanya seperti demam, pilek, sakit kepala, dan tubuh lemas bisa mengganggu aktivitas sehari-hari. Banyak orang mencari solusi alami untuk mengatasi flu dengan obat herbal. Yuk! Mari kita bahas cara mengatasi flu dengan obat herbal yang aman dan efektif berdasarkan data dan penelitian terbaru. Mengapa […]

  • artikel gaya hidup sehat

    Menjaga Kesehatan: Investasi Jangka Panjang untuk Hidup Berkualitas

    • calendar_month Rabu, 23 Jul 2025
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 509
    • 0Komentar

    Kesehatan adalah harta yang paling berharga dalam kehidupan. Tanpa tubuh dan pikiran yang sehat, segala pencapaian dalam hidup bisa kehilangan maknanya. Oleh karena itu, menjaga kesehatan bukan hanya kewajiban pribadi, tetapi juga bentuk tanggung jawab sosial. Di era modern saat ini, dimana gaya hidup cenderung serba cepat dan instan, penting bagi setiap individu untuk kembali […]

  • Konsumsi Susu 2 Liter per Hari Baik untuk Tinggi Anak

    Fakta atau Menyesatkan: Konsumsi Susu 2 Liter per Hari Baik untuk Tinggi Anak

    • calendar_month Rabu, 2 Jul 2025
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 543
    • 0Komentar

    Kepala BGN Dr. Ir. Dadan Hindaya, menyatakan bahwa konsumsi susu 2 liter setiap hari efektif untuk meningkatkan tinggi badan anak, dibuktikan dengan tinggi kedua anaknya lebih dari 180 cm. Pernyataan ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan umum dan tenaga kesehatan. Apakah benar konsumsi susu 2 liter per hari baik untuk pertumbuhan atau justru membahayakan […]

  • Peran AI dalam dunia kedokteran

    Menakar Kecerdasan Buatan di Balik Kehangatan Stetoskop Dokter

    • calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
    • account_circle tentangsehatcom
    • visibility 72
    • 0Komentar

    Dunia kedokteran saat ini sedang mengalami perubahan besar karena masuknya teknologi kecerdasan buatan atau AI. Sebagai mahasiswa kedokteran, kita tidak hanya belajar menghafal anatomi tubuh atau jenis penyakit, tetapi juga harus siap bekerja sama dengan teknologi ini. Sekarang, AI sudah bisa membaca hasil rontgen dan menganalisis gejala penyakit dengan sangat cepat. Di satu sisi, teknologi […]

  • tips menjaga kesehatan di cuaca ekstrem

    Tips Menjaga Kesehatan di Era Perubahan Cuaca yang Ekstrem

    • calendar_month Selasa, 16 Des 2025
    • account_circle TentangSehat.com
    • visibility 667
    • 0Komentar

    Perubahan cuaca yang sering terjadi di Indonesia merupakan kejadian yang sering terjadi setiap tahunnya, di mana perubahan cuaca berubah dari yang siang panas terik lalu sore hari langsung turun hujan dengan deras. Dengan adanya perubahan cuaca yang sangat esktrem ini dapat menyebabkan kesehatan menjadi menurun. Contoh dari kesehatan menurun karena perubahan cuaca yaitu flu, pusing, […]

expand_less