Bukan Sulit Diatur: Memahami ADHD pada Anak Tanpa Menghakimi
- account_circle TentangSehat.com
- calendar_month Jum, 5 Des 2025
- visibility 314
- comment 0 komentar

Bukan Sulit Diatur: Memahami ADHD pada Anak Tanpa Menghakimi. Sumber: id.theasianparent.com.
Bayangkan seorang anak yang sesungguhnya ingin mendengarkan dan mengikuti arahan. Ia mencoba untuk duduk tenang, tetapi pikirannya bergerak lebih cepat daripada tubuhnya mampu mengikuti. Setiap suara kecil terasa seperti panggilan baru, setiap gerakan di sekelilingnya menarik fokusnya pergi.
Ia berusaha berkali-kali untuk kembali memperhatikan, tetapi pikirannya seperti ditiup angin bergerak ke sana kemari tanpa ia sengaja. Bagi sebagian orang, itu terlihat seperti kurang usaha. Padahal, di dalam dirinya, ia sedang berjuang lebih keras daripada yang terlihat.
Sering kali, anak-anak seperti ini diberi label “bandel”, “sulit diatur”, atau “nggak bisa diam”, seolah mereka memilih untuk bertindak demikian.
Padahal, seperti dijelaskan Nolen-Hoeksema dalam Abnormal Psychology, ADHD adalah gangguan perkembangan neurobiologis yang memengaruhi kemampuan anak dalam mengatur perhatian, impuls, dan energi.
Kondisi ini tidak muncul karena pola asuh yang salah, terlalu dimanjakan, atau kurang disiplin. Mereka bukan anak yang tidak mau berusaha mereka hanya sedang menghadapi dunia dengan cara yang berbeda, dengan tantangan yang tidak selalu tampak dari luar.
Stigma yang Masih Melekat
Banyak orang tua dan masyarakat masih mengira ADHD muncul karena anak kurang disiplin atau terlalu banyak bermain gawai. Padahal, menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), ADHD merupakan kondisi perkembangan neurobiologis bukan akibat pola asuh yang salah.
Mengutip penjelasan dari Nolen Hoeksema dalam Abnormal Psychology (2020), ADHD muncul karena kombinasi faktor biologis dan lingkungan, yang memengaruhi area otak pengatur perhatian, impuls, dan fungsi eksekutif. Stigma justru membuat anak merasa dirinya “salah”, padahal ia butuh bantuan dan pemahaman.
Apa itu ADHD pada Anak?
ADHD (Attention Deficit/Hyperactivity Disorder) adalah gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi konsentrasi, regulasi impuls, dan tingkat aktivitas anak.
Anak dengan ADHD memproses informasi dan mengatur perilaku dengan cara yang berbeda, sehingga memerlukan pendekatan belajar dan pendampingan yang khusus. DSM-5 menjelaskan bahwa ADHD melibatkan tantangan dalam inatensi, hiperaktivitas, dan impulsivitas yang menetap minimal enam bulan dan gejala mulai muncul sebelum usia 12 tahun.
Baca Juga: Fakta atau Menyesatkan: Konsumsi Susu 2 Liter per Hari Baik untuk Tinggi Anak
Gejala Utama Menurut DSM-5
Untuk dapat didiagnosis ADHD, anak hingga usia 16 tahun harus menunjukkan minimal 6 dari 9 gejala pada salah satu atau kedua kelompok berikut, dan gejala tersebut harus muncul di dua situasi berbeda (misalnya di rumah dan sekolah).
1. Inatensi (Kurang Fokus)
- Sering membuat kesalahan ceroboh dalam tugas sekolah atau aktivitas lain karena kurang memberikan perhatian pada detail.
- Sulit mempertahankan perhatian pada tugas atau aktivitas bermain.
- Tampak tidak mendengarkan saat diajak bicara secara langsung.
- Sering tidak mengikuti instruksi dan kesulitan menyelesaikan tugas sekolah atau pekerjaan rumah.
- Mengalami kesulitan mengorganisir tugas dan aktivitas.
- Menghindari atau enggan mengerjakan tugas yang memerlukan usaha mental berkelanjutan.
- Sering kehilangan barang yang diperlukan untuk tugas atau aktivitas.
- Mudah teralihkan oleh stimulus eksternal.
- Sering lupa dalam aktivitas sehari-hari.
2. Hiperaktivitas & Impulsivitas
- Sering gelisah dengan tangan atau kaki, atau menggeliat di kursi.
- Sering meninggalkan tempat duduk dalam situasi yang diharapkan tetap duduk.
- Sering berlari-lari atau memanjat dalam situasi yang tidak tepat.
- Kesulitan bermain atau melakukan aktivitas dengan tenang.
- Sering “bergerak terus” atau bertindak seolah “digerakkan oleh motor”.
- Berbicara berlebihan.
- Sering menjawab sebelum pertanyaan selesai diajukan.
- Kesulitan menunggu giliran.
- Sering menyela atau mengganggu aktivitas orang lain.
DSM-5 mengelompokkan ADHD ke dalam tiga tipe presentasi: Predominan Inatensi, Predominan Hiperaktif-Impulsif, dan Tipe Kombinasi (memenuhi kriteria kedua kelompok gejala).
Apa Penyebabnya?
Penyebab ADHD tidak berasal dari satu faktor saja. Menurut DSM-5, ADHD berkembang melalui kombinasi faktor biologis dan lingkungan. Sebelum melihat poin-poinnya, penting untuk dipahami bahwa penyebab ini tidak pernah terletak pada kesalahan anak maupun orang tua.
Baca Juga: Barru dan Pertaruhan Generasi Bebas Stunting
Beberapa faktor yang berperan meliputi:
- Genetik: kecenderungan ADHD lebih tinggi pada anak yang memiliki anggota keluarga dengan kondisi serupa.
- Perkembangan sistem saraf: adanya perbedaan pada area otak yang mengatur perhatian dan kontrol impuls.
- Faktor prenatal & perinatal: seperti paparan zat tertentu selama kehamilan atau kelahiran prematur.
- Lingkungan perkembangan awal: misalnya paparan stres berat.
Poin-poin ini tidak menunjukkan kekurangan anak, melainkan menjelaskan keragaman cara otak berkembang.
Bagaimana Diagnosis Dilakukan?
Diagnosis ADHD tidak dilakukan berdasarkan kesan sesaat seperti “anaknya aktif banget”. Ada proses panjang dan menyeluruh untuk memahami perilaku anak.
Proses ini dinilai dari berbagai sumber agar tidak hanya bergantung pada penilaian satu pihak saja. DSM-5 menekankan pentingnya pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan bahwa gejala yang muncul memengaruhi fungsi anak secara signifikan.
Proses diagnosis biasanya meliputi:
- Observasi perilaku di rumah dan sekolah.
- Wawancara dengan orang tua, guru, atau pengasuh.
- Asesmen psikologis mengenai perhatian, impulsivitas, dan fungsi eksekutif.
- Pencocokan gejala dengan kriteria DSM-5 yang berlaku.
Narasi besar diagnosis bukan tentang memberi label, tetapi memahami apa yang dibutuhkan anak agar ia dapat berkembang dengan cara yang tepat
Dampak Jika Anak Tidak Dipahami
Ketika gejala ADHD disalahpahami, anak dapat mengalami tekanan yang tidak kecil. Mereka bisa merasa selalu salah, sulit diterima teman sebaya, atau dianggap tidak berusaha padahal mereka sudah mencoba.
Di sekolah, mereka mungkin mendapat komentar seperti “tidak fokus”, “terlalu ramai”, atau “susah diatur”, yang pada akhirnya menekan rasa percaya diri mereka.
Dampak emosional ini bisa bertahan hingga dewasa jika lingkungan tidak memberikan dukungan yang memadai. Memahami kondisi mereka berarti mengurangi risiko rasa rendah diri, kecemasan, dan kesulitan sosial di masa depan.
Baca Juga: Sulawesi Barat dan Mimpi Besar Menghapus Stunting
Peran Lingkungan: Dukungan yang Membuat Perbedaan
Pendampingan anak dengan ADHD bukan tentang membuat mereka “lebih nurut”, tetapi membantu mereka menemukan cara belajar dan berinteraksi yang sesuai. Rutinitas yang konsisten, instruksi singkat namun jelas, penguatan positif, serta lingkungan belajar yang minim distraksi dapat membuat mereka jauh lebih mampu mengatur diri.
Dengan dukungan yang tepat, anak merasa aman, diterima, dan dihargai. Mereka pun dapat menemukan ritme belajar dan cara beradaptasi yang paling cocok bagi diri mereka.
Anak dengan ADHD bukanlah masalah. Mereka adalah anak-anak yang tumbuh dengan cara yang berbeda dan membutuhkan pendekatan yang sesuai, bukan penghakiman. Dengan memahami kondisi mereka, kita membantu membuka jalan bagi perkembangan yang lebih sehat, percaya diri, dan penuh potensi.
Penulis:
1. Naila Ramadani
2. Ariqah Akbari
Mahasiswa Psikologi Universitas Jambi
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Sumber:
Nolen-Hoeksema, S. (2020). Abnormal psychology. McGraw-Hill Education.
American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (5th ed.).
- Penulis: TentangSehat.com

Saat ini belum ada komentar