Cegah Komplikasi: Kenali Cara Mengontrol Hipertensi pada Lansia
- account_circle Salwa Alifah Yusrina
- calendar_month Ming, 20 Jul 2025
- visibility 221
- comment 0 komentar

Ilustrasi Hipertensi (Sumber: canva.com)
Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan jenis Penyakit Tidak Menular (PTM) yang menjadi penyebab utama kematian dini di seluruh dunia. World Heart Organization (WHO) memperkirakan penderita hipertensi di seluruh dunia sekitar 1,28 miliar orang dewasa berusia 30-79 tahun.
Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran pada usia 65 – 74 tahun yaitu 57,8% dan usia >75 tahun sebesar 64%. Hipertensi ditandai dengan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik ≥90 mmHg.
Beberapa gejala yang dapat muncul saat tekanan darah tinggi diantaranya yaitu sakit kepala terutama di bagian belakang kepala, nyeri dada, jantung berdebar, gelisah, pandangan kabur, dan mudah lelah.
Mengapa Lansia Rentan Terkena Hipertensi?
Seiring bertambahnya usia, arteri kehilangan elastisitasnya sehingga perlahan menyempit dan menjadi kaku. Pembuluh darah yang kaku membuat jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah, sehingga meningkatkan tekanan darah.
Selain faktor usia, beberapa faktor lain meliputi riwayat keluarga dengan hipertensi, gaya hidup kurang sehat sejak muda seperti merokok dan kurang aktivitas fisik, kegemukan, pola makan tinggi garam, tinggi lemak dan rendah serat, serta stress berkepanjangan.
Komplikasi Akibat Hipertensi Tidak Dikontrol
Hipertensi dijuluki sebagai “the silent killer” karena sering tidak menimbulkan gejala, sehingga penderita tidak menyadari mengidap hipertensi hingga akhirnya ditemukan adanya penyakit penyulit atau komplikasi akibat hipertensi. Jika tidak dikontrol dengan baik, hipertensi dapat menyebabkan kerusakan ginjal, penyakit jantung, stroke, gangguan saraf, gangguan serebral, dan retinopati (kerusakan retina).
Baca juga: Cara Mengatasi Hipertensi dengan Obat yang Ampuh dan Efektif
Pengendalian Hipertensi dengan Prinsip PATUH
Agar tekanan darah tetap stabil dan risiko komplikasi bisa dicegah, lansia dan keluarganya perlu menerapkan prinsip PATUH. Berikut adalah prinsip PATUH:
P: Periksa Kesehatan secara rutin dan ikuti anjuran dokter
Pemantauan tekanan darah secara berkala penting untuk memantau perubahan dan respons terhadap pengobatan
A: Atasi penyakit dengan pengobatan yang tepat dan teratur
Minum obat sesuai aturan dan tidak menghentikan pengobatan tanpa konsultasi, karena disiplin dalam minum obat membantu menjaga tekanan darah tetap terkontrol.
T: Tetap diet dengan gizi seimbang
Penerapan pola makan sehat penting dalam mengendalikan hipertensi. Konsumsi makanan rendah garam, rendah lemak jenuh, dan tinggi serat seperti buah dan sayuran dapat membantu menstabilkan tekanan darah.
U: Upayakan aktivitas fisik dengan aman
Aktivitas ringan seperti jalan kaki, senam lansia, atau peregangan dapat meningkatkan sirkulasi darah dan menjaga kesehatan jantung, namun tetap disesuaikan dengan kemampuan tubuh.
H: Hindari asap rokok, alkohol, dan zat karsinogenik lainnya
Zat berbahaya pada rokok seperti nikotin dan karbon monoksida dapat menyebabkan penyempitan dan merusak pembuluh darah. Oleh karena itu, menghindari asap rokok dan zat karsinogenik merupakan langkah penting dalam mengendalikan hipertensi.
Diet DASH
Diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) bertujuan untuk menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi. Diet DASH dapat menurunkan tekanan darah 8 – 14 mmHg. Diet DASH adalah diet yang menyarankan konsumsi makanan rendah lemak jenuh, kolesterol, dan lemak total, serta meningkatkan konsumsi buah dan sayur dengan jumlah porsi 4-5 porsi/hari, produk susu tanpa atau rendah lemak, gandum utuh, dan kacang-kacangan.
Syarat dan Prinsip Diet DASH
- Energi cukup, jika berat badan 115% dari BB ideal disarankan untuk diet rendah kalori dan olahraga.
- Protein, karbohidrat, dan lemak cukup. Batasi konsumsi lemak jenuh dan kolesterol.
- Asupan natrium dibatasi <2300 mg/hari, jika penurunan tekanan darah belum tercapai batasi hingga 1500 mg/hari
- Konsumsi kalium 4700 mg/hari
- Kalsium >800 mg/hari
- Jika memiliki penyakit penyerta seperti penyakit ginjal kronik atau sirosis hati, maka syarat dan prinsip diet dimodifikasi sesuai dengan kondisi penyakit.
Bahan Makanan yang dianjurkan dan Tidak dianjurkan
1. Makanan yang Dianjurkan
Untuk mengontrol tekanan darah, dianjurkan mengonsumsi makanan yang alami dan segar. Berikut contoh makanan yang dianjurkan:
- Karbohidrat: gandum utuh, oat, beras, kentang, singkong
- Protein hewani: Ikan, daging ungags tanpa kulit, telur maksimal 1 btr/hari
- Protein nabati: Kacang-kacangan segar
- Sayuran: Semua sayuran segar
- Buah-buahan: Semua buah segar
- Lemak: Minyak kelapa sawit, margarin dan mentega tanpa garam
- Minuman: Teh dan jus buah dengan pembatasan gula, air putih, susu rendah lemak
- Bumbu: Rempah-rempah, bumbu segar, garam dapur dengan penggunaan yang terbatas
2. Makanan yang Tidak Dianjurkan
Beberapa jenis makanan dapat memperburuk kondisi hipertensi jika dikonsumsi berlebihan. Makanan tersebut umumnya tingga garam, lemak jenuh dan mengandung pengawet seperti:
- Makanan yang diawetkan: ikan asin, dendeng
- Makanan kalengan: sarden, kornet, buah dan sayur kaleng
- Makanan cepat saji dan kemasan: mi instan, nugget, sosis
- Asinan dan manisan
- Bumbu instan, saus, kecap, mayonnaise, dan vetsin
Hipertensi pada lansia dapat dicegah komplikasinya dengan menerapkan prinsip PATUH, diet DASH, dan pemilihan bahan makanan yang tepat. Dukungan keluarga dan tenaga kesehatan juga diperlukan agar lansia dapat menjalani pola hidup sehat dan berkualitas.
Keluarga berperan penting dalam memotivasi lansia untuk rutin minum obat, menerapkan pola makan yang sehat, melakukan aktivitas fisik, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur. Selain itu, lingkungan keluarga yang suportif dapat membantu lansia merasa lebih nyaman dan termotivasi dalam menjaga kesehatannya.
Penulis: Mutiara Irmansyah, S.Gz
Mahasiswa Pendidikan Profesi Dietisien, Universitas Esa Unggul
Referensi
Kementerian Kesehatan. 2022. Kendalikan Hipertensi dengan gerakan PATUH. https://ayosehat.kemkes.go.id/kendalikan-hipertensi-dengan-gerakan-patuh
Mutmainnah, B., Djalal, D., & Suyuti, A. (2021). Edukasi Bahaya Hipertensi, “The Silent Killer” dan Cara Pemeriksaan Tekanan Darah pada Mahasiswa FIK UNM. Seminar Nasiolnal 2021: Prosiding Edisi 3.
Oktarina, A., & Ayu, M. S. (2024). Analisis Faktor Risiko Kejadian Hipertensi di Puskesmas Amplas Kota Medan. Ibnu Sina: Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan-Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara, 23(2).
Persagi & AsDI. 2019. Penuntun Diet dan Terapi Gizi, Edisi 4. Jakarta: EGC
Kementerian Kesehatan. (2023). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023 Dalam Angka.
WHO. (2023). Hypertension. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hypertension
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
- Penulis: Salwa Alifah Yusrina

Saat ini belum ada komentar