Luka yang Tak Terlihat: Mikroagresi dan Dampaknya terhadap Kesejahteraan Psikologis
- account_circle tentangsehatcom
- calendar_month 0 menit yang lalu
- visibility 1
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi Mikroagresi
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ketika Candaan Menjadi Luka yang Tidak Disadari
“Logatmu lucu sekali. Memangnya di daerahmu semua orang bicara begitu?” Kalimat seperti ini mudah ditemukan dalam pergaulan maupun kolom komentar media sosial.
Sebagian orang menganggapnya candaan, tetapi bagi orang yang bahasa daerahnya dipermainkan, ucapan itu bisa menyampaikan pesan bahwa identitasnya aneh atau lebih rendah.
Apalagi ketika komentar serupa terus berulang dan disaksikan banyak orang.
Persoalan tersebut tercermin dalam tulisan Fina Dahat (2025) mengenai konten TikTok masyarakat Manggarai, Nusa Tenggara Timur.
Ia menggambarkan bagaimana video yang menampilkan logat, kebiasaan, dan kreativitas warga mendapat tanggapan berupa ejekan, sindiran, bahkan penghinaan, termasuk antarsesama warga Manggarai.
Tulisan itu merupakan pengamatan sosial, bukan penelitian mengenai kondisi mental para kreator.
Namun, kasusnya mengingatkan kita bahwa ruang digital yang tampaknya penuh humor juga dapat menjadi tempat berkembangnya prasangka.
Di manakah batas antara bercanda dan merendahkan?
Mikroagresi: Diskriminasi yang Sering Tidak Disadari
Psikolog Derald Wing Sue dan rekan-rekannya (2007) menyebut mikroagresi sebagai pesan verbal, perilaku, atau isyarat lingkungan sehari-hari yang menyampaikan penghinaan terhadap identitas rasial seseorang, baik disengaja maupun tidak.
Sue dan Spanierman (2020) kemudian membahas bentuknya secara lebih luas, termasuk yang berkaitan dengan identitas sosial lain.
Mikroagresi tidak harus terdengar kasar.
Ucapan “Kamu dari desa, tetapi ternyata pintar,” misalnya, mengandung anggapan tersirat bahwa orang desa biasanya tidak pintar.
Sue et al. (2007) membedakan tiga bentuk mikroagresi.
Microassault merupakan tindakan diskriminatif yang disengaja; microinsult adalah pesan merendahkan yang sering terselubung sebagai komentar biasa; sedangkan microinvalidation terjadi ketika pengalaman diskriminasi seseorang diabaikan atau disangkal.
Jawaban “Jangan terlalu sensitif, cuma bercanda” dapat menjadi bentuk terakhir jika dipakai untuk membungkam orang yang mengalami perlakuan bernuansa stereotip.
Meski begitu, tidak semua lelucon yang kurang menyenangkan otomatis merupakan mikroagresi.
Konteks, hubungan antarpihak, serta pesan tentang identitas sosial perlu dipertimbangkan.
Penghinaan terbuka dan perundungan daring juga tidak selalu sama dengan mikroagresi.
Sudahkah Kita Menyadari Kehidupan Multikultural?
Indonesia adalah rumah bagi keragaman bahasa, agama, suku, tradisi, dan kondisi sosial.
Kita hidup berdampingan dengan perbedaan di sekolah, kantor, pasar, komunitas, maupun internet.
Namun, apakah hidup di tengah masyarakat multikultural berarti kita sudah memahami satu sama lain? Belum tentu.
Mengetahui bahwa seseorang berasal dari budaya berbeda tidak sama dengan memahami bagaimana identitas budaya membentuk pengalaman dan perasaannya.
Dalam psikologi, pendekatan multikultural mengajak kita memahami manusia melalui konteks budaya, pengalaman sosial, dan hubungan kekuasaan yang memengaruhi kehidupannya.
American Psychological Association (2017) menekankan pentingnya melihat identitas sebagai sesuatu yang berlapis dan saling beririsan.
Seseorang bukan hanya anggota satu suku; ia juga memiliki bahasa, keyakinan, gender, dan pengalaman sosial yang membentuk cara dirinya diperlakukan.
Karena itu, satu komentar dapat terasa biasa bagi penuturnya, tetapi mengingatkan pendengarnya pada pengalaman diremehkan selama bertahun-tahun.
Kesadaran multikultural berarti memahami bahwa identitas tidak menentukan kemampuan atau karakter seseorang.
Kita boleh bangga terhadap budaya sendiri tanpa menganggap budaya lain lebih buruk.
Persoalan muncul ketika perbedaan menjadi hierarki: kelompok tertentu dianggap lebih pantas dihormati daripada kelompok lainnya.
Penelitian Irawan (2022) terhadap 500 siswa dari lima sekolah di Samarinda mencatat pengalaman mikroagresi di antara kelompok subkultur Bugis, Kutai, Jawa, Dayak, dan Banjar, meskipun intensitasnya rendah.
Temuan ini memperlihatkan bahwa masyarakat yang beragam tetap perlu mengembangkan kepekaan sosial.
Cobalah bertanya kepada diri sendiri: pernahkah kita menirukan logat teman untuk mengundang tawa, menganggap suatu kelompok kurang terdidik, atau menolak mendengar ketika seseorang menyatakan keberatan?
Refleksi ini bukan untuk mencari siapa yang salah, melainkan mengenali prasangka yang mungkin terbawa dalam kebiasaan sehari-hari.
Baca Juga: Generasi Scroll: Antara Koneksi Digital dan Kerapuhan Mental
Luka yang Tidak Terlihat: Dampaknya terhadap Kesejahteraan Psikologis
Mengapa komentar kecil perlu diperhatikan? Karena pengalaman yang berulang dapat mengikis rasa aman.
Orang yang terus diejek karena logatnya mungkin memilih diam dalam diskusi.
Mereka yang dipandang asing karena budayanya bisa merasa harus menyembunyikan kebiasaan keluarga agar diterima.
Tekanan semacam ini berpotensi memunculkan kecemasan, stres, rasa terasing, dan keraguan terhadap diri sendiri.
Bukan berarti identitas seseorang pasti hilang, melainkan ia dapat merasa tidak leluasa mengekspresikannya.
Penelitian Nadal et al. (2014) terhadap 506 partisipan menemukan bahwa frekuensi mikroagresi rasial yang lebih tinggi berkaitan dengan kondisi kesehatan mental yang lebih buruk, termasuk gejala depresi dan perasaan negatif.
Meta-analisis Lui dan Quezada (2019), yang merangkum 72 sampel penelitian dengan total 18.718 partisipan, juga menemukan hubungan antara mikroagresi dan masalah penyesuaian psikologis, terutama stres serta gejala yang terarah ke dalam diri.
Bukti lebih luas datang dari Costa et al. (2023): analisis 141 artikel dengan 154 sampel menunjukkan hubungan negatif antara pengalaman mikroagresi dan kesejahteraan psikologis.
Kesejahteraan psikologis bukan sekadar tidak merasa sedih.
Menurut Ryff (1989), konsep ini mencakup penerimaan diri, hubungan positif, otonomi, penguasaan lingkungan, tujuan hidup, dan pertumbuhan pribadi.
Saat seseorang terus merasa identitasnya dipertanyakan, penerimaan diri dan kualitas hubungan sosial dapat terancam.
Penelitian Sarsar et al. (2023) terhadap 139 mahasiswa kulit hitam dan Latinx memperlihatkan bahwa peningkatan mikroagresi dari minggu ke minggu berkaitan dengan melemahnya rasa memiliki terhadap teman sebaya.
Meski demikian, hubungan statistik tidak berarti setiap komentar otomatis menyebabkan gangguan mental.
Dampaknya dipengaruhi frekuensi, konteks, dukungan sosial, dan pengalaman individu.
Sebagian penelitian tersebut dilakukan di luar Indonesia sehingga hasilnya tidak dapat dianggap mewakili seluruh masyarakat kita.
Namun, temuan itu memberi alasan ilmiah untuk memperhatikan pengalaman yang sering dianggap sepele.
Hubungan statistik pun tidak boleh disederhanakan menjadi kepastian sebab akibat.
Membangun Kesadaran Multikultural Dimulai dari Diri Sendiri
Lantas, apa yang bisa dilakukan? Pertama, latih kebiasaan memeriksa stereotip sebelum berbicara.
Alih-alih menilai kecerdasan atau karakter dari daerah asal, kenali seseorang melalui pengalaman dan tindakannya.
Devine et al. (2012) menunjukkan bahwa intervensi yang menggabungkan kesadaran terhadap prasangka dan strategi mengubah kebiasaan dapat menurunkan bias rasial implisit.
Temuan ini tidak langsung mengukur mikroagresi, tetapi mendukung pentingnya refleksi dan latihan yang konsisten.
Kedua, dengarkan ketika seseorang merasa direndahkan.
Kita boleh menjelaskan maksud ucapan, tetapi jangan menjadikan niat baik sebagai alasan untuk menolak dampaknya. Jika keliru, akui dan perbaiki.
Ketiga, jangan menjadi penonton pasif.
Di media sosial, berhentilah menyebarkan ejekan; dalam percakapan, kita dapat mengalihkan pembicaraan atau menyampaikan keberatan dengan tenang.
Penelitian Ballal et al. (2025) menemukan bahwa pelatihan bagi saksi mikroagresi meningkatkan kepercayaan diri mereka untuk melakukan intervensi.
Sekolah, tempat kerja, dan komunitas dapat menerapkan dialog lintas budaya, pendidikan literasi digital, serta mekanisme pelaporan yang aman.
Bagi orang yang mengalami mikroagresi, dukungan teman, keluarga, guru, atau konselor dapat membantu mengurangi rasa sendirian.
Menyimpan bukti komentar dan memakai fitur lapor atau blokir juga berguna ketika kejadian berlangsung di internet.
Tanggung jawab memperbaiki lingkungan tetap berada pada pelaku dan komunitas, bukan semata pada orang yang menjadi sasaran.
Ini penting ketika komentar berulang dan membuat seseorang takut kembali berinteraksi secara terbuka.
Berbeda Seharusnya Menjadi Ruang untuk Saling Menghargai
Pada akhirnya, menghargai keberagaman berarti lebih dari sekadar mengakui bahwa orang lain berbeda.
Kita juga perlu memastikan bahwa perbedaan itu tidak dijadikan alasan untuk mengecilkan martabat mereka.
Sebelum mengirim komentar atau melontarkan candaan, tanyakan: apakah orang yang mendengarnya ikut merasa dihargai?
Sebab, luka psikologis tidak selalu terlihat, dan tawa orang lain belum tentu berarti ia tidak terluka.
Penulis: Gesya Arsih Windhani
Mahasiswa Magister Sains Psikologi, Soegijapranata Catholic University
Editor: Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
- American Psychological Association. (2017). Multicultural guidelines: An ecological approach to context, identity, and intersectionality. https://www.apa.org/pi/multiculturalguidelines.pdf
- Ballal, S. A., Newman, L. R., Spencer, D. J., Melvin, P., Luff, D., Gómez, E., Leichtner, A. M., Irish, J., Brown, S. D., & Ward, V. L. (2025). From bystander-to-upstander: A novel intervention framework to address microaggressions in a pediatric academic medical center. Academic Pediatrics, 25(7), Article 102630. https://doi.org/10.1016/j.acap.2024.102630
- Costa, P. L., McDuffie, J. W., Brown, S. E. V., He, Y., Ikner, B. N., Sabat, I. E., & Miner, K. N. (2023). Microaggressions: Mega problems or micro issues? A meta-analysis. Journal of Community Psychology, 51(1), 137–153. https://doi.org/10.1002/jcop.22885
- Dahat, F. (2025, 27 Oktober). Dari suka jadi luka: Fenomena cyberbullying antar masyarakat Manggarai di TikTok. Indonesia Surya. https://www.indonesiasurya.com/dari-suka-jadi-luka-fenomena-cyberbullying-antar-masyarakat-manggarai-di-tiktok
- Devine, P. G., Forscher, P. S., Austin, A. J., & Cox, W. T. L. (2012). Long-term reduction in implicit race bias: A prejudice habit-breaking intervention. Journal of Experimental Social Psychology, 48(6), 1267–1278. https://doi.org/10.1016/j.jesp.2012.06.003
- Irawan, A. W. (2022). Microaggressions of high school students in terms of subcultures in Samarinda City. JOMSIGN: Journal of Multicultural Studies in Guidance and Counseling, 6(2), 162–182. https://doi.org/10.17509/jomsign.v6i2.46574
- Lui, P. P., & Quezada, L. (2019). Associations between microaggression and adjustment outcomes: A meta-analytic and narrative review. Psychological Bulletin, 145(1), 45–78. https://doi.org/10.1037/bul0000172
- Nadal, K. L., Griffin, K. E., Wong, Y., Hamit, S., & Rasmus, M. (2014). The impact of racial microaggressions on mental health: Counseling implications for clients of color. Journal of Counseling & Development, 92(1), 57–66. https://doi.org/10.1002/j.1556-6676.2014.00130.x
- Ryff, C. D. (1989). Happiness is everything, or is it? Explorations on the meaning of psychological well-being. Journal of Personality and Social Psychology, 57(6), 1069–1081. https://doi.org/10.1037/0022-3514.57.6.1069
- Sarsar, E. D., Zeiders, K. H., Landor, A. M., & Brown, A. M. (2023). The role of racial microaggressions and ethnic racial identity affirmation on sense of belonging among Black and Latinx college students. Emerging Adulthood, 11(6), 1394–1408. https://doi.org/10.1177/21676968231194378
- Sue, D. W., Capodilupo, C. M., Torino, G. C., Bucceri, J. M., Holder, A. M. B., Nadal, K. L., & Esquilin, M. (2007). Racial microaggressions in everyday life: Implications for clinical practice. American Psychologist, 62(4), 271–286. https://doi.org/10.1037/0003-066X.62.4.271
- Sue, D. W., & Spanierman, L. B. (2020). Microaggressions in everyday life (2nd ed.). Wiley.
- Penulis: tentangsehatcom

Saat ini belum ada komentar