Generasi Scroll: Antara Koneksi Digital dan Kerapuhan Mental
- account_circle TentangSehat.com
- calendar_month 1 menit yang lalu
- visibility 3
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ilustrasi Generasi Scroll (Sumber: TentangSehat)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Saat ini, hampir semua aktivitas manusia tidak bisa lepas dari ponsel dan media sosial. Coba bayangkan bangun tidur membuka Instagram, sebelum tidur scroll TikTok, bahkan ketika berkumpul dengan teman pun masih sibuk dengan layar ponsel.
Bahkan media sosial pun dijadikan sebagai tempat adu flexing, setiap unggahan harus terkesan bergaya hanya untuk mendapatkan attention orang lain. Ini adalah ironi dari generasi yang terus meng-scrolling: semakin terhubung secara daring, semakin banyak dampak yang diperoleh. Kebiasaan ini sudah menjadi bagian dari kehidupan generasi muda sekarang yang sangat buruk pastinya.
Kemajuan teknologi memang memberikan banyak kemudahan, mulai dari mencari informasi, berkomunikasi, hingga hiburan. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul masalah yang sering tidak disadari, yaitu kesehatan mental yang semakin rentan akibat penggunaan media sosial yang berlebihan. Media sosial yang seharusnya menjadi tempat untuk mengekspresikan diri, perlahan berubah menjadi tempat yang sangat mengerikan.
Media sosial memang membuat manusia terasa lebih dekat. Seseorang bisa berbicara dengan orang lain yang berada di tempat jauh hanya dalam hitungan detik.
Berdasarkan laporan We Are Social tahun 2025, rata-rata masyarakat menghabiskan waktu lebih dari enam jam sehari di internet. Sebagian besar waktunya digunakan untuk membuka media sosial. Akan tetapi, hubungan yang terjalin di dunia digital sering kali hanya sebatas interaksi singkat. Banyak orang aktif mengunggah cerita atau foto, tetapi sebenarnya merasa kesepian.
Tidak sedikit remaja yang merasa cemas jika unggahannya tidak mendapatkan banyak respons. Hal tersebut menunjukkan bahwa media sosial perlahan membuat sebagian orang menggantungkan rasa percaya dirinya pada penilaian orang lain.
Namun, kedekatan yang tercipta di media sosial sebenarnya tidak selalu benar-benar membuat orang merasa dekat. Banyak interaksi yang terjadi hanya sebatas melihat story, memberi likes, atau meninggalkan komentar singkat.
Sekilas terlihat ramai, tetapi sering kali terasa kosong. Ada orang yang terlihat aktif di media sosial, sering mengunggah foto, bercanda di kolom komentar, atau ikut tren terbaru, tetapi di kehidupan nyata justru merasa kesepian. Hal ini terjadi karena di dunia digital terkadang hanya sebatas tampilan luar dan tidak benar-benar menampilkan kejadian yang sebenarnya.
Selain itu, muncul juga kebiasaan yang sekarang dikenal dengan istilah doom scrolling. Ini adalah kebiasaan terus menggulir media sosial untuk melihat berita buruk, konflik, gosip, atau konten yang sebenarnya membuat pikiran makin lelah.
Ironisnya, banyak orang sadar bahwa konten tersebut membuat cemas, tetapi tetap saja terus menonton. Kadang niat awal hanya membuka media sosial lima menit, tetapi tiba-tiba sudah satu jam melihat berita negatif tanpa henti. Kebiasaan seperti ini perlahan membuat pikiran penuh, gampang overthinking, dan merasa dunia selalu dipenuhi hal buruk.
Belum lagi ditambah konten tentang kehidupan orang lain yang terlihat sempurna. Ada yang pamer pencapaian, liburan, barang mahal, atau hubungan yang terlihat ideal. Tanpa sadar, banyak orang akhirnya membandingkan hidupnya sendiri dengan apa yang dilihat di layar.
Padahal media sosial hanyalah potongan kecil dari kehidupan seseorang, bukan kenyataan sepenuhnya. World Health Organization (WHO) bahkan mencatat bahwa masalah kesehatan mental pada remaja terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, dan penggunaan media digital yang berlebihan menjadi salah satu penyebabnya.
Menurut saya, media sosial sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya buruk. Media sosial tetap memiliki manfaat besar jika digunakan dengan benar. Banyak orang bisa belajar hal baru, membangun usaha, bahkan mendapatkan pekerjaan melalui internet. Namun, generasi muda perlu memahami bahwa kehidupan nyata jauh lebih penting dibanding kehidupan digital.
Mengurangi waktu bermain media sosial, memperbanyak interaksi langsung, dan lebih fokus pada diri sendiri bisa menjadi langkah sederhana untuk menjaga kesehatan mental. Selain itu, lingkungan keluarga dan perkuliahan juga perlu memberikan pemahaman tentang pentingnya penggunaan media sosial secara sehat.
Kesimpulannya, generasi saat ini hidup di era digital yang serba cepat dan praktis. Media sosial mampu menghubungkan banyak orang, tetapi juga dapat membuat mental menjadi rapuh apabila digunakan tanpa batas.
Oleh karena itu, keseimbangan antara dunia nyata dan dunia digital sangat penting untuk dijaga. Teknologi seharusnya membantu kehidupan manusia, bukan malah membuat penggunanya kehilangan rasa tenang dan percaya diri.
Penulis: Sulton Ghani Saputra
Mahasiswa Universitas Islam Indonesia
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
- Penulis: TentangSehat.com

Saat ini belum ada komentar